Edisi ke-148 The Open Championship telah berakhir dengan Park Sanghyun mencatatkan prestasi terbaik bagi Asia.

Meski publik golf Asia harus kembali bersabar untuk melihat wakilnya menjuarai Major, sejumlah catatan menarik diciptakan oleh para wakil Asia yang bermain hingga putaran final di Royal Portrush kemarin (21/7).

Dari total 23 wakil Asia, yang mewakili 6 negara, tampil pada awal penyelenggaraan The Open, hanya tujuh nama yang berhasil melangkah hingga putaran final. Beberapa nama, yang semula diharapkan bisa tampil gemilang justru harus pulang lebih awal.

Hideki Matsuyama, misalnya, harus tersingkir lebih awal setelah hanya bermain 71-74 dalam dua putaran pertama. Di Carnoustie tahun lalu Matsuyama juga gagal bermain hingga hari Minggu. Ini menjadi pertama kalinya pegolf Jepang ini gagal lolos cut dua kali berturut-turut dalam ajang Major sejak 2013. Sejauh ini pencapaian terbaiknya ialah T6 pada 2013.

Mengusung misi untuk meraih Special Temporary Membership PGA TOUR, sekaligus mengamankan tempatnya untuk Tim Internasional Presidents Cup, Li Haotong juga gagal lolos cut setelah bermain 74-72.

Alih-alih Maysuyama dan Li, Park Sanghyunlah yang kini menjadi pemain Asia terbaik pada The Open tahun ini. Pegolf Korea yang memegang dua gelar Asian Tour ini berhasil finis di peringkat T16 setelah pada putaran final mencatatkan skor 73. Ia menorehkan 2-under 282 untuk mencatatkan prestasi terbaiknya dalam dua partisipasinya pada The Open.

” Tak mudah bermain dalam kondisi yang basah dan berangin dan pada umumnya kami tak terbiasa bermain dalam kondisi seperti ini. ” – Park Sanghyun

Runner-up Order of Merit Asian Tour musim 2018 ini menikmati pencapaian istimewanya, yang menempatkannya lebih baik daripada mereka yang sempat menyandang status Champion Golfer of the Year, seperti Louis Oosthuizen, Henrik Stenson, dan Jordan Spieth.

Park mengawali putaran final kemarin dari peringkat T19 dan menuntaskan permainan dengan dua bogey dan sebuah birdie.

“Saya puas bisa membuat Asia dan Korea berbangga. Tak mudah bermain dalam kondisi yang basah dan berangin dan pada umumnya kami tak terbiasa bermain dalam kondisi seperti ini. Tapi saya berhasil mempertahankan permainan sepanjang pekan dan rasanya senang kerja keras ini membuahkan hasil,” ujar Park, yang baru dua kali bermain pada ajang Major dalam 15 tahun karier profesionalnya.

Dalam debutnya bermain pada ajang Major pertama dan tertua di dunia ini, Park gagal lolos cut. Kondisi cuaca dan lingkungan di lapangan links yang berat membuatnya tak sanggup menembus dua putaran final.

Tak ingin sekadar menjadi penggembira pada tahun ini, Park mengondisikan diri dan permainannya dengan tampil pada ajang Dubai Duty Free Irish Open dan Aberdeen Standard Investments Scottish Open, dua pekan berturut-turut sebelum menuju Royal Portrush. Meskipun dalam dua turnamen tersebut ia tak berhasil lolos cut, Park mulai memahami bagaimana bermain di lapangan links.

Kiradech Aphibarnrat menerapkan strategi berbeda untuk mencatatkan skor dan finis terbaiknya selama bermain pada The Open Championship. Foto: Getty Images.

“Dua turnamen itu memberi pengalaman yang sangat bagus. Saya belajar bagaimana bisa memukul bola dengan lebih baik ke arah embusan angin dan pada berbagai aspek dari kontrol bola yang lebih baik,” jelas Park, yang membukukan sebuah eagle, 11 birdie, 9 bogey, dan sebuah double bogey pada sepekan yang lalu.

Sementara itu, bintang asal Thailand yang kini bermain pada PGA TOUR, Kiradech Aphibarnrat berhasil bangkit dan mencatatkan hasil terbaiknya selama bertanding pada The Open Championship. Setelah mendapat skor 77 pada hari ketiga, Juara Order of Merit Asian Tour 2013 ini menorehkan skor terbaiknya selama bermain pada The Open dengan skor 4-under 67.

“Saya bisa bermain sangat baik hari ini (kemarin). Saya menyimpan energi dan bisa bermain menghadapi angin. Ini merupakan salah satu putaran terbaik saya pada The Open.

“Saya belum pernah memiliki catatan yang bagus ketika bermain pada The Open, jadi skor 67 di kartu skor saya sangat menyenangkan. Tugas saya pekan ini sudah selesai dan saya akan mengambil jeda beberapa pekan untuk mengistirahatkan lutut saya,” tutur Kiradech.

Ia sempat mengawali kejuaraan ini dengan bermain 3-under 68 tanpa bogey, namun tak berhasil mengulangi skor tersebut setelah bermain 73 dan 77 dalam dua putaran berikutnya. Tapi pada putaran final itu, ia memperbaiki segalanya dengan membukukan empat birdie, sebuah eagle, dan tiga bogey.

” Ketika angin berembus kencang, Anda perlu memukul lebih halus untuk membantu swing.” – Kiradech Aphibarnrat

“Bermain sambil menahan sakit memang tidak menyenangkan. Saya berusaha memaksa diri sendiri, melakukan swing secara penuh, tapi tidak berjalan dengan baik. Saya berusaha memukul lebih keras, tapi tubuh saya belum sepenuhnya bugar dan siap. Tapi hari ini, saya mengubah strateginya dan memukul bola dengan lebih halus. Ketika angin berembus kencang, Anda perlu memukul lebih halus untuk membantu swing,” tandasnya.

Selain Kiradech, hanya Shubhankar Sharma yang berhasil bermain under pada putaran final kemarin. Pegolf India yang genap berusia 23 tahun itu membukukan skor 68. Sama seperti Park, ajang The Open kali ini merupakan partisipasi kedua baginya. Dan ia tidak ingin meninggalkan kesan yang mengecewakan, terutama pada hari ulang tahunnya.

Kiradech finis di peringkat T32, peringkat terbaiknya selama bermain pada The Open. Posisinya itu juga disamai oleh pegolf Korea An Byeonghun, yang kemarin mengakhiri putaran final dengan skor 75. Bagi An, hasil kali ini masih belum melampaui prestasinya pada tahun 2014, ketika ia finis di peringkat T26.

Enam birdie dan tiga bogey membuatnya mengulangi prestasi tahun lalu ketika finis di peringkat T51. Bedanya, kali ini ia bermain dengan skor 68, skor terbaiknya selama ini, dan membukukan skor total 3-over 287.

“Saya bermain sangat bagus hari ini dan birdie di hole 18 itu membuatnya semakin spesial. Kemarin saya bermain buruk dan bisa kembali bangkit seperti ini rasanya sungguh menyenangkan,” ujar Sharma, yang genap berusia 23 tahun.

Shubhankar Sharma menikmati ulang tahun terbaiknya dengan membukukan skor terbaik pada The Open Championship. Foto: Getty Images.

“Saya tak terbiasa melakukan banyak hal pada hari ulang tahun saya, tapi dua ulang tahun terakhir pada The Open sangatlah spesial. Tahun lalu saya berada di restoran dan semua orang mendadak berdiri dan menyanyikan selamat ulang tahun kepada saya. Dan hari ini, saya tak bisa berharap lebih daripada finis seperti ini,” imbuhnya.

Hasil pekan ini memberinya keyakinan bahwa ia memiliki kemampuan untuk bertanding pada level tertinggi dan bakal siap ketika kembali berlaga pada ajang Major musim depan.

“Golf adalah olahraga yang menuntut Anda untuk yakin bahwa Anda bisa memainkannya. Saya sudah dua kali bermain pada The Open dan saya sangat yakin punya permainan untuk bisa tampil dengan baik. Saya yakin bakal sering mengikuti turnamen ini dan akan main lebih baik lagi,” tandasnya.

Hwang Inchoon asal Korea menutup putaran final dengan skor 73 dan finis di peringkat T41. Pegolf Jepang Yosuke Asaji harus puas dengan finis di posisi T67 dengan skor total 6-over 290, sementara rekan senegaranya Yuki Inamori finis di posisi T72 dengan 9-over 293.

Leave a comment