Untuk kedua kalinya secara berturut-turut, PGA TOUR Series-China harus berakhir hanya dengan 36 hole. Setelah Guangzhou Open, kejadian serupa terpaksa kembali terjadi pada Dongguan Open, yang dimainkan di Mission Hills Dongguan Golf Club, Norman Course.

Wilayah Dongguan harus menerima curah hujan yang sangat tinggi pada hari Kamis (25/7). Akibatnya, putaran pertama turnamen tak kunjung bisa dilangsungkan dan memaksa komite untuk langsung memutuskan bahwa Dongguan Open hanya akan dimainkan sebanyak 54 hole.

Ketika turnamen akhirnya bisa dimainkan pada hari Jumat (26/7), pegolf Singapura Quincy Quek dan pegolf Korea Luke Kwon mencuat ke puncak klasemen dengan bermain 4-under 66. Seakan belajar dari apa yang terjadi pada sepekan sebelumnya, Quek dan Kwon sama-sama sadar bahwa mencatatkan skor rendah pada kesempatan pertama menjadi sangat krusial. Hal ini bisa memberi keuntungan dan bisa saja memastikan kemenangan, seperti yang dialami oleh pegolf Amerika Max McGreevy pekan lalu.

Quek dan Kwon bisa memegang posisi teratas setelah putaran pertama terpaksa tak dapat diselesaikan sepenuhnya. Kondisi cuaca yang sangat buruk sejak Kamis memaksa putaran pertama baru bisa dimainkan pada pukul 09:00 waktu setempat. Akibatnya, hampir separuh dari peserta tak dapat menuntaskan putaran pertama mereka, lantaran permainan harus dihentikan pada pukul 19:04.

Beruntung cuaca pada hari Sabtu (27/7) kemarin membuat turnamen bisa dimainkan sepanjang hari. Hujan tidak lagi turun, tapi cuaca menjadi panas, yang menciptakan tantangan lain bagi para peserta.

Pegolf Amerika, Joey Lane, berhasil meraih sorotan pada akhir hari ketiga itu. Pegolf berusia 24 tahun ini mencatatkan tujuh birdie dalam 26 hole yang harus ia mainkan sepanjang hari. Catatan itu membuatnya mengumpulkan skor total 10-under 130 dan keunggulan empat stroke dari pegolf Kanada Richard Jung dan Masamichi Uehira dari Jepang, sebagai pemain dengan skor terdekat yang berhasil menuntaskan 36 hole pada turnamen ini.

Enam par di enam hole terakhir memupus peluang Yuwa Kosaihira untuk meraih kemenangan, terutama setelah 18 hole putaran final terpaksa tak dapat dimainkan. Foto: PGA TOUR Series-China/Liu Zhuang.

Lane mengaku mendapat motivasi dari permainan rekan senegaranya, David Kocher, yang kerap melakukan putaran latihan bersama. “Jelas ia berusaha untuk finis di lima besar atau bahkan menjuarai Order of Merit, jadi dia punya target yang tinggi dan saya pikir hal itu bagus juga buat saya dan memberi motivasi yang bagus buat saya,” ujarnya.

Ketika hari ketiga itu terpaksa ditutup lagi dengan hampir separuh pemain yang menuntaskan dua putaran resmi, panitia mengumumkan bahwa putaran kedua bakal dimainkan pukul 07:45, dan putaran ketiga sekaligus putaran ketiga dimainkan sekitar 11:30.

Namun, siapa yang mengira bahwa cuaca kembali berubah pada hari Minggu (28/7). Kondisi yang berubah ini membuat putaran final akhirnya tak dapat dimainkan sehingga sekali lagi sang juara ditentukan hanya dalam 36 hole, yang berarti Joey Lane akhirnya meraih kemenangan profesional pertamanya pada PGA TOUR Series-China.

Hampir separuh peserta harus menuntaskan putaran kedua mereka pada hari itu, namun Lane akhirnya tak perlu memainkan satu hole pun lantaran kondisi cuaca tak lagi memungkinkan permainan berlanjut hingga 54 hole.

Pegolf Jepang Yuwa Kosaihira menjadi satu-satunya pemain yang berpeluang menyalip Lane. Ia hanya berjarak tiga stroke dan menyisakan enam hole lagi untuk menuntaskan putaran keduanya. Sayangnya, ia gagal menambah catatan birdie-nya lantaran hanya bisa bermain even par di enam hole terakhir itu.

Meskipun menjadi juara 36 hole kedua musim ini, kemenangan Lane itu terbilang sangat layak. Pasalnya, ia mencatatkan skor fenomenal 8-under 62 ketika menuntaskan putaran pertama. Ia kemudian bermain 68 pada putaran keduanya, yang membuatnya mencatatkan skor 10-under 130. Dan ia lekas menyebut skor 62 miliknya itu sebagai kuncinya.

David Kocher (kiri) berperan membawa Joey Lane untuk bertualang ke China dan kini Lane berstatus juara pada PGA TOUR Series-China. Foto: PGA TOUR Series-China/Liu Zhuang.

“Ini lapangan yang sulit dan ada beberapa posisi pin yang sulit. Mungkin itulah putaran terbaik yang pernah saya mainkan,” ujar Lane. “Saya nyaris memasukkan semua bola dari jarak kurang dari sepuluh kaki, jadi putaran itu menjadi putaran yang sangat hebat dan sesuatu yang hanya terjadi sesekali.”

Kemenangan ini menjadi mengesankan baginya lantaran inilah tahun pertamanya bermain di China. Keputusannya menuju ke China pun tak lepas dari anjuran Kocher, yang masih mempertahankan tempat ketiga pada Order of Merit setelah finis T7 pekan ini. Lane sendiri memperbaiki peringkatnya, melambung 22 tempat dan kini berada di peringkat 8 dan berpeluang menembus lima besar.

Kemenangan ini sendiri menjadi sesuatu yang tak jauh darinya, mengingat performanya memang mulai bagus. Meski pada paruh pertama musim ini ia cenderung jarang terdengar, Lane melanjutkan finis 18 di Suzhou dengan T7 di Huangshan, lalu meraih kemenangan perdananya pekan ini.

“Rasanya luar biasa. ini gelar profesional saya di Tour mana pun, dan PGA TOUR Series-China merupakan Tour terbaik yang saya mainkan, jadi ini pekan yang luar biasa,” iujar Lane yang mulai memikirkan bermain pada Korn Ferry Tour untuk musim 2020.

“Finis di sepuluh besar (Order of Merit) menjadi target saya tahun ini, jadi bisa bertahan di sepuluh besar bakal bagus. Tentu saja saya mulai memikirkan finsi di lima besar dan dengan empat turnamen tersisa, saya berharap bisa main bagus dan memperbaiki peringkat.”

Leave a comment