The Metropolitan Golf Club kembali menyuguhkan tantangan berarti bagi 28 negara dan 56 pegolf yang bersaing dalam ajang ISPS Handa Melbourne World Cup of Golf. Hujan, embusan angin, dan kondisi lapangan yang berubah lantaran hujan memaksa seluruh peserta berjibaku untuk menorehkan skor rendah.

Alhasil, pada hari kedua penyelenggaraan ajang akbar ini, hanya ada empat tim yang berhasil melakukan hal tersebut dan hanya dua tim yang bisa bermain even par. Dan salah satu yang sukses bermain under itu ialah Tim Belgia yang dengan demikian berhasil menempatkan negara mereka di puncak klasemen bersama Tim Korea yang hari ini (23/11) bermain even par 72.

Tim Belgia, yang diwakili oleh Thomas Pieters dan Thomas Detry menorehkan skor 1-under 71 untuk mengambil tempat yang ideal dalam upaya menjuarai turnamen yang memperebutkan hadiah sebesar US$7 juta ini.

Pieters dan Detry hari ini benar-benar dipaksa untuk bermain sabar, membukukan par di enam hole pertama mereka dan baru meraih birdie pertama di hole 7. Setelah bogey di hole 8, mereka kembali mendapat birdie di hole 9 untuk 1-under di sembilan hole pertama.

Memasuki sembilan hole kedua, mereka menambah satu birdie lagi di hole 10. Mereka seakan bakal menutup putaran kedua dengan catatan yang positif 2-under, setelah kembali harus puas mendapat par di enam hole berikutnya. Sayangnya, di hole 17, mereka malah mendapat bogey. Namun, par di hole terakhir sudah cukup bagi mereka untuk menanjak ke peringkat atas.

“Saya pikir kami sama-sama bermain dengan baik. Kami tak pernah minta maaf tiap kali melakukan pukulan buruk dan saya pikir hal seperti ini membantu. Dan yang tak kalah bagusnya juga ialah ketika saya memukul hingga tersisa lima kaki dari lubang, saya tahu kalau ia akan memasukkannya.”

“Saya pikir kami mengetahui permainan kami dan saya tahu apa yang menjadi kekuatannya.” – Thomas Detry

Detry menimpali, pengenalan karakter permainan menjadi kunci penting ajang beregu seperti ini.

“Saya pikir kami mengetahui permainan kami dan saya tahu apa yang menjadi kekuatannya (Pieters). Saya tahu di mana saya bisa keliru menempatkan bola, saya tahu di mana dia akan berhasil melakukan up-and-down. Dia juga melakukan pukulan yang sangat bagus dari tee,” ujar Detry menyanjung rekannya.

Kondisi lapangan yang sama berarti tim lain harus benar-benar berjuang. Dan perjuangan An Byeonghun dan Kim Siwoo hari ini ternyata hanya cukup untuk menorehkan even par 72. Mereka mendapat tiga birdie dan tiga bogey. Beruntung tim yang lain tak membukukan hasil yang lebih baik daripada tabungan yang mereka lakukan pada hari pertama ketika mereka menorehkan skor 10-under 62.

Bermain dalam format foursome pada hari kedua, setelah sebelumnya bermain dalam format fourball, bukanlah hal yang mudah bagi Tim Korea.

“Ini format yang sulit dalam kondisi yang hujan dan berangin, jadi saya pikir kami bermain cukup baik. Di sembilan hole terakhir saya melakukan beberapa kesalahan, tapi ia (Kim Siwoo) memiliki short game yang bagus dan bisa melakukan sejumlah putting untuk par,” tutur An Byeonghun.

Adapun pasangan Italia Andrea Pavan dan Renato Pastore berada di posisi yang bagus untuk mengikuti jejak Molinari bersaudar ketika menjuarai ajang ini sembilan tahun yang lalu. Tim Italia menjadi salah satu dari hanya empat tim yang berhasil main under hari ini. Dan pasangan Pavan-Pastore menorehkan empat birdie dengan tiga bogey untuk berada di peringkat tiga bersama Tim India dan Tim Malaysia.

Pavan menyebut kombinasi permainan putter Pastore yang solid dan pukulan iron dirinya yang meyakinkan menjadi kunci permainan mereka pada hari kedua ini.

 

Anirban Lahiri mengakui kondisi cuaca membuatnya dan Gaganjeet Bhullar harus memainkan kondisi yang sulit. Foto: Rolex/Chris Turvey.

 

Kondisi yang brutal pada hari kedua diakui pula oleh Anirban Lahiri, yang bersama Gaganjeet Bhullar mulai menempatkan tim mereka di posisi bersaing. Meski bermain dengan skor 72, seperti halnya Tim Korea, mereka hanya berjarak 2 stroke dari pasangan Pieters-Detry.

Saya pikir ini salah satu putaran terberat yang pernah saya mainkan dalam sepanjang karier saya. Saya pikir kami berdua benar-benar bermain baik di lapangan dan upaya ini benar-benar tidak mudah,” ujar Lahiri yang kini menjadi pemain reguler PGA TOUR.

Bersama Tim Italia dan Tim India, Tim Malaysia kembali menampilkan permainan yang cukup untuk membuat mereka berada dalam jangkauan ke puncak klasemen.

“Angin berembus di mana-mana, lalu dingin, juga basah. Bisa menjaga club kami tetap kering saja sudah bagus. Kalau Anda bilang kami bisa main 1-over, saya bahkan bisa menerima skor 75. Kondisinya sungguh berat. Ben dan saya berhasil berjuang, memasukkan sejumlah putt yang penting, terutama Ben yang berhasil melakukan sejumlah putt yang penting,” tutur Green, yang merupakan pegolf No.1 Asian Tour musim 2017 lalu.

Skor terbaik pada hari kedua ini dibukukan oleh Tim Meksiko. Abraham Ancer dan Roberto Diaz berhasil menorehkan tiga birdie di sembilan hole pertama mereka dan menutup dengan bogey di hole 18. Dengan skor total 7-under 137, pasangan dari Amerika Tengah ini pun untuk sementara berada sendirian di tempat ke-7.

Sementara satu tim lagi yang berhasil main under ialah Tim Skotlandia yang diwakili oleh Russell Knox dan Martin Laird. Keduanya bermain dengan skor 71, dan untuk sementara berada di peringkat T8 bersama Tim Australia. Pasangan Marc Leishman dan Cameron Smith yang sempat memimpin pada hari pertama, harus puas bermain dengan skor 76.

Leave a comment