Prestasinya pada musim 2018-2019 membuat Kapten Ernie Els memilihnya untuk menjadi salah satu senjata bagi Tim Internasional.

Oleh Chuah Choo Chiang, Senior Director Communications PGA TOUR

Jika Im Sungjae tampil dalam film blockbuster Marvel, dia bakal dengan mudah memerankan pahlawan super mana pun.

Kira-kira begitulah lejitan pemain fenomenal dari Korea ini. Sampai teman-teman dan para komentator PGA TOUR memberinya julukan ”Iron Man”, ”The Beast”, dan ”The Machine”.

Segera pegolf berusia 21 tahun ini akan mendapatkan kesempatan lain untuk mempertegas reputasinya ketika ia melakoni debutnya pada Tim Internasional. Ia bakal segera menghadapi Tim Amerika Serikat pada ajang Presidents Cup di Royal Melbourne Golf Club.

Im terpilih sebagai salah satu pemain wildcard Kapten Ernie Els. Dan dia bisa segera membintangi lakon barunya sebagai ”The Smiling Assassin”. Julukan ini sebelumnya diberikan kepada Shigeki Maruyama ketika bintang Jepang itu tersenyum dan menundukkan semua lawannya, mencatatkan rekor 5-0-0 di Royal Melbourne tahun 1998. Rekor itu kemudian membantu Tim Internasional meraih satu-satunya kemenangan hingga saat ini. Secara kebetulan pula Im lahir pada tahun 1998, yang mungkin saja bakal memberi pertanda baik.

Kapten Els sangat yakin pegolf Korea pilihannya ini bakal menjawab harapan dan mengeluarkan seluruh potensinya kala berhadapan dengan jajaran megabintang Amerika, dipimpin Kapten Tiger Woods, yang juga akan ikut bermain.

Sepanjang musim 2018-2019 pada PGA TOUR, Im secara mengesankan finis di peringkat 19 daftar peraih poin FedExCup berkat tujuh kali finis di 10 besar. Ia mencapai posisi tersebut berkat 480 birdie dan 18 eagle, jumlah terbanyak yang dibukukan oleh pemain mana pun!

”Dia mengalami tahun yang luar biasa, meraih banyak posisi sepuluh besar,” ujar Els antusias.

”Ia menunjukkan upayanya untuk menjadi bagian dalam tim dengan konsistensinya dan menampilkan semangat yang luar biasa dengan para pemain lainnya. Saya sangat menyukai pendekatannya pada olahraga ini … misalnya, dia sangat tenang, santai. Sudah jelas saya tidak sebagus itu saat masih berusia 20, 21 tahun, tapi mereka ini, mereka adalah para pemain kelas dunia. Saya tidak khawatir memilih para pemain debutan dan tidak khawatir memainkan mereka.”

Kecenderungan Im Sungjae yang senang tersenyum, sekaligus menutupi keterbatasannya berbahasa Inggris, membuatnya layak mendapat julukan “Smiling Assassin”, julukan yang juga disandang oleh pahlawan Tim Internasional pada Presidents Cup 1998 asal Jepang, Shigeki Maruyama. Foto: Getty Images.

Saat ini, bahasa Inggris Im memang sangat terbatas. Dan, seperti halnya Maruyama, ia mengatasi batasan bahasa ini dengan terus tersenyum. Namun, di balik apa yang terlihat, Im sangat gigih dan memiliki determinasi untuk bisa meraih keberhasilan dalam olahraga ini.

Ia besar di Pulau Jeju, pulau yang menjadi tuan rumah satu-satunya ajang PGA TOUR di Korea, THE CJ CUP @ NINE BRIDGES. Kedua orangtuanya yang gila golf, Jitaek dan Mikim, memperkenalkan putra mereka ini pada golf di fasilitas dalam ruangan ketika Im masih berusia 4 tahun. Saat berusia 8 tahun, ia mengalahkan sang ayah dan kemudian pada awal masa remajanya, Bersama rekannya di tim nasional, Kim Siwoo—Juara PLAYERS Championship 2017—mereka tumbuh dengan mengidolakan sosok yang akan memimpin Tim AS di Royal Melbourne, Woods.

”Ia bagaikan dewa bagi kami,” ujar Im kepada Golf.com.

Saat masih berusia 17, Im beralih profesional dan mengukuhkan statusnya di Japan Golf Tour dengan mengemas 14 kali finis di sepuluh besar dari 51 turnamen pada musim 2016 dan 2017. Bakatnya inilah yang kemudian membawanya ke Korn Ferry Tour pada musim 2018. Di sana ia kemudian mendominasi dengan dua kemenangan dan tiga kali runner-up untuk memuncaki daftar peraih hadiah uang. Ia tak hanya meraih status Rookie of the Year dan Player of the Year, tapi juga meraih impian Amerikanya dengan mengamankan kartu PGA TOUR.

”Dalam tahun pertama, Anda biasanya hanya ingin mempertahankan kartu untuk tahun depan. Agar bisa bertahan,” ujar Im, yang menjadi satu-satunya pemain debutan yang menembus TOUR Championship.

”Saya bermain dengan melebih harapan itu. Rasanya saya bisa memberi nilai 9 dari 10.”

Jordan Spieth, Juara FedExCup 2015, yang juga merupakan pemain berbakat, berharap Im bisa terus menjadi bahan perbincangan untuk kurun waktu yang lama.

”Saya selalu bermimpi untuk bisa bermain dalam Presidents Cup, jadi saya sangat Bahagia bisa terpilih sebagai salah satu pemain pilihan kapten. Saya sangat ingin mengalahkan Tim AS.”

”Ia berjuang keras dari sejak usia muda melalui Korn Ferry Tour dan kini PGA TOUR terkesan mudah baginya. Ini hal yang tidak biasa karena biasanya seorang pemain lebih banyak menempuh proses belajar. Tapi sepertinya ia berada melampaui proses itu,” ujar Spieth.

Kevin Na, pemegang empat gelar PGA TOUR, menambahkan, ”Saya bisa melihatnya sebagai generasi pemain Korea terbaik berikutnya.”

Im, yang saat artikel ini disusun berperingkat 34 dunia, berharap menutup musim 2019 ini dengan berkesan dengan meraih kemenangan langka bagi Tim Internasional Presidents Cup. Tim AS telah menjuarai tujuh edisi terakhir secara berturut-turut.

”Saya selalu bermimpi untuk bisa bermain dalam Presidents Cup, jadi saya sangat Bahagia bisa terpilih sebagai salah satu pemain pilihan kapten. Saya sangat ingin mengalahkan Tim AS,” ujarnya.

Ia ingat bagaimana ia menyaksikan Presidents Cup 2015, yang kala itu digelar di Incheon, Korea, melalui layar TV. Kala itu pemain tuan rumah Bae Sangmoon terlibat partai final yang dramatis dengan Bill Haas. Duel itu berlangsung hingga hole terakhir dan berakhir dengan kemenangan tipis 1 poin bagi kemenangan Tim Amerika.

”Peristiwa itu sangat memotivasi saya untuk suatu saat bisa menjadi bagian Tim Internasional,” ujarnya. ”Saya yakin, kalau bisa memaksimalkan kemampuan dan memiliki performa yang bagus, saya pasti bisa berkontribusi untuk tim!”

Ia menilai dirinya bisa menciptakan kolaborasi yang solid dengan bintang Jepang Hideki Matsuyama atau sesama debutan asal Chile, Joaquinn Niemann.

”Saya sering main dengan Joaquin dan kami punya gaya bermain yang mirip. Pukulannya sangat akurat dan saya rasa cara kami mengeksekusi short game juga mirip. Dengan Hideki, kami sama-sama memiliki swing yang unik, jadi mungkin kami bisa mengungguli para pemain Amerika jika dipasangkan bersama-sama,” ujar Im sambil tertawa.