Tim Internasional harus menerima fakta bahwa Tim AS masih lebih unggul dan layak mempertahankan trofi Presidents Cup.

Tim Internasional akhirnya harus menerima kekalahan tipis dari Tim AS dengan skor 14-16 pada ajang Presidents Cup hari ini (15/12). Secara mengagumkan Tim AS menampilkan perlawanan yang sangat historik ketika partai tunggal dimainkan, dipimpin langsung oleh sang kapten, Tiger Woods.

Woods, yang menempatkan dirinya sebagai pembuka duel pada hari keempat di The Royal Melbourne Golf Club, sukses menakulkkan bintang asal Meksiko Abraham Ancer 3&2, sekaligus memupus harapan Ancer untuk menjadi pegolf pertama yang meraih rekor sempurna sejak Shigeki Maruyama apda tahun 1998. Kemenangan Woods ini sekaligus menjadi pembakar semangat bagi seluruh pemain AS untuk memberi kontribusi yang dibutuhkan dalam meraih kemenangan.

Selain memberi poin penting bagi timnya, kemenangan Woods ini melampaui rekor Phil Mickelson sebagai pemain yang meraih kemenangan terbanyak pada ajang Presidents Cup dengan 27 kemenangan dan juga tidak terkalahkan untuk kedua kalinya dalam ajang dua tahunan ini. Tahun ini ia meraih 3 kemenangan, dan meraih 5 kemenangan pada tahun 2009.

Tim Internasional sendiri sempat memegang keunggulan 10-8 ketika memulai partai tunggal, menyusul performa mengagumkan pada sesi Fourball dan Foursome. Sayangnya, mereka masih belum bisa mengatasi ketangguhan Tim AS untuk meraih delapan kemenangan secara berturut-turut dalam delapan tahun terakhir, dengan Matt Kuchar berhasil meraih setengah poin untuk mengimbangi Louis Oosthuizen di partai pamungkas.

Peluang Tim Internasional sebenarnya sempat menyala ketika Im Sungjae mempersembahkan kemenangan mengesankan 4&3 atas Juara U.S. Open Gary Woodland. Kemenangan ini membuatnya mencatatkan debut yang positif dengan memberi kontribusi 3,5 poin bagi timnya.

Sayangnya, Hideki Matsuyama melepas keunggulan 4-up miliknya dalam 10 hole ketika menghadapi Tony Finau. Partai keduanya pun akhirnya berakhir dengan seri. Sementara Li Haotong kemudian harus takluk dari Dustin Johnson dengan skor 4&3. Sedang C.T. Pan akhirnya harus mengalami kekalahan pertamanya ketika takluk 4&2 dari Patrick Reed.

Meski demikian, Els menegaskan betapa bangganya ia terhadap Tim Internasional yang kali ini terdiri dari tujuh pemain debutan.

“Pekan ini sungguh luar biasa. Para pemain menampilkan performa yang luar biasa. Mereka juga sangat terbuka dengan formula yang baru, serta menerima apa yang saya sampaikan kepada mereka. Kami memang kalah 16-14, dan kami harus menerimanya,” ujar sang legenda asal Afrika Selatan ini.

“Tapi kami telah melakukan langkah yang sangat baik, terutama dalam permainan tim kami. Saya rasa permainan tim kami benar-benar menjadi inti dari tim kami, sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kami tak pernah merasa kami bisa bermain dalam sesi Foursome dan Fourball sebagai satu tim. Tapi kali ini kami berhasil melakukannya.

“Saya pikir Tim AS, termasuk para jurnalis, dan seluruh penggemar golf di dunia akan melihat para pegolf internasional ini dengan cara yang berbeda. Jika membandingkan tim kami di atas kertas dengan tim lain dalam olahraga lain, Anda mungkin menertawakan kami. Tapi kami memberi perlawanan habis-habisan dan kami mungkin sangat nyaris menang dan menyulitkan salah satu tim golf terhebat sepanjang masa.”

Els menambahkan bahwa catatan prestasi Tim AS memang sangat mengagumkan. Dengan sejumlah pemain mereka berhasil memenangkan Major, kekuatan secara individu juga terlihat sangat meyakinkan.

“Kami memang memiliki beberapa pemain No.1 dunia, mantan No.1, tapi kami juga memiliki pemain yang baru pertama kali tampil, dan saya yakin masa depan mereka akan sangat cemerlang,” ujar Els.

Perasaan Bercampur di Tubuh Tim Internasional
Wajar jika para anggota Tim Internasional memiliki beragam perasaan. Sejumlah pemain, terutama para pemain debutan berhasil tampil dengan sangat baik, tapi harus menerima kenyataan bahwa mereka harus menelan kekalahan.

PGA TOUR Rookie of the Year 2019 Im Sungjae mungkin mencatatkan hasil yang sangat baik. Ia bahkan berhasil mempersembahkan poin dengan mengalahkan Gary Woodland pada partai tunggal. “Saya benar-benar berusaha sebaik mungkin untuk memberi poin bagi Tim Internasional dan sangat ingin mengalahkan Gary Woodland. Dan saya juga senang bisa mewujudkannya. Pukulan saya benar-benar bagus, terutama waktu pemanasan. Dan saya juga tahu kalau putting saya sedang bagus dan duel itu berakhir dengan baik buat saya. Jadi, saya senang juga dengan hasil tersebut,” ujar Im.

Meskipun melakoni debut yang cemerlang, Im Sungjae menjadi salah satu pemain dalam Tim Internasional yang merasakan kekecewaan atas kekalahan kali ini. Foto: Getty Images.

Sebaliknya, pegolf China pertama yang menjadi anggota Tim Internasional tahun ini, Li Haotong, tak dapat menampilkan performa putting yang tajam dan harus menerima kekalahan dari Dustin Johnson.

“Sebenarnya, saya merasa bermain dengan baik, terutama di sembilan hole terakhir. Ada banyak kesalahan yang saya lakukan di beberapa hole awal dan memberinya kemenangan di beberapa hole. Walau cuma bermain dalam dua partai pekan ini, saya merasa sangat senang. Saya berharap bisa bermain dengan baik lagi dalam kesempatan serupa,” ujar Li.

“Saya pikir ajang ini memberi pengalaman yang sangat baik dan senang bisa menjadi bagian dari tim ini. Saya tak sabar menantikan Presidents Cup berikutnya. Saya masih muda dan perjalanan saya masih panjang. Entah berapa Presidents Cup lagi yang bisa saya ikuti pada masa mendatang. Kesempatan ini jelas masih menjadi sebuah awal buat saya.”

Meskipun berhasil memenangkan dua partai fourball bersama Hideki Matsuyama, C.T. Pan tak dapat membendung permainan Patrick Reed. “Hasil yang kami dapatkan ini memang tidak sesuai dengan yang kami harapkan,” ujar Pan, yang meraih gelar PGA TOUR pertamanya bulan April 2019 ini.

“Tim kami memiliki ikatan yang bagus. Pengalaman tim secara keseluruhan, menjadi bagian dari aktivitas tim, adalah sesuatu yang tak pernah saya alami sebelumnya. Saya harap bisa menjadi bagian dari tim ini lagi.”

Bintang golf Korea lainnya, An Byeonghun, menambahkan bahwa pengalaman ini menjadi pengalaman yang menyenangkan baginya, meskipun harus mengalami kekalahan. “Sangat mengecewakan. Saya tak mengira hasilnya akan seperti ini, sangat mengecewakan memang,” ujar An.