Justin Thomas bertekad untuk mempertahankan gelarnya pada THE CJ CUP @ SHADOW CREEK, 10.000 km jauhnya dari lokasi kemenangannya tahun lalu.

Sang juara bertahan, Justin Thomas, bersiap mempertahankan gelar juaranya dalam situasi yang sangat berbeda ketika THE CJ CUP @ SHADOW CREEK dimulai hari Kamis (15/10) besok. Pegolf No.3 Dunia ini berniat untuk meraih kemenangan ketiga dalam empat tahun penyelenggaraan turnamen ini. Uniknya, ia harus mempertahankan gelarnya di lokasi yang berjarak 10.000 km dari kemenangannya di Pulau Jeju tahun 2019 lalu.

Pandemi COVID-19 memaksa turnamen yang memperebutkan total hadiah senilai US$9,75 juta ini dipindahkan dari The Club @ Nine Bridges di Pulau Jeju. Thomas sendiri menjuarai ajang ini pada gelaran perdana tahun 2017 dan tahun 2019. Pekan ini turnamen ini dimainkan di Shadow Creek, dengan pemegang 13 gelar PGA TOUR tersebut berniat untuk mempertahankan reputasinya sebagai pegolf tersukses PGA TOUR pada musim gugur.

Sejak PGA TOUR menuntaskan jadwal 2013-2014, Thomas telah menang empat kali. Dan tak ada pemain lain yang menjuarai lebih dari dua kali. Hanya saja, pekan ini Thomas tak hanya akan menghadapi tantangan lapangan Shadow Creek yang terkenal sulit, tapi juga jajaran pemain top lain yang berpartisipasi. Setidaknya 25 dari 30 pegolf terbaik dari klasemen akhir FedExCup musim lalu, dan 37 pegolf teratas dari jajaran 50 besar dunia akan bersaing pekan ini.

”Memang, terkait dengan urusan memainkan turnamen yang sama, saya tak bisa membayangkan berada jauh dari negara penyelenggara, seperti turnamen ini misalnya. Namun, CJ melakukan hal yang luar biasa untuk menggelar ajang ini. Bahkan di Shadow Creek ini, ajang ini memiliki nuansa yang sama dan saya menjumpai orang-orang yang sama, yang terlibat dengan turnamen ini. Bahkan kemarin saya menikmati barbecue Korea untuk makan siang, yang rasanya juga masih luar biasa,” papar Thomas. ”Sudah tentu saya berharap kita bisa berada di Nine Bridges di Pulau Jeju, tapi Shadow Creek juga menjadi alternatif yang tak kalah luar biasanya.”

”Bisa menang bersama kedua orangtua saya di Asia adalah sesuatu yang tak pernah saya duga bisa terwujud ….” — Justin Thomas.

Turnamen pekan ini akan menjadi yang pertama kalinya bagi lapangan karya Tom Fazio ini untuk menggelar sebuah ajang PGA TOUR. Thomas sendiri telah bermain di lapangan ini, meskipun bukan dalam suasana kompetitif. Namun, ia jelas berharap mendapatkan ujian yang tak mudah, terutama di atas green. ”Saya pikir tingkat kesulitannya akan tergantung bagaimana set up lapangannya. Green di sini sangat menyulitkan, tapi jika diatur agar menjadi sulit dan permukaannya menjadi sedikit lebih keras, sudah pasti green-nya akan dimainkan dengan sedikit lebih menantang,” jelas Thomas, yang musim lalu finis di tempat kedua pada klasemen FedExCup.

Dengan dua turnamen Asia yang dimainkan di Pesisir Barat—satu turnamen lagi ialah ZOZO CHAMPIONSHIP—dalam dua pekan ini, Thomas, yang meraih empat gela PGA TOUR di Asia, mengaku merindukan perjalanan tahunan ke benua di belahan timur ini.

”Dukungan yang saya dan seluruh orang Amerika dan juga seluruh pemain dapatkan ketika berada di Asia sangatlah mengesankan karena mereka tahu segala sesuatu tentang golf. Mereka tahu segalanya tentang kami, mereka penggemar besar kami. Mereka senang datang dan melihat permainan golf kami dan itulah hal yang menyenangkan. Saya jelas merindukan hal-hal tersebut, dan saya tahu para pemain lainnya juga merasakan hal yang sama,” ujarnya lagi.

Terlepas dari hal tersebut, Thomas berniat menampilkan ciri khas permainannya yang agresif di Shadow Creek. Ia jelas mengincar kemenangan pertamanya pada musim 2020-2021. ”Hal terbesarnya ialah ketika Anda berpeluang mencatatkan skor bagus, Anda harus mengarahkan bola ke pin karena menurut saya skor pada pekan ini bakal sangat rendah. Anda perlu mendapatkan birdie sebanyak-banyaknya. Jadi, kalau pukulan Anda sedang bagus, Anda mesti main agresif, dan saya pikir seperti itulah pola pikir untuk pekan ini,” ujar Thomas.

Ia sendiri masih mengingat tiap momen kemenangannya atas Danny Lee asal Selandia Baru tahun lalu. Kala itu ia bahkan berhasil menjuarai THE CJ CUP untuk kedua kalinya bersama orangtuanya, yang mendampinginya ke Korea.

”Masih ada beberapa turnamen lagi sebelum Augusta. Jadi, tahun ini belum benar-benar berakhir.” — Brooks Koepka.

”Rasanya hal paling istimewanya ialah bisa ditemani kedua orangtua saya, kesediaan mereka untuk menempuh perjalanan ke Asia. Mereka belum pernah melakukannya, dan waktu itu merupakan pekan ulang tahun ayah saya dan ibu saya sempat menanyakan apa yang ingin ia lakukan. Reaksinya langsung mengajak berangkat karena tak ada hal menarik yang terjadi di Louisville, Kentucky, bulan Oktober itu. Dan ibu saya juga tak pernah berkata tidak untuk menyaksikan sebuah turnamen. Jadi, mereka datang dan sedikit bereksplorasi. Mereka ke Korea dan Jepang. Bisa menang bersama kedua orangtua saya di Asia adalah sesuatu yang tak pernah saya duga bisa terwujud; mereka bisa menghadiri dan secara kebetulan saya bisa menang. Senang sekali bisa membagikan momen itu bersama mereka,” tutur Thomas.

”Saya merasa nyaman bermain di sana (Nine Bridges) dan rasanya saya tahu cara memainkannya. Pada titik itu, saya hanya tinggal melakukan eksekusi dan menentukan spot bola.”

Pekan ini Thomas juga harus bersaing dengan Brooks Koepka, pemenang THE CJ CUP 2018. Koepka kembali berkompetisi setelah mengambil jeda delapan pekan untuk memulihkan cedera lutut dan panggulnya. Sementara itu, pegolf No.2 Dunia Jon Rahm juga akan tampil dan melakoni debut pada turnamen ini.

”Jutaan kali lebih baik rasanya. Senang bisa kembali berkompetisi. Saya menghabiskan dua bulan terakhir untuk rehabilitasi dan memulihkan segalanya. Sekarang rasanya lebih baik. Saya mulai memukul bola, mungkin sekitar 10 hari lalu. Malahan rasanya sudah cukup pulih. Saya ke lapangan hari Kamis, ke tempat Butch (Harmon, pelatihnya) dan memukul beberapa bola. Saya merasa siap untuk memulai pekan ini,” ujar Koepka, yang telah menjuarai 7 gelar PGA TOUR termasuk 4 Major.

“Saya sudah memulihkan badan saya lagi, entah separah apa rasanya kondisi saya sampai merasa lebih baik. Senang bisa kembali, meskipun saya tak merasa kehilangan banyak hal. Sekarang saya merasa puas bisa pulih. Masih ada beberapa turnamen lagi sebelum Augusta. Jadi, tahun ini belum benar-benar berakhir.”