Carl Yuan mengincar prestasi pada Korn Ferry Tour sebagai bagian dari upayanya bermain di level yang lebih tinggi lagi, PGA TOUR.

Setelah menjalani jeda selama empat bulan, bintang baru dari China Carl Yuan, kini sudah tak sabar untuk melakukan pukulan golf pertamanya dalam sebuah turnamen. Kesempatan itu ia peroleh dengan dimulainya Korn Ferry Tour pekan ini.

Pegolf berusia 23 tahun ini telah banyak berlatih selama jeda kompetisi yang lalu. Secara fisik kini ia mengaku sudah jauh lebih kuat. Sementara dari segi mental ia juga telah memperbaikinya. Semua itu ia lakoni demi mewujudkan bermain pada PGA TOUR melalui Korn Ferry Tour pada tahun ini. Yang menarik, dalam periode jeda ini ia juga menemukan hobi baru, yaitu memancing, sembari berusaha melalui pandemi COVID-19.

Yuan, yang saat ini berada di peringkat 51 klasemen peraih poin Korn Ferry Tour, harus mengakhiri musim reguler dengan berada di posisi 25 besar pada bulan Agustus mendatang. Itulah tiketnya untuk bisa mendapatkan kartu PGA TOUR. Sebanyak 25 kartu tambahan akan diberikan pada rangkaian penutup Korn Ferry Tour Finals, yaitu seri yang terdiri dari tiga turnamen dan berakhir pada bulan September pada ajang Korn Ferry Tour Championship presented by United Leasing & Finance.

”Saya mengalami jeda kompetisi yang paling panjang,” ujar Yuan, yang kini berdomisili di Lake Mary, Florida. ”Meskipun jedanya panjang, beberapa bulan terakhir membuahkan sesuatu. Sekarang latihan saya menjadi lebih sistematis. Saya meningkatkan kemampuan short game dan swing, dan kebugaran fisik saya juga meningkat. Saya mendapat masukan yang bagus dari pelatih psikologis saya (Howard Falco). Saya perlu melatih diri saya dalam turnamen berikutnya. Yang pertama ialah mendapatkan kartu PGA TOUR dan kedua menjuarai turnamen (Korn Ferry Tour).”

Sejak menembus Korn Ferry Tour melalui PGA TOUR Series-China, yang memberinya dua kemenangan tahun 2018, perlahan tapi pasti, Yuan mengukuhkan posisinya di Amerika. Dalam musim pertamanya dua tahun silam, ia 12 kali gagal lolos cut dari 23 turnamen yang ia mainkan dan hanya bisa sekali finis di sepuluh besar. Permainannya kini lebih konsisten lagi pada tahun 2020. Dari 18 turnamen yang ia ikuti, Yuan berhasil meraih runner-up pada dua turnamen, plus memastikan mendapatkan hadiah uang pada 11 turnamen lainnya.

Ia yakin kekuatan pikiran merupakan sesuatu yang penting. Ia sendiri sudah sanggup memukul sejauh lebih dari 300 meter ke fairway. ”(Aspek pikiran) itu sangat membantu. Awalnya, saya tidak terlalu memperhatikan aspek psikologis. Namun, saya mendapati bahwa aspek ini menjadi bagian dari latihan, dan sangat membantu. Terkadang kami membahas bukunya (Falco), dan bertukar pikiran tentang hal-hal yang tidak terkait dengan golf, namun saya bisa menerapkan tip-tip dan sarannya untuk permainan saya, dan meningkatkan mentalitas saya,” ujar Yuan, yang juga berkuliah pada University of Washington sebelum beralih profesional pada tahun 2018.

”Tour ini sangat kompetitif dan para pemain dari Korn Ferry Tour sangatlah tangguh. Levelnya hampir mendekati para pemain PGA TOUR ….” — Carl Yuan.

”Golf adalah olahraga yang menuntut kesabaran dan ketekunan. Bukan berarti karena Anda meluangkan waktu, Anda akan segera mendapatkan hasil yang bagus.”

Dengan pola pikir seperti ini, ia sudah siap untuk menguji dirinya pada Korn Ferry Tour dengan harapan menjadi pegolf asal China Daratan ketiga yang mendapatkan hak bermain pada PGA TOUR, setelah Marty Dou Zecheng dan Zhang Xinjun. ”Tour ini sangat kompetitif dan para pemain dari Korn Ferry Tour sangatlah tangguh. Levelnya hampir mendekati para pemain PGA TOUR dan tiap hari Anda melihat para pemain yang selalu mendapatkan skor yang rendah.”

Yuan, yang tumbuh di Dalian, mengenal golf ketika berusia 9 tahun berkat pengaruh sang ayah sebelum mereka pindah ke AS saat ia berusia 14 tahun untuk bersekolah di sana. Saat itulah hasratnya untuk olahraga ini berkembang sehingga ia memutuskan golf sebagai karier baginya.

”Pada awalnya, saya hanya merasa senang bermain golf. Saya mendapat pelatih golf untuk mulai belajar golf secara formal ketika berusia 11 tahun dan bermain dalam beberapa turnamen. Namun, saat itu saya tidak berpikir untuk memilih golf sebagai karier. Ketika SMA, saya lebih sering lagi bermain golf dengan harapan golf bisa membantu saya mendapatkan kampus yang bagus. Dari situlah golf menjadi lebih dari sekadar hobi. Awalnya saya juga tidak sadar sesulit apa rasanya mendapatkan penghasilan sebagai pegolf profesional. Dan kini setelah menjadi profesional selama lebih dari dua tahun, saya rasa saya masih tetap belajar.”

Perjalanannya ini juga dibantu oleh sang istri, Luo Ying, yang juga seorang pegolf profesional. Mereka bertemu di kampus dan Yuan menyebut sosok sang istri sebagai pilar penopang mimpinya. ”Dia memahami golf, memahami betapa sulitnya olahraga ini, dan ia memahami saya,” tutur Yuan.

”Selama pandemi, ia bersedia datang ke AS dengan saya dan ia terus menguatkan saya. Saya sangat menghargai dukungannya dan ia juga bisa menunjukkan beberapa problem yang saya hadapi secara sangat objektif. Ada banyak hal di antara kami yang saling kami bagikan dan bahas tentang golf.”