Jazz Janewattanond mengambil sesi tiga jam dengan pelatih putting Tiger Woods guna meningkatkan kualitas putting-nya untuk dua ajang PGA TOUR berikutnya.

Baru-baru ini Jazz Janewattananond berupaya mempertajam performa putting-nya. Tidak tanggung-tanggung, ia berguru kepada pelatih putting Tiger Woods menjelang tampil pada ajang Memorial Tournament presented by Nationwide dan World Golf Championships-FedEx St Jude Invitational bulan ini.

Konsentrasi Jazz untuk putting memang terbilang sangat mendesak. Sejak PGA TOUR kembali menggulirkan pertandingannya, pegolf berusia 24 tahun ini terpaksa menelan kepahitan lantaran gagal lolos cut pada Charles Schwab Challenge dan RBC Heritage. Yang menyakitkan justru lantaran pada masing-masing turnamen tersebut, ia gagal melangkah hanya dengan selisih satu dan dua stroke.

Dari penampilannya tersebut, posisinya untuk performa kategori Strokes Gained: Putting berada di peringkat 149. Mengingat pentingnya dua turnamen mendatang untuk mengejar impiannya memiliki keanggotaan pada PGA TOUR, Jazz kemudian berlatih pada Matt Killen, yang di antaranya ikut melatih pemegang 82 gelar PGA TOUR, Tiger Woods, dan Juara FedExCup 2017 Justin Thomas.

”Pasti menyenangkan kalau bisa bermain pada akhir pekan. Saya mengalami kesulitan dengan putting dan banyak melakukan pukulan di atas green,” ujar pegolf yang melejit ke peringkat 44 dunia usai meraih empat kemenangan di Asia tahun lalu ini.

Berada dalam tim manajemen yang sama dengan Woods dan Thomas terbukti memberi manfaatnya tersendiri. Ketika Jazz berdikusi dengan manajernya perihal problem putting-nya, nama Killen pun muncul. Dan Jazz segera terbang ke Nashville pekan lalu untuk menjalani sesi putting tiga jam.

”Buat saya masalahnya ternyata bukanlah aspek teknis.”

”Tiga jam itu terbukti berjalan menyenangkan bersama Matt. Ketika menjumpai orang yang melatih para pegolf yang sukses, rasanya Anda menjadi yakin untuk mempercayai dia. Jadi, saya mengikuti saja apa yang ia minta,” ujar Jazz.

Killen tak mengubah teknik atau pukulan Jazz, terutama mengingat pemuda Thai ini berada di peringkat kedua untuk rata-rata putting (green in regulation) pada Asian Tour musim lalu. Sebaliknya, sang pelatih menunjukkan sejumlah latihan untuk membantunya beradaptasi lebih cepat dengan kerumitan di berbagai green yang baru. Selama di Amerika, Jazz memang terpaksa bermain di banyak lapangan untuk pertama kalinya setelah mendapat exemption bermain pada PGA TOUR tahun ini.

”Buat saya masalahnya ternyata bukanlah aspek teknis. Matt mengajari bagaimana berlatih dan menilai permukaan green ketika saya berada di lokasi turnamen. Yang kami lakukan ialah belajar untuk mengeset latihan ketika saya berada di lapangan baru dan berlatih untuk mengenali green-green di sana,” jelasnya.

Dengan tidak adanya cut pada ajang WGC-FedEx St Jude Invitational, Jazz berharap bisa menguasai permukaan putting di TPC Southwind di Memphis, Tennessee dari 30 Juli sampai 2 Agustus mendatang. Targetnya ialah mencatatkan hasil yang bagus untuk urusan putting.

”Sudah jelas saya akan memiliki pola pikir yang berbeda untuk ajang WGC. Anda tak lagi perlu mengkhawatirkan soal cut-off dan Anda bisa melakukannya sejak awal. Anda bisa main lebih agresif, yang sedikit membebaskan pikiran juga. Saya senang bisa ikut serta dan berharap nanti bisa main bagus,” ujarnya.

Selain itu, Jazz jugab erharap bisa bertemu dengan legenda golf Jack Nicklaus, yang merupakan tuan rumah ajang Memorial Tournament di Muirfield Village, Ohio pekan depan. Dengan Woods juga telah memastikan akan bermain di sana untuk menambah koleksi lima kemenangan sebelumnya, Jazz pun kian bersemangat.

 

Jazz Janewattananond sempat berada di peringkat kedua untuk kategori Putting (Green in Regulation) pada Asian Tour musim 2019. Kunci perbedaannya selama mengikuti ajang PGA TOUR ada pada lapangan yang belum akrab ia mainkan, ketimbang dengan di Asia. Foto: Asian Tour/Khalid Redza.

 

”Saya banyak mendengar cerita yang luar biasa tentang tempat Jack tersebut dan saya tak sabar untuk bisa main di sana. Saya sering membaca tentang dia, yang jelas merupakan pegolf terbesar dengan 18 gelar Major. Sejak kecil, topik yang hadir selalu menyangkut rekor Tiger vs Jack dan akan sangat istimewa bisa bertemu Jack nanti,” ujarnya lagi.

PGA TOUR sendiri kini telah menerapkan protokol yang lebih ketat dalam Rencana Kesehatan dan Keselamatan untuk turnamen-turnamen yang berlangsung. Hal ini turut membuat Jazz merasa lebih tenang. ”Saya merasa aman, semuanya berjalan dengan baik. Saya sendiri sudah terbiasa tidak makan di tempat, jadi kebijakan ini hal biasa buat saya. Sama sekali tak ada masalah (dengan protokol ini).

”Memang pertandingan tanpa penonton terasa sedikit berbeda. Tapi senang juga ada beberapa relawan di lapangan dan mereka menyoraki tiap pukulan yang bagus. Dalam dua turnamen pertama itu, ada banyak pegolf terbaik di dunia sehingga rasanya seperti bermain dalam ajang Major.”

Tapi yang jelas Jazz masih berniat untuk meraih kartu PGA TOUR melalui daftar poin FedExCup nonmember. ”Saya takkan menyerah. Yang saya butuhkan hanya satu atau dua pekan yang solid. Siapa yang bisa menebak apa yang bakal terjadi dalam olahraga ini? Saya hanya perlu lebih menikmati permainan tiap kali saya berkompetisi,” tandasnya.

Menarik untuk melihat sejauh apa dampak latihan yang diberikan Killen kepada Jazz dalam dua turnamen mendatang. Untuk mengetahui bagaimana perkembangan permainan Jazz, yang juga merupakan Juara Indonesian Masters 2019, terutama di atas green, Anda bisa menyaksikan aksinya melalui GOLFTV powered by PGA TOUR.