PB PGI mulai bersiap menuju SEA Games 2019 dan segera menggelar Pra-PON.

Dua agenda penting menjadi bagian dari fokus Pengurus Besar Persatuan Golf Indonesia (PB PGI) pada tahun 2019 ini. Selain mempersiapkan penyelenggaraan Pra-PON, PB PGI juga kini mempersiapkan atlet-atletnya untuk bersain di kancah regional SEA Games 2019 di Tarlac City, Filipina.

Agenda pertama yang paling dekat adalah penyelenggaraan Pra-PON, yang rencananya akan digelar di Padivalley Golf Club, Gowa, Makassar, Sulawesi Selatan. Massagus Fatommy, yang merupakan Wakil Ketua Umum PB PGI, mengungkapkan bahwa keputusan untuk menggelar Pra-PON di Sulawesi ini dilakukan untuk memenuhi permintaan yang diajukan oleh PGI Pengprov Sulsel.

Langkah ini juga terbilang tepat, mengingat sejauh ini aktivitas golf masih terpusat di Pulau Jawa. Penyelenggaraan Pra-PON di Sulsel ini juga diharapkan bisa memberikan sejumlah dampak positif, mulai dari fokus golf nasional yang bisa bergerak ke wilayah timur Indonesia, sampai pada harapan bahwa aktivitas golf ini bisa menginspirasi bibit-bibit baru di Sulawesi untuk masa depan golf di Indonesia.

Sekretaris Jenderal PB PGI Anthony Chandra menjelaskan, Pra-PON ini akan menyaring 65 pemain putra dan putri dari seluruh Indonesia, yang nantinya akan bertanding mewakili daerah masing-masing pada PON yang akan digelar di Papua pada tahun depan. Jumlah 65 ini pada dasarnya merupakan perampingan dari penyelenggaraan Pra-PON sebelumnya, yang menyaring 75 peserta. Tuan rumah Papua sendiri akan mendapat jatah sebanyak tujuh pemain sehingga total peserta yang bertanding pada ajang PON nantinya menjadi 72 peserta.

Meskipun statusnya adalah Pra-PON, bisa dipastikan tingkat kompetisi di Padivalley Golf Club pada tanggal 30-31 Juli 2019 mendatang akan sangat tinggi. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, kali ini para atlet yang selama ini menghias Tim Nasional juga diwajibkan untuk mengikuti Pra-PON, mewakili daerahnya masing-masing.

Sementara itu, untuk menghadapi SEA Games, PB PGI saat ini telah mengadakan pelatihan nasional (pelatnas) secara mandiri. Meskipun resminya bakal dimulai pada periode Agustus-November 2019, dan calon anggota Tim Nasional baru akan diumumkan sebelum periode tersebut, pelatihan mandiri yang dilakukan saat ini melibatkan para atlet yang tergabung dalam National Development Program (NDP). Sejauh ini, ada 45 atlet yang telah menjadi bagian dari NDP ini.

Perwakilan Pengurus PB PGI dan Tim Pelatih bersama para atlet yang kini menjadi bagian dari National Development Program. Sekitar dua bulan lagi, mereka akan kembali berkumpul untuk saling bersaing pada Pra-PON di Gowa, Makassar. Foto: Golfin’STYLE.

Rencananya, pada bulan Agustus mendatang, sebanyak lima pegolf amatir putra dan empat pegolf amatir putri akan dipilih untuk mengikuti pelatnas. Jumlah ini akan disusutkan lagi menjadi empat pegolf putra dan tiga pegolf putri pada bulan Oktober.

PB PGI sendiri menetaptkan setidaknya tiga kriteria untuk menjaring atlet nasional yang akan mewakili bangsa ke Filipina. Kriteria kualifikasi ini akan didasarkan pada ranking pemain berdasarkan World Amateur Golf Ranking (WAGR), ranking pada Order of Merit, serta kualifikasi berdasarkan statistik permainan dalam periode pertandingan tertentu.

Kualifikasi pertama akan secara otomatis didapatkan oleh pegolf putra dan putri amatir Indonesia yang menempati ranking terbaik pada WAGR. Ketentuan ini memang masuk akal, mengingat tim nasional jelas membutuhkan pemain yang memiliki kompetensi dan konsistensi permainan dalam periode kompetisi yang cukup panjang. Sistem peringkat ini menghitung performa rata-rata para pegolf yang mengikuti turnamen yang masuk label Counting Event dalam periode 104 pekan. Sejauh ini, nama Naraajie Emerald Ramadhan Putra (No. 168) dan Inez Beatrice Wanamarta masih menjadi yang terbaik bagi Indonesia (No. 244).

Adapun kualifikasi kedua, berdasarkan Order of Merit pemain sengaja dipatok dalam rentang waktu yang tidak terlalu panjang. Hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan pemain yang bisa mencapai puncak permainan mereka ketika turun pada SEA Games mendatang. Ketua Bidang Pembinaan Ari Hidrijantoro menyampaikan bahwa rentang waktu untuk kualifikasi kedua ini ditentukan mulai bulan Januari hingga Agustus 2019 mendatang.

Adapun kualifikasi terakhir akan dilakukan dengan mendasarkan pada statistik permainan atlet. Tim Pelatih, yang terdiri atas David Milne, Lawrie Montague, dan Alga Topan akan memantau para pegolf yang belum masuk kriteria kualifikasi pertama dan kedua tadi, dan melihat statistik permainan mereka dalam 18-20 putaran terakhir.

Saat ini, Tim Thailand masih menjadi kekuatan utama, sementara untuk putri Tim Filipina kini menjadi kekuatan yang paling disegani, terutama berkat keberhasilan mereka meraih medali emas pada level Asian Games tahun lalu. Adapun Malaysia dan Singapura sendiri kini memiliki pemain yang kekuatannya cukup berimbang dengan Indonesia.

Naraajie Emerald Ramadhan Putra masih menjadi salah satu pemain andalan Indonesia untuk SEA Games 2019 mendatang. Sejauh ini, pegolf Jawa Barat ini menempati peringkat 168 dunia menurut World Amateur Golf Ranking, ranking terbaik bagi Indonesia saat ini. Foto: Golfin’STYLE.

Dengan peta kekuatan regional yang terus berkembang seperti itu, PB PGI mematok target yang terbilang realistis, yaitu dua perak dan satu perunggu. Dua medali perak ditargetkan bisa dibawa pulang dari nomor individu dan beregu putra. Sementara medali perunggu diharapkan bisa disumbangkan dari nomor individu maupun beregu putri.

“Kementerian Pemuda dan Olahraga sebenarnya mendorong semua cabang olahraga untuk memberi porsi yang besar bagi para atlet junior untuk bisa turun bertanding pada ajang SEA Games nanti. Namun, kami juga harus bersikap realistis, apalagi tiap cabang olahraga juga diharapkan bisa menyumbangkan prestasi. Jadi, jalan terbaiknya adalah memberikan keseimbangan antara pemain junior dan pemain berpengalaman untuk bisa memenuhi target prestasi,” jelas Ari lagi.

Untuk mencapai target prestasi, PB PGI terus membangun komunikasi yang intens dengan universitas-universitas di Amerika, yang saat ini turut diperkuat oleh sejumlah atlet Indonesia. Beberapa di antaranya termasuk pegolf amatir putri No.1 Indonesia saat ini, Inez Beatrice Wanamarta yang kini berkuliah di Purdue University (Indiana), Patricia Sinolungan yang berkuliah di North Texas University (Texas), Rivani Adelia Sihotang (Louisiana State University, Louisiana), dan Michela Tjan (Keiser University, Florida), dengan sejumlah atlet lainnya akan segera menuju AS untuk menempuh jalur yang sama. Bersama Ida Ayu Indira Melati Putri yang kini telah lulus dari universitas, prospek Indonesia untuk meraih target prestasi diharapkan bisa terpenuhi.

“Sejauh ini, pelatih golf di North Texas University, tempat Patty (sapaan Patricia Sinolungan) berkuliah telah menyampaikan secara informal bahwa pihaknya siap untuk melepas Patty jika memang dibutuhkan untuk membela negara. Namun, pada dasarnya, kami juga telah menyiapkan sejumlah skenario kombinasi tim jika nantinya ternyata terbentur dengan jadwal penting lain di sana,” sambung Ari.

Hal serupa tidak terjadi pada sebagia besar atlet putra. Dengan Tirto Tamardi yang kini berkuliah di Bethune-Cookman University, Florida, sejumlah pegolf top amatir pria saat ini berada di Indonesia. Prospek terbaik dari putra ada pada sejumlah pemain, seperti Naraajie, Almay Rayhan Yagutah, dengan Kentaro Nanayama berpeluang menjadi darah baru bagi Tim Indonesia usai menjuarai ATI Ciputra Golfpreneur Junior World presented by AKI pekan lalu.

Leave a comment