Brooks Koepka menegaskan posisinya dalam sejarah golf dunia lewat kemenangan PGA Championship kedua di Bethpage Black Course.

Ibarat sebuah film dengan jalan cerita yang sudah bisa ditebak. Kita tetap menyaksikannya, bukan hanya sekadar memastikan tebakan itu benar atau tidak. Sebaliknya, kita menyaksikannya lantaran ingin mengetahui bagaimana sang tokoh mengatasi konflik yang menghadang. Konflik itulah yang menciptakan drama, menghadirkan kisah yang menarik untuk memaku kita ke layar.

Dalam gelaran ke-101 PGA Championship, skenario pada putaran final adalah Brooks Koepka kembali menjadi juara untuk melengkapi empat Major. Semua pihak meyakini hal ini, meskipun pemain, seperti Dustin Johnson, yang juga merupakan sahabat Koepka, berharap sebaliknya.

Lalu drama itu hadir dalam sejumlah bentuk. Pertama, kondisi di lapangan yang berubah drastis, menciptakan neraka bagi banyak pemain, termasuk Koepka. Kedua, Dustin Johnson melakukan upaya terakhirnya untuk menggulingkan sahabatnya itu.

Bethpage Black Course benar-benar berubah brutal ketika Koepka memasuki sembilan hole terakhirnya, setelah mendapat bogey di hole pertama dan birdie di hole 4. Birdie di hole 10 itu seakan menjadi sirna setelah ia mendapat empat bogey berturut-turut. Ketika ia menuntaskan hole 15, keunggulan tujuh stroke pada awal putaran final itu berubah menjadi hanya satu stroke.

Johnson berhasil memberi tekanan yang berarti dengan menciptakan sorakan bersemangat dari para penggemarnya, yang jelas terdengar oleh Koepka, yang bermain di belakangnya.

Setelah itu, partai Koepka vs Johnson memasuki titik paling krusial dengan tiga hole tersisa. Namun, alih-alih menambah tekanan kepada Koepka, Johnson justru harus tumbang berkat dua bogey berturut-turut di hole 16 dan 17, yang praktis mengantarkan trofi ke tangan Koepka. Selisih dua stroke jelas jauh dari cukup bagi pegolf asal Florida itu untuk kembali mengangkat Trofi Wannamaker.

Kemenangan ini menjadikan Koepka sebagai pegolf pria pertama yang memenangkan empat gelar Major dalam tempo kurang dari dua tahun. Sebuah pencapaian yang sangat mengagumkan, mengingat ia seakan terlahir untuk mendominasi Major, setidaknya pada ajang U.S. Open dan PGA Championship. Gelar PGA TOUR non-Major yang ia menangkan hanyalah dua, bandingkan dengan Johnson yang telah mengemas 19 non-Major.

“Dua tahun terakhir ini benar-benar menyenangkan, nyaris dua tahun. Luar biasa. Saya bahkan tidak mengira bisa melakukan pencapaian ini dengan begitu cepat. Rasanya orang lain pun tidak, dan bisa berdiri di sini pada hari ini dengan empat Major, benar-benar luar biasa,” ujar Koepka.

“Hari ini jelas menjadi hari yang paling memuaskan, mengingat betapa menegangkannya putaran final ini.” – Brooks Koepka

“Hari ini jelas menjadi hari yang paling memuaskan, mengingat betapa menegangkannya putaran ini, betapa DJ membuatnya menjadi sangat sengit. Saya yakin akan faktanya bahwa itulah momen yang paling menyenangkan dalam hidup saya sepanjang memainkan 18 hole.”

Meskipun skor 4-over 74 miliknya sedikit menggambarkan beratnya kondisi lapangan pada hari terakhir, Koepka menegaskan bahwa pohon menjadi patokan melakukan pukulan agar tidak terpengaruh oleh embusan angin.

“Begitu bola berada di atas pohon, angin bisa melakukan apa saja. Anda harus memukul dengan ketinggian yang tanggung dan sejauh ini sangat menyenangkan. Puas rasanya bisa finis di hole 18. Sudah pasti, saya senang kami tak perlu bermain lagi.”

Narasi seputar Koepka ini jelas istimewa, mengingat ia melakukannya justru dalam usia emas seorang atlet. Permainannya yang demikian mendominasi juga seakan mengingatkan pada ketangguhan Tiger Woods pada masa mudanya. Uniknya, ketika Rory McIlroy, yang semula disebut sebagai penerus Woods, justru masih tenggelam dan belum meraih kemenangan Major lagi sejak 2014, Koepka justru cemerlang dalam usianya yang kian matang sebagai individu.

Koepka kini menjadi pegolf pertama yang memegang posisi teratas sejak awal turnamen sampai putaran final dalam 36 tahun sejarah PGA Championship. Ia menyamai prestasi yang ditorehkan Hal Sutton (1983), Raymond Floyd (1982), Jack Nicklaus (1971), dan Bobby Nichols (1964). Ia juga menjadi pemain pertama dalam sejarah golf yang berhasil mempertahankan gelar juaranya dalam dua ajang Major pada saat bersamaan, yaitu U.S. Open 2017 dan 2018, serta PGA Championship 2018 dan 2019.

Ia juga bakal kembali menempati No.1 dunia untuk ketiga kalinya, setelah memulai PGA Championship dengan berada di peringkat 3.

Sementara itu, prestasi terbaik pemain Asia dibukukan oleh pegolf Korea Selatan Kang Sung, yang berhasil menorehkan skor 68-70-70-72 dan berada di peringkat 7.

Adapun wakil Asia Tenggara dari Thailand Jazz Janewattanananond menutup debut PGA Championship ini dengan finis di peringkat T14. Meskipun ia harus bermain dengan skor 77 pada hari terakhir, Jazz melampaui ekspektasinya ketika tiba di Bethpage Black. Peringkatnya ini juga memberinya prestasi terbaik selama bermain pada ajang Major. Dan sudah pasti posisinya pada Habitat for Humanity Standings Asian Tour akan kian kukuh.

Leave a comment