Tiger Woods membuka peluang mengejar rekor Jack Nicklaus.

Semua seolah sudah digariskan demikian. Dan momen demi momen yang dibangun seakan diciptakan untuk momen pamungkas yang dibutuhkan pada hari Minggu istimewa tersebut.

Pada The Open Championship tahun lalu, ia kembali masuk dalam persaingan meraih gelar, berada di grup terakhir, namun harus puas finis di posisi T6. Lalu pada U.S. PGA Championship tahun yang sama, sekali lagi ia melakukannya. Berada di grup ketiga terakhir, ia meraih posisi runner-up. Kemudian kemenangan itupun terwujud ketika ia menjuarai TOUR Championship, ajang pamungkas PGA TOUR musim 2017-2018 lalu.

Kemenangannya di East Lake tersebut menjadi gelar PGA TOUR ke-80 bagi Tiger Woods, sekaligus yang pertama dalam lima tahun.

Bagi sebagian besar orang, Woods hanya mungkin untuk melampaui pencapaian 82 kemenangan PGA TOUR yang selama ini dipegang oleh Sam Snead. Namun, dengan peta persaingan masa kini, bakal sulit baginya untuk mengejar pencapaian 18 gelar Major Jack Nicklaus.

Lalu datanglah pekan yang sangat dinantikan seluruh penggemar golf dunia. Augusta National Golf Club telah menjadi lapangan favorit bagi Woods bahkan sejak ia masih kecil. Di sinilah ia meraih gelar Major pertamanya, dalam tahun pertama Woods sebagai pegolf profesional. Jelang turnamen Major paling prestisius inilah Woods memberi petunjuk kepada jurnalis dan seluruh dunia bahwa ia memiliki keyakinan bahwa ia bisa memenangkan Jaket Hijau kelima.

“Seluruh turnamen ini memiliki arti yang begitu besar selama bertahun-tahun. Datang ke sini untuk pertama kalinya pada 1995 dan bisa bermain sebagai pemain amatir, memenangkannya pada 1997, dan kemudian mengulanginya lagi 22 tahun kemudian, … itulah yang hari ini terjadi lagi.” – Tiger Woods

“Saya merasa saya bisa menang. Saya sudah membuktikan kalau saya masih bisa menang dan menempatkan diri saya untuk bersaing dalam dua kejuaraan Major tahun lalu. Saya hanya perlu melakukan beberapa hal yang sesuai dengan yang saya harapkan dan tidak menyia-nyiakan pukulan, yang kemudian saya lakukan di East Lake (saat menjuarai TOUR Championship),” ujarnya pada tanggal 9 April lalu.

Bagi Woods, kemenangan ke-80 itu menegaskan kemampuannya untuk kembali menang. “Anda harus melakukannya dulu agar bisa memahami bahwa Anda bisa meraih kemenangan,” tegasnya.

Nike sepertinya membaca tren positif yang Woods ciptakan sejak 2018 lalu. Kemudian mendesain aparel yang mengingatkan publik pada aparel yang ia kenakan ketika memenangkan The Masters pertamanya 22 tahun silam. Meski Woods tidak memberi petunjuk sedikit pun mengenai keputusan ini, faktanya ia meraih kemenangan perdananya di Augusta dengan aparel mock turtleneck. Dan ia juga meraih beberapa kemenangan dengan busana yang serupa.

Namun, seperti itulah struktur bangun momen kemenangan Woods pada hari Minggu kemarin (14/4). Bahkan ia mengenakan topi berlogo besar Nike, sejak putaran ketiga sampai putaran final kemarin, yang menegaskan keinginan untuk mengulangi momen yang ia ciptakan 22 tahun lalu. Dunia sadar dan Woods bahkan lebih paham lagi bahwa kali ini ia menempatkan dirinya dalam posisi terbaik untuk menang.

Woods memulai putaran final dengan berjarak dua stroke di belakang Francesco Molinari. Keputusan komite untuk menempatkan tiga pemain dalam satu grup membuat Molinari kembali berada di grup yang sama dengan Woods. Hal ini mengingatkan publik pada The Open Championship tahun lalu, ketika Molinari berhasil meraih Major pertamanya.

Meski Woods masih menjadi favorit, sulit mengabaikan permainan fenomenal Molinari. Dalam setahun terakhir ini, Molinari telah berkembang menjadi salah satu pegolf Eropa yang tangguh. Selain The Open, kontribusi meraih lima kemenangan pada Ryder Cup tahun lalu turut membangun profilnya sebagai pencipta sejarah. Tahun ini ia juga telah memenangkan Arnold Palmer Invitational presented by Mastercard. Dan dalam dua putaran jelang hari terakhir, Molinari mengemas 13 birdie tanpa satu bogey pun.

Meski memulai putaran pertama dengan tidak begitu menonjol jika dibandingkan para pemain lainnya, 2-under 70, Woods membangun putaran demi putaran untuk menciptakan narasi yang paling menarik. Dua putaran selanjutnya menunjukkan kualitas permainan yang lebih baik lagi. Ia mengemas 12 birdie dan 3 bogey untuk menempatkan dirinya dalam jangkauan dari posisi Molinari.

Apakah ia merasakan tekanan kembali bermain bersama Molinari yang mengunggulinya di Carnoustie? Ya dan tidak. Jelang putaran final, Woods menegaskan bahwa ia masih merasakan tekanan.

“Hari ketika saya tak lagi merasakan tekanan adalah ketika saya berhenti bermain golf. Saya selalu merasakan tekanan, sejak pertama kali, sejauh ingatan, saya mengikuti turnamen golf sampai sekarang. Hal ini tidak akan berubah,” tegasnya kala itu.

Jelas ia ingin menyampaikan bahwa tekanan itu tidak berasal dari dengan siapa dia akan bermain. Dan tekanan tersebut terlihat dengan jelas pada putaran final yang menegangkan.

“Dari permainannya tahun lalu, saya pikir kita semua tahu kalau kemenangan seperti ini bakal segera datang, cepat atau lambat.” – Francesco Molinari

Meski Molinari sendiri tidak melakukan pergerakan berarti dalam sembilan hole pertama yang ia mainkan, bermain satu bogey dan satu birdie, Woods sendiri berhasil memangkas selisih dua stroke itu menjadi satu stroke dengan tiga birdie dan dua bogey miliknya. Woods sendiri memulai sembilan hole terakhir dengan bogey, yang mengembalikan posisi seperti ketika mereka memulai babak final ini.

Dalam sembilan hole berikutnya, sejumlah pemain sempat mengambil alih posisi teratas. PGA TOUR Player of the Year 2018 Brooks Koepka, PGA TOUR Rookie of the Year 2017 Xander Schauffele, bahkan Patrick Cantlay sempat mencuri perhatian.

Dengan Moliniari harus mendapat dua double bogey di hole 12 dan 15, asa pemain Italia ini untuk meraih Major keduanya pun harus pupus. Sebaliknya, usai mendapat bogey di hole 10, Woods mencatatkan tiga birdie dalam tujuh hole berikutnya. Dan ketika memasuki hole terakhir, ia tahu bahwa bogey saja sudah cukup baginya untuk membuktikan keyakinannya pada awal pekan.

Tatkala ia memasukkan putt kedua yang memaksanya harus menutup hole ke-72 dengan bogey, Woods mengekspresikan kegembiraannya hingga dua kali. Tinjunya yang memukul udara seakan hendak menegaskan kepuasannya untuk berhasil memastikan gelar The Masters kelima. Lalu sembari menghadapi para penonton, Woods mengangkat kedua tangannya, seakan menegaskan kepada seluruh penonton bahwa ia masih bisa menjuarai sebuah ajang Major.

Dan sudah pasti ia sadar, para pemburu foto tidak cukup menangkap ekspresinya usai memasukkan putt itu. Maka sekali lagi, ekspresi yang lebih emosional, yang mengingatkan publik pada peristiwa tahun 1997 itu kembali menghias berbagai media internasional.

“Seluruh turnamen ini memiliki arti yang begitu besar selama bertahun-tahun. Datang ke sini untuk pertama kalinya pada 1995 dan bisa bermain sebagai pemain amatir, memenangkannya pada 1997, dan kemudian mengulanginya lagi 22 tahun kemudian, bisa melakukannya sekali lagi, dan seperti itulah yang hari ini terjadi lagi,” tutur Woods usai menerima Jaket Hijau dari juara tahun lalu Patrick Reed.

Woods jelas sadar dan mengakui bahwa kali ini ada begitu banyak orang yang berpeluang meraih kemenangan pada gelaran Major pertama pada tahun ini. Ia seakan menggarisbawahi betapa sulitnya persaingan kala ini. Berbeda dengan ketika ia mendominasi dunia usai kemenangannya pada 1995 itu.

“Sekarang saya tahu alasan kenapa saya mulai botak. Golf itu memang sulit,” ujarnya setengah bercanda.

Kemenangan ini praktis membawanya semakin dekat dengan rekor 82 kemenangan Sam Snead. The Masters ini menjadi gelar PGA TOUR ke-81 bagi Woods. Dengan musim kompetisi yang masih panjang, ia jelas berpeluang meraih setidaknya satu kemenangan lagi pada tahun ini, atau dua kemenangan lagi untuk melampaui rekor Snead.

Kemenangan Woods ini juga disambut dengan sangat positif, tak hanya oleh mereka yang menanti-nantikan kemenangan Woods pada ajang Major, tapi bahkan oleh para pesaingnya di lapangan.

“Anda tidak bisa bosan membicarakan soal Tiger dan apa yang telah ia lakukan bagi golf.” – Tony Finau

“Sungguh luar biasa bisa melihat Tiger bermain dengan bagus. Dari permainannya tahun lalu, saya pikir kita semua tahu kalau kemenangan seperti ini bakal segera datang, cepat atau lambat,” puji Molinari. “Mungkin lain kali hasilnya akan lebih baik buat saya, tapi senang bisa bermain dengannya, dia main bagus, melakukan pukulan dengan tepat pada saat yang dibutuhkan, dan dia layak menang.”

“Buat saya, bisa menjadi bagian dari turnamen ini sudah sangat menyenangkan. Dan lebih menyenangkan lagi bisa berada dalam atmosfer (memburu kemenangan) seperti ini. Itulah alasan saya berlatih, tujuan saya bermain. Saatnya akan tiba bagi saya. Saya tahu itu. Saya hanya harus mempertahankan permainan saya,” ujar Finau. “Anda tidak bisa bosan membicarakan soal Tiger dan apa yang telah ia lakukan bagi golf. Sungguh luar biasa ia bisa terlibat dalam golf dan kini ia memiliki 15 gelar Major.”

Kini tidak ada yang akan meragukan kemampuan Woods untuk meraih Major. Jika kemenangan pada 1997 itu melambungkan nama Woods menuju dominasi penuh pada olahraga golf, semangat publik golf dunia kini mungkin menantikan kapan ia akan menyamai rekor Jack Nicklaus. Kini ia hanya terpaut satu Jaket Hijau lagi dan tiga Major lagi untuk menyamai Nicklaus.

Mengingat empat Major yang dimainkan tiap tahunnya, peluang Woods untuk melakukan hal tersebut jelas masih sangat terbuka. Woods saat ini berusia 43 tahun dan 90 hari. Nicklaus menjuarai Major ke-18 ketika memenangkan The Masters pada usia 46 tahun dan 82 hari pada tahun 1986.

Sejauh ini rekor pegolf tertua yang pernah menjuarai ajang Major ditorehkan oleh Julian Boros, yang menjuarai U.S. PGA Championship dalam usia 48 tahun dan 18 hari.

Leave a comment