Menyuguhkan permainan nyaris sempurna, Tirawat Kaewsiribandit mencatatkan pekan berkesan di Karachi Golf Club dengan menjuarai UMA CNS Open Golf Championship kemarin (14/10). Pegolf berusia 28 tahun ini bermain tanpa bogey pada putaran final untuk mengumpulkan skor total 12-under 276.

Kemenangan Tirawat ini sekaligus memantapkan dominasi para pegolf Thailand di Pakistan. Sepanjang pekan kemarin, para pegolf Thailand terus mendominasi jajaran atas klasemen. Pada akhir putaran final, dari 11 pemain yang finis di jajaran delapan besar, 5 di antaranya merupakan pemain Thailand. Bahkan di bawah Tirawat, Jakraphan Premsirigorn dan Namchok Tantipokhakul menempati peringkat kedua.

Sebelum turun di Pakistan, Tirawat telah turun dalam 18 turnamen Asian Tour, namun hanya bisa lolos cut enam kali. Maka ketika ia berhasil bermain tanpa bogey dan menorehkan birdie di hole 3, 8, dan 11, ia mengubah peruntungannya untuk pertama kalinya sejak meraih keanggotaan penuh pada Asian Tour tahun lalu.

“Saya sangat gembira dengan kemenangan saya, ini gelar pertama pada Asian Tour,” ujar Tirawat yang harus bermain dengan cedera di punggung bagian bawahnya sepanjang tahun ini. “Saya mulai berlatih untuk menambah kekuatan dan kondisi (tubuh) dan latihan itu sangat bermanfaat. Saya kini bermain tanpa cedera dan tanpa mengalami sakit, dan itulah yang membuat saya lebih menikmati permainan golf saya.”

Berada dalam posisi bersain untuk menjadi juara jelas memberi tekanan. Tapi bermain bersama rekan senegaranya, ternyata membuat Tirawat berhasil mengatasi tekanan.

“Ini turnamen pertama di mana saya bisa main bagus. Sebelumnya, saya enam kali gagal lolos cut.” – Jakraphan Premsirigorn

“Kami bisa mengobrol dengan bahasa yang sama. Saya berkata pada diri saya kalau saya bermaksud memenangkan turnamen, dan kini saya melakukannya,” ujar Tirawat.

Rekan senegaranya, Jakraphan Premsirigorn sempat memberikan ancaman ketika memulai putaran final itu dengan sebuah birdie. Ia masih terus menempel ketat Tirawat sampai akhirnya mendapat double bogey di hole 13. Ia seolah terlempar dari persaingan, namun segera bangkit dan menorehkan birdie di hole 16. Bahkan ia berpeluang memaksakan play-off kalau saja bisa mendapatkan birdie di hole terakhir.

“Saya bisa bangkit dari double bogey dengan birdie di hole 16, dan menuju hole 18, target saya ialah menempatkan bola ke green,” ujar Jakraphan. “Tapi secara keseluruhan, saya puas dengan perkembangan saya. Ini turnamen pertama di mana saya bisa main bagus. Sebelumnya, saya enam kali gagal lolos cut.”

Meskipun tidak menang, Jakraphan mengaku mendapat kepercayaan diri untuk bisa mempertahankan kartu Asian Tour dan memastikan dirinya bisa berada di 60 besar pada Habitat for Humanity Standings.

“Saya siap untuk berkompetisi dan berusaha untuk bermain sebaik mungkin untuk menembus kualifikasi Asian Tour tahun depan.” Muhammad Munir finis di tempat keempat setelah bermain 10-under 280. Foto: Asian Tour.

Muhammad Munir menjadi pegolf tuan rumah yang paling berhasil pada pekan tersebut. Bermain 4-under 68 pada putaran final, ia mengumpulkan skor total 10-under 278 untuk berada sendirian di peringkat 4.

“Sungguh luar biasa bisa bermain bersama para pemain Asian Tour. Atmosfer turnamen ini sangatlah bagus dan rasanya luar biasa bisa bermain dalam turnamen ini. Saya sangat senang, terutama pada putaran final,” ujar Munir. “Saya siap untuk berkompetisi dan berusaha untuk bermain sebaik mungkin untuk menembus kualifikasi Asian Tour tahun depan.”

Satu pegolf Pakistan lainnya yang berhasil masuk sepuluh besar ialah Matloob Ahmed. Ia meraih skor yang sama dengan Munir, tapi membukukan skor total 8-under 280 dan finis di peringkat kelima bersama Suradit Yongchareonchai dan Liu Yanwei.

Sementara itu, Danny Masrin yang mengusung bendera Merah Putih akhirnya finis di peringkat T25. Pada putaran final kemarin, ia bermain dengan skor 3-over 75 dan total bermain 288.

Leave a comment