Fenomena para bintang golf muda yang tampil ke panggung dunia mendorong Tiger Woods untuk memberi pengakuan, sekaligus memuji kapasitas mereka, seiring persiapannya memimpin Tim Amerika Serikat berlaga pada Presidents Cup 2019 di Melbourne.

Sekitar setahun yang lalu, Woods menghadapi para jurnalis di media center pada Presidents Cup 2017 di luar Kota New York. Kala itu, ia menyampaikan kekhawatirannya pada masa depan karier golfnya. Ia sama sekali tidak yakin bakal kembali berkompetisi di level tertinggi lagi.

Namun, 14 bulan kemudian, Woods kembali menjadi tajuk utama di seluruh dunia. Kisah kebangkitannya menjadi pertanda kembalinya Sang Tiger Woods ke kancah kompetisi dunia. Usai sudah masa-masa menyakitkan yang membuatnya terpuruk, menyusul empat operasi punggungnya. Dan ia sukses meraih gelar PGA TOUR ke-80 pada bulan Agustus 2018. Ia bahkan sempat bersaing untuk gelar FedExCup, meski akhirnya finis di tempat kedua. Ia juga nyaris menjuarai, setidaknya, dua Major sebelum akhirnya finis T6 dan runner-up pada The Open Championship dan US PGA Championship.

Woods sendiri kemarin melakukan kunjungan dua hari ke Melbourne, Australia, sebagai Kapten Tim AS, sebelum ia membawa skuad terkuatnya ke The Royal Melbourne Golf Club pada Presidents Cup, 9-15 Desember 2019. Perjalanannya ini sendiri menjadi bagian dari rehatnya dari musim pertamanya sejak pulih dari cedera berkepanjangan. Dalam kesempatan itu pulalah ia memuji anggota Tim AS yang didominasi oleh kaum muda. Ia memuji mereka sebagai kelompok yang mendorongnya untuk bisa kembali bangkit.

“Secara mental, mereka memberi kekuatan buat saya. Mereka, semua mereka, benar-benar menyemangati saya untuk bisa kembali dan bermain. Mereka menawarkan macam-macam, mulai dari makan malam, putaran latihan, atau sekadar latihan. Saya akan terbang ke Australia, jadi biarkan saya menjadi bagian dari permainan golf ini lagi. Semua pesan teks dan telepon yang saya terima melalui ajang Presidents Cup, sungguh amat membangkitkan semangat,” tutur Woods.

 

 

Woods menegaskan betapa ia ingin memimpin dan membantu Tim AS melanjutkan dominasinya terhadap Tim Internasional yang akan dipimpin oleh Ernie Els. Tim AS sendiri telah 10 kali memenangkan ajang ini dari 12 penyelenggaraan yang telah dilakukan sejak 1994. Satu-satunya kekalahan yang diderita Tim AS mereka peroleh di Royal Melbourne pada 1998. Sementara satu-satunya hasil imbang terjadi di Afrika Selatan tahun 2003, ketika Woods berduel dengan Els dengan play-off sudden death yang menjelang malam.

“Semoga saja saya bisa menjadi bagian dari delapan pemain yang otomatis masuk tim. Kalaupun tidak, jelas akan tergantung saya, para wakil kapten, dan kedelapan pemain yang langsung jadi bagian dari tim untuk memilih siapa lagi yang akan masuk ke dalam tim, siapa yang bakal cocok untuk grup kami, pasangan kami, dan mereka itulah yang akan jadi bagian dari tim. Seperti itulah diskusi yang saya dan para wakil kapten dan pemain yang akan kami lakukan, dan semoga saja saya bisa menjadi bagian dari delapan orang itu. Kalaupun tidak, kami harus berusaha,” lanjut Woods, yang kini berada di peringkat 16 dari ranking tim.

Selama 26 jam keberadaannya di Melbourne, Woods melakoni berbagai aktivitas bersama media, mengunjungi para sponsor, sekaligus menggalang dana. Ia juga melakukan tur foto di kota yang ia sebut sebagai “kota olahraga terbesar di dunia”.

Woods sempat mendapat tantangan untuk melakukan putting berjarak 6 kaki di Eureka Tower Skydeck berlantai 88. Ketika ia mengayunkan putter-nya, lantai di bawahnya mendadak menjadi transparan, menampilkan kota yang ramai di bawahnya.

“Saya sudah terlalu sering naik-turun pesawat, jadi hal seperti ini tak mengusik saya,” tuturnya tenang.

 

Tiger Woods berpose di depan grafiti bergaya khas Melbourne yang menampilkan dirinya dan Ernie Els. Foto: PGA TOUR.

Dari sana, Woods berkunjung ke tembok grafiti di mana ia dan Ernie Els dilukis dengan gaya khas Melbourne, sebelum akhirnya berkunjung ke Brighton Beach Boxes. Ia bahkan menyempatkan diri untuk berfoto ketika penggemar dari SD setempat berseru memintanya berfoto.

Sudah tentu Woods juga mengunjungi The Royal Melbourne Golf Club, panggung yang siap menggelar duel akbar itu. Ia bertemu dengan superintendent Richard Forsyth, dan melakukan serangkaian foto dan video, termasuk trick shot dari YouToubers How Ridiculous. Ia juga memberi pelatihan kejutan dengan pegolf muda dari program Golf Australia My Golf. Sementara pada Rabu (5/11) malam ia menikmati santap malam amal dengan Victorian Premier Daniel Andrews. Keduanya berbincang mengenai alasan yang membuat golf di daerah Sandbelt, Australia, menjadi istimewa.

“Bermain di rangkaian lapangan golf di Sandbelt ini jelas merupakan surga,” Woods mengungkapkan pandangannya kepada para hadirin. “Kita berada di salah satu negara, salah satu kota olahraga terbesar di dunia.”

Dengan pengalaman bermain dalam delapan edisi Presidents Cup, Woods meyakini penyelenggaraan tahun depan akan menjadi teramat istimewa baginya.

“Anda semua mungkin tahu kalau saya sudah bermain pada Presidents Cup selama 20 tahun. Sekarang saya berkesempatan menjadi kapten dan memimpin anggota tim saya dalam ajang ini, pengalaman ini akan menjadi pengalaman yang menyenangkan, bakal menjadi pengalaman yang sangat seru, bakal menjadi pengalaman yang menggetarkan, dan yang lebih penting lagi, kami bermain di salah satu lapangan terbaik di seluruh dunia. Sebagai pemain, tentulah tak ada peran yang lebih baik ketimbang menjadi seorang kapten,” tandasnya.

Leave a comment