Perlombaan panjang itu akhirnya berakhir pekan ini. Kurang dari sepekan sebelum ajang pamungkas di Jakarta mulai digelar. Ketika salah satu pesaing terdekatnya, Justin Harding, gagal menembus putaran akhir pekan South African Open hosted by the City of Joburg, Shubhankar Sharma pun resmi menyandang status pegolf No.1 Asian Tour.

Keberhasilan Sharma menjuarai Habitat for Humanity Standings, Order of Merit Asian Tour, menjadikan pemuda berusia 22 tahun ini sebagai pegolf India kelima yang berhasil mencatatkan prestasi tersebut, mengikuti jejak Jyoti Randhawa (2002), Arjun Atwal (2003), Jeev Milkha Singh (2006 dan 2008), dan Anirban Lahiri (2015).

Prestasi istimewa ini sendiri ia raih berkat performanya yang luar biasa sepanjang musim ini. Tak salah pula menyebut bahwa kemenangan pada ajang Joburg Open sekitar setahun yang lalu menjadi salah satu pemicunya. Itulah gelar yang menempatkannya sebagai pencatat sejarah, menjadi pegolf India dan Asia pertama yang meraih kemenangan di Afrika Selatan.

Usai dua hasil yang kurang memuaskan dalam petualangannya bermain di Timur Tengah pada ajang European Tour, ia kembali menjadi sorotan dunia. Seperti halnya Anirban Lahiri yang menjadi No.1 Asian Tour pada 2015, Sharma menorehkan kemenangannya di Malaysia. Gelar juara Maybank Championship itu menjadi gelar Asian Tour dan European Tour kedua dalam kariernya.

 

Maybank Championship menjadi gelar Asian Tour dan European Tour kedua bagi Shubhankar Sharma, gelar yang sangat membantunya menjuarai Habitat for Humanity Standings Asian Tour 2018. Foto: Asian Tour.

 

Pada turnamen di Malaysia itu, Sharma mengatasi ketertinggalan empat stroke dan membukukan skor fenomenal 10-under 62 pada putaran final. Skor itu memberinya keunggulan dua stroke. Hadiah uang senilai US$500.000 yang ia menangkan di sini menjadi modal penting baginya untuk menjadi No.1 Asian Tour.

Sebulan kemudian, ia nyaris mengikuti jejak seniornya, Anirban Lahiri, yang pada 2015 sukses menjadi pemenang di Malaysia dan India. Bermain di negerinya sendiri, Sharma mencatatkan finis di peringkat T7, yang turut memperkukuh posisinya di peringkat teratas Habitat for Humanity Standings. Pada putaran final, ia menorehkan skor 64, yang sekaligus menjadi skor terendah pada ajang ini, yang sekaligus satu stroke lebih baik daripada skor yang ditorehkan oleh pemenang Order of Merit Asian Tour 2017, Gavin Green

Kemenangan di Afrika Selatan dan Malaysia, plus prestasi positif di India menempatkan Sharma di posisi yang dihormati. Ia tak hanya memimpin Habitat for Humanity Standings Asian Tour, tapi juga Race to Dubai Rankings presented by Rolex. Dan ia pun meraih peringkat dunia terbaik dalam kariernya, yaitu mencapai peringkat 64 pada Official World Golf Ranking.

Pada bulan Maret 2018 itu juga Sharma menciptakan kejutan di panggung yang lebih besar lagi. Bermain pada ajang World Golf Championships pertama dalam kariernya, World Golf Championships-Mexico Championship. Ia sempat berpeluang menjuarai turnamen yang dalam ujarannya sendiri “merupakan ajang terbesar yang pernah saya ikuti dalam karier saya”. Dari dikira jurnalis sampai akhirnya mendapat pengakuan dari Phil Mickelson, yang akhirnya keluar sebagai juara, finis di peringkat T9 di Meksiko ini menjadi salah satu sorotan kariernya tahun 2018 ini.

 

Kado ulang tahun ke-22 bagi Shubhankar Sharma ialah ketika ia bisa bermain empat putaran pada The Open Championship, satu-satunya ajang Major yang bisa ia mainkan secara penuh. Foto: Asian Tour.

 

“Sedikit kecewa memang, apalagi karena saya memimpin dan saya pikir saya tak bisa menuntaskannya (dengan baik) kali ini. Tapi seperti itulah golf ini. Dan yang saya pelajari, terutama bermain dengan Phil (Mickelson) akan saya kenang selamanya,” ujar Sharma kala itu.

Dengan sejumlah prestasi yang positif itu, Sharma mendapat sejumlah spot untuk bermain pada ajang PGA TOUR. Pada bulan Mei 2018, ia mencatatkan finis di 20 besar pertamanya pada ajang PGA TOUR yang ia ikuti.Ia menjadi satu dari 21 pemain yang finis di peringkat ke-20 ajang Fort Worth Invitational, sekaligus satu dari tiga pegolf Asia yang finis di tempat serupa.

Sharma juga menikmati pengalamannya bermain pada seluruh ajang Major pada tahun ini. Untuk pertama kalinya ia bisa bermain pada The Masters, U.S. Open, The Open Championship, dan U.S. PGA Championship. Meskipun ia hanya berhasil menembus putaran final pada The Open Championship, ia mengaku masih merasa senang bisa melakukannya.

”Ini kejuaraan Major favorit saya. Sejak kecil saya sudah membayangkan bermain pada The Open. Saya gembira bisa lolos cut pada upaya pertama ini. Dan ini juga pertama kalinya saya bisa lolos cut pada sebuah ajang Major,” ujarnya yang kala itu menjelang berusia 22 tahun.

 

Gelar juara Bank BRI Indonesia Open dan Royal Cup yang diraih Justin Harding membuat persaingan menuju No.1 Asian Tour menjadi seru. Foto: Asian Tour.

 

Sementara itu, perlombaan menuju No.1 Asian Tour kian seru ketika Park Sanghyun dan Justin Harding mencuat sebagai dua pemain yang mencatatkan dua kemenangan pada Asian Tour musim ini.

Park mencatatkan dua kemenangan yang keduanya ia raih di Korea. Bulan Mei 2018 lalu, ia menjuarai The 37th GS Caltex Maekyung Open Golf Championship. Empat bulan kemudian, ia menorehkan kemenangan keduanya tahun ini dengan menjuarai The 34th Shinhan Donghae Open. Hingga sebelum turnamen pamungkas, Bank BNI Indonesian Masters presented by Bank BTN, PT Lauta Luas Tbk, dan Bank Mandiri, Park telah bermain dalam 10 turnamen dan selain dua kemenangan itu, ia juga mencatatkan empat kali finis di sepuluh besar, termasuk runner-up pada Kolon Korea Open Golf Championship.

Harding sendiri menjadi salah satu pemain debutan yang fenomenal. Tampil sebagai pemain undangan pada Bank BRI Indonesia Open pada bulan Juli 2018 lalu, Harding langsung menorehkan kemenangan. Dan pada turnamen keduanya pada Asian Tour, pegolf Afrika Selatan ini menorehkan kemenangan kedua pada ajang Royal Cup. Runner-up pada Asia-Pacific Open Golf Championship Diamond Cup turut membantunya memberi tekanan kepada Sharma. Dan ia terlihat bakal sukses memaksakan perlombaan berakhir di Jakarta ketika finis di tempat ke-4 pada AfrAsia Bank Mauritius Open at Anahita. Sayangnya, upayanya tersebut harus terhenti lantaran ia gagal melaju ke putaran akhir pekan pada South African Open hosted by City of Joburg.

Dari sembilan turnamen yang hadiah uangnya dihitung dalam Habitat for Humanity Standings, Sharma telah menorehkan total hadiah senilai US$829.193. Dengan hadiah pertama yang hanya senilai US$135.000 pada Bank BNI Indonesian Masters presented by Bank BTN, PT Lautan Luas Tbk, dan Bank Mandiri, praktis Park (mengumpulkan total US$582.428) maupun Harding (mengoleksi US$489.896) tak lagi dapat mengejar koleksi hadiah yang yang dimenangkan Sharma sepanjang musim ini. Dengan demikian, Sharma pun menjadi pegolf India kelima yang meraih status No.1 Asian Tour.

 

 

“Saya sangat gembira dengan apa yang saya alami. Sudah jelas Asian Tour memainkan peranan yang besar, sebagai Tour yang telah memberi kesempatan kepada saya untuk berkompetisi dan membantu mengembangkan permainan saya hingga mencapai level yang ada seperti saat ini,” tutur Sharma.

“Tahun ini menjadi tahun pelajaran yang luar biasa bagi saya. Saya telah bermain pada sejumlah turnamen terbesar di dunia yang bisa saya bayangkan dan saya belajar banyak. Saya tahu kalau saya memiliki permainan untuk bisa berada di antara para pemain terbaik di dunia dan saya hanya ingin mempertahankan bermain dengan baik dan melakukan yang terbaik.”

Gelar Juara Habitat for Humanity Standings Asian Tour ini merupakan penghargaan kedua yang ia raih, setelah bulan November 2018 lalu ia pun mendapat kehormatan menerima gelar Sir Henry Cotton Rookie of the Year, penghargaan pendatang baru terbaik pada kancah European Tour. Hasil ini juga ia raih berkat kemenangan di Afrika Selatan dan Malaysia, yang kemudian membantunya finis di peringkat 28 pada Race to Dubai Rankings presented by Rolex.

“Anda hanya bisa mendapatkan penghargaan ini sekali dalam karier Anda dan saya sangat gembira bisa melakukannya musim ini. Bisa menang dua kali dan belajar banyak dari para pemain terbaik di dunia, saya bisa bilang kalau saya menikmati tahun yang luar biasa,” ujar Sharma usai menerima penghargaan tersebut.

 

Perjalanan fenomenal Shubhankar Sharma dimulai dari Joburg Open 2017. Kemenangan di Afrika Selatan ini berbuah Sir Henry Cotton Rookie of the Year Award baginya. Foto: Asian Tour.

 

Dengan usia yang masih sangat muda, bintang Sharma jelas akan terus bersinar seiring dengan begitu banyaknya pintu yang terbuka baginya. Dan sudah tentu, kehadiran pemain muda dapat menjadi kekuatan baru yang membangkitkan inspirasi generasi yang lebih muda lagi untuk lebih berelasi dan mengambil inspirasi dari karier Sharma yang melejit.

Publik golf di Indonesia sendiri akan segera dapat melihat langsung aksi Sharma ketika ia kembali ke Royale Jakarta Golf Club pada 13-16 Desember 2018 ini. Dan sekali lagi, Sharma akan membuktikan kapasitasnya ketika bermain dengan sejumlah pemain terbaik dunia … dan Indonesia.

Leave a comment