Penyelenggaraan Ryder Cup diundur hingga 2021, tapi tak ada jaminan bahwa saat itu penonton akan ramai.

Oleh Raka S. Kurnia/GolfinStyle

Ryder Cup akan selalu menjadi salah satu kompetisi beregu yang paling dinantikan tak hanya oleh para pegolf profesional Amerika dan Eropa, tapi juga penggemar di seluruh dunia. Dan penonton kerap menjadi faktor yang sangat diharapkan oleh para pesertanya.

”Ryder Cup tanpa penggemar bukanlah Ryder Cup. Ajang ini takkan menjadi tontonan yang luar biasa, takkan ada atmosfernya. Jadi, kalau mereka harus memilih antara tidak memainkan ajang ini atau memainkannya tanpa penggemar, saya lebih memilih tunda saja ajang ini ke tahun 2021,” ujar Rory McIlroy.

Kapten Tim Eropa Padraig Harrington juga ikut menggarisbawahi, ”Tak ada yang ingin melihat Ryder Cup dilangsungkan tanpa penggemar yang menghadirinya,” ujarnya kepada BBC Radio 5 Live.

”Sudah jelas mereka membuat turnamen ini menjadi lebih baik. Saya pikir kesepakatan bersama saat ini ialah bahwa Ryder Cup tidak akan dimainkan kecuali para penggemar bisa menghadirinya secara langsung.”

Sebagai kompetisi beregu, Ryder Cup memang memiliki posisi yang unik. Para peserta dari kubu Amerika, maupun Eropa tidak akan mendapat bayaran sama sekali kala mengikuti ajang ini. Urusan kebanggaan antarbenua menciptakan gengsi yang lebih mahal. Dan inilah sebabnya peran penggemar di sekitar Whistling Straits, Wisconsin dianggap sangat penting.

Ryder Cup telah menjadi mesin penghasil uang yang luar biasa. Tidak hanya bagi organisasi, tapi juga publik luas.

Tak hanya soal gengsi, kompetisi ini juga menjadi mesin penghasil uang yang luar biasa. Tidak hanya bagi organisasi yang berada di balik duel besar ini, tapi juga bagi publik luas.

Perkiraan pemasukan yang dihasilkan dari siaran TV memang tidak pernah diumumkan. Namun, Ross Biddiscombe sempat menulis dalam bukunya yang berjudul Ryder Cup Revealed (2014) bahwa nilai yang dihasilkan oleh siaran TV di seluruh dunia dari partai yang berlangsung di AS berkisar antara US$35-40 juta, sementara di Eropa sekitar £15 juta.

Bagi PGA of America dan European Tour, nilai tersebut jelas menjadi nilai yang sangat besar. Dengan kondisi pandemi yang menyulitkan perekonomian saat ini, tidaklah mengherankan jika pembicaraan mengenai jadi atau tidaknya Ryder Cup pada bulan September 2020 ini membutuhkan waktu yang panjang. Jelas kedua pihak masih mempelajari kemungkinan menyelenggarakan ajang ini.

Ryder Cup juga menjadi mesin sosial yang sangat bernilai. Tahun 2018 lalu, Tim Ryder Cup AS menyumbangkan hingga US$2,85 juta untuk menjangkau masyarakat yang membutuhkan, termasuk untuk mendanai program-program pengembangan golf bagi generasi muda.

Pengunduran Penyelenggaraan
Ketika McIlroy menyarankan agar Ryder Cup diundurkan, ia memiliki pertimbangan lain. Jika edisi ke-43 kali ini bisa diundur ke tahun 2021, akan memberi waktu yang cukup bagi Italia untuk mempersiapkan diri sebagai tuan rumah. Hal ini penting, mengingat Italia juga ikut terpukul oleh pandemi COVID-19.

Pernyataan bersama yang dikeluarkan oleh PGA of America, Ryder Cup Europe, dan PGA TOUR pada Rabu (8/7) kemarin akhirnya mengakhiri ketidakpastian selama ini.

 

Tim Eropa berhasil menaklukkan Tim AS pada Ryder Cup 2018 lalu. Kini Tim AS harus menunggu setahun untuk bisa membalas kekalahan tersebut. Foto: Rolex.

 

”Per hari ini (8/7) jelas para pakar kesehatan dan otoritas publik di Wisconsin tak dapat memberikan kepastikan untuk menyelenggarakan ajang ini secara bertanggung jawab dengan ribuan penonton yang mungkin hadir pada bulan September mendatang. Dengan mempertimbangkan ketidakpastian ini, kami menilai penjadwalan ulang menjadi keputusan yang tepat,” ujar CEO PGA of America Seth Waugh.

”Meskipun mengecewakan, mandat kami ialah melakukan segala yang kami bisa untuk memastikan kesehatan publik sebagai hal yang paling utama. Para penonton yang mendukung, baik AS maupun Eropa menjadi pihak yang membuat Ryder Cup begitu unik dan menarik dan bermain tanpa keberadaan mereka bukanlah menjadi opsi yang realistis.”

Direktur Ryder Cup Eropa Guy Kinnings menambahkan, meskipun poin yang disampaikan oleh Waugh tersebut sangat signifikan, aspek kesehatan dianggap menjadi pertimbangan yang jauh lebih penting lagi. ”Kami sudah mempertimbangkan semua opsi, termasuk bermain dengan jumlah penonton yang terbatas, tapi seluruh pemangku kepentingan sepakat bahwa keputusan ini dapat mencairkan keajaiban dari ajang besar ini,” ujar Kinnings.

Penjadwalan ulang ini juga turut dilakukan setelah memperhatikan panduan dari Centers for Disease Control and Prevention, dan juga negara bagian Wisconsin dan Sheboygan County, yang mengutamakan kesehatan dan keselamatan semua pihak yang terlibat.

Kesepakatan ini akhirnya menggeser waktu penyelenggaraan dari 22-27 September 2020 menjadi 21-26 September 2021. Konsekuensinya, ajang Presidents Cup juga terpaksa mengalami penjadwalan ulang, mengingat jadwal semula ialah pada 30 September-3 Oktober 2021. Kini Presidents Cup akan digelar pada 19-25 September 2022.

”Kedua ajang besar internasional ini dibangun oleh semangat para penggemar. Mempertimbangkan ketidakpastian kondisi saat ini, kami sepenuhnya mendukung keputusan Ryder Cup untuk menunda penyelenggaraan guna menjamin para penggemar bisa ikut ambil bagian dalam atmosfer yang luar biasa di Wisconsin. Maka penundaan Presidents Cup pada tahun tersebut juga menjadi keputusan yang tepat agar opsi tersebut bisa terwujud,” ujar Jay Monahan, Komisioner PGA TOUR.

”Ryder Cup dan Presidents Cup dibangun oleh semangat para penggemar. … kami sepenuhnya mendukung keputusan Ryder Cup untuk menunda penyelenggaraan …. Maka penundaan Presidents Cup juga menjadi keputusan yang tepat ….” — Jay Monahan, Komisioner PGA TOUR.

Ketidakpastian Berlangsung
Meskipun penyelenggaraan Ryder Cup akhirnya diundurkan, tak ada kepastian bahwa kondisi pandemi bakal berkembang ke arah yang positif. Hal ini juga menimbulkan ketidakpastian perihal kehadiran para penggemar pada tahun 2021.

Mantan Kapten Tim Eropa Thomas Bjorn turut mempertanyakan hal ini. Menurutnya, tidak ada jaminan bahwa penyelenggaraan pada 2021 bisa menjamin para penggemar bisa menyaksikan langsung.

Kekhawatiran ini cukup beralasan, mengingat sutiasi global saat ini tidak menunjukkan gejala mereda. Bahkan ledakan kasus terus terjadi, yang menandakan gelombang kedua tampaknya memang tengah melanda. Dan bagi para penggemar Eropa, menghabiskan waktu sebulan untuk karantina hanya untuk ajang ini menjadi sangat tidak ideal—dua pekan karantina ketika tiba di AS, dan dua pekan lagi ketika pulang.

Selain itu, WHO juga mulai mempertimbangkan bahwa COVID-19 kini sangat mungkin menyebar melalui partikel-partikel kecil yang tertahan di udara. Dan penyebaran ini berpotensi terjadi di daerah-daerah dengan kerumunan, ruang tertutup, atau ruangan yang minim ventilasi.

Harapannya, para ilmuwan yang tengah menggarap vaksin bisa mendapatkan hasil positif dari uji coba yang kini mulai dilakukan.