Jordan Spieth tampil fenomenal untuk memimpin bersama Xander Schauffele, sementara Lee Kyounghoon mempertahankan peluang mewujudkan impiannya.

ketiga Waste Management Phoenix Open kemarin (6/2) menempatkannya sebagai pimpinan klasemen, sekaligus membuka peluang untuk meraih gelar PGA TOUR pertamanya sejak 2017.

Spieth melakoni tiga putaran yang unik pada pekan ini. Dalam dua putaran pertama, catatan skornya di sembilan hole pertama di TPC Scottsdale hanyalah 1-under setelah hanya menorehkan satu birdie, satu eagle, dan dua bogey. Namun, sembilan hole terakhirnya justru membantu Spieth untuk bisa membukukan dua skor 67.

Hal serupa kembali terjadi pada putaran hari Sabtu, namun kali ini dengan catatan yang jauh lebih baik. Ia berhasil bermain 4-under berkat birdie di hole 3, 4, 6, dan 8, sebelum memanen enam birdie lagi di sembilan hole terakhirnya.

”Rasanya saya bermain teramat sangat sabar dan memukul bola dengan baik,” tutur Spieth yang gagal lolos cut pada ajang Farmers Insurance Open pekan lalu. ”Saya hanya berusaha memukul bola agar sampai ke green ketika bola saya berada di posisi yang tidak ideal dan berusaha menyerang pin jika memungkinkan. Rasanya saya bermain golf dengan lebih baik ketimbang mengayunkan club saya. Saya memberi tahu Michael (kedinya) kalau saya merasa kesabaran saya bernilai A, sedangkan swing saya B minus.”

Kehadiran penggemar di lapangan juga memberikan energi tersendiri kepada Spieth. Ia jelas merasakan dukungan dan sorakan tersebut ketika melakukan chip-in dari jarak sekitar 21 meter di hole 10.

 

 

”Itu chipping yang sulit karena bola harus melewati punggung gundukan, namun begitu meninggalkan clubface saya langsung yakin bolanya memiliki kecepatan yang tepat. Dan sekali lagi, sudah jelas, bola yang masuk menjadi bonus dari jarak jauh,” tutur Spieth.

Dengan skor total 18-under 195, Spieth menempati peringkat teratas bersama Xander Schauffele. Keduanya unggul tiga stroke dari Scottie Scheffler dan wakil Asia Lee Kyounghoon, dan empat stroke lebih baik daripada Louis Oosthuizen dan Justin Thomas.

”Putaran kali ini jelas membangun rasa percaya diri. Namun, saya bisa membayangkan kalau saya akan merasa sangat gugup, setidaknya ketika memulai putaran final. Memang saya sering berada di posisi seperti ini, tapi itu juga sudah lama sekali,” sambung Spieth.

”Lucunya, terakhir kalinya saya bermain di grup terakhir dalam sebuah turnamen adalah ketika bermain dengan Xander pada Open Championship 2018. Semoga saja kami bisa bermain sedikit lebih baik dan memberikan hasil yang lebih baik daripada yang kami peroleh waktu itu.”

Lee Pertahankan Peluang
Jika Spieth menikmati permainan fenomenalnya, pegolf Korea Lee Kyounghoon mempertahankan peluang untuk mewujudkan impiannya menjuarai ajang PGA TOUR. Untuk ketiga kalinya ia berhasil membukukan skor 5-under 66.

Putaran ketiganya itu turut diwarnai dengan birdie dari sebuah pukulan bunker di hole 6, birdie dari jarak 8,5 meter di hole 8, dua putt untuk birdie di hole 15, chipping untuk eagle dari jarak 36,5 meter di hole 17, untuk akhirnya mengakhiri putaran ketiga dengan birdie dari jarak 3 meter.

”Pukulan saya meleset dari fairway di hole 2 dan jelas menciptakan awal yang kurang bagus, tapi saya masih bisa mengamankan par. Hal inilah yang membantu saya sehingga tidak kehilangan momentum,” tutur pegolf berusia 29 tahun ini.

”Saya tidak menduga pukulan di hole 17 itu akan masuk (untuk eagle). Posisi bola saya bagus dan merasa nyaman berdiri menghadapi pukulan ini. Setelah melakukan chip, bolanya memantul dan saya pikir bolanya berpeluang masuk. Dan setelah masuk rasanya luar biasa … saya merasa lebih bersemangat dan memiliki energi yang lebih sehingga bisa mendapat birdie di hole 18. Sekarang saya berjarak tiga stroke dan saya pikir saya punya kesempatan jika bisa fokus dan memainkan permainan saya sendiri.”