Hideki Matsuyama membuka peluang juara pada Masters Tournament menyusul skor 7-under 65 yang ia bukukan pada akhir pekan.

Pegolf asal Jepang Hideki Matsuyama menempatkan dirinya di ambang sejarah Masters Tournament. Pada putaran ketiga di Augusta National Golf Club itu, ia membukukan skor 7-under 65 sehingga total skornya kini menempatkannya di puncak klasemen dengan keunggulan empat stroke.

Sejauh ini belum pernah ada satu pegolf Asia pun yang sukses mengenakan Jaket Hijau, simbol juara yang tiap tahun dianugerahkan kepada sang juara. Namun, pegolf berusia 29 tahun ini kini memiliki kesempatan terbaik untuk mewujudkan hal tersebut setelah di sembilan hole terakhirnya kemarin (10/9) ia menorehkan skor 30 berkat empat birdie dan sebuah eagle. Kini ia mencatatkan skor total 11-under 205.

Matsuyama seakan tancap gas menyusul jeda selama satu jam dan 15 menit akibat cuaca buruk. Ia memanfaatkan kondisi lapangan yang lebih lembut dan bermain agresif. Menyusul pukulan recovery yang ia lakukan di hole 11, ia sukses mencatatkan birdie dari jarak kurang dari 6 meter, lalu menambah birdie lagi di hole 12, 16, dan 17, plus eagle di hole 15 par 5 menyusul pukulan approach yang indah, yang mengantarkan bola hingga berjarak 1,5 meter. Lalu di hole terakhir, Matsuyama sukses mengamankan par setelah melakukan up-and-down dari belakang green. Inilah pertama kalinya kartu skornya bersih dari catatan bogey. Skor 65 ini sekaligus menjadi skor terendah yang pernah ia torehkan selama bermain di Augusta National.

”Sebelum sirine berbunyi, mungkin saya melakukan pukulan terburuk sepanjang pekan ini (di hole 11). Namun, setelah permainan kembali berlanjut, praktis saya melakukan setiap pukulan sesuai dengan yang saya mau. Saya mendapati bahwa saya tidak bisa melakukan pukulan yang lebih buruk daripada yang sudah saya lakukan. Dan mungkin itulah sebabnya tekanan terasa berkurang,” jelas Matsuyama.

Sepuluh tahun silam, ia berada di Butler Cabin sebagai remaja berusia 19 tahun, menerima Silver Cup sebagai penghargaan bagi pegolf amatir terbaik pada Masters 2011. Ia juga menyaksikan dari dekat bagaimana pegolf Afrika Selatan Louis Oosthuizen mengenakan Jaket Hijau. Dan kin ia berharap gilirannya akan tiba pada hari Minggu ini, sepekan setelah rekan senegaranya, Tsubasa Kajitani (17 tahun), menjuarai Augusta National Women’s Amateur.

Matsuyama sendiri telah dua kali finis di sepuluh besar, plus tiga kali masuk 20 besar. Dari sembilan penampilan sebelumnya, ia juga hanya sekali gagal lolos cut. Skor 65 ini merupakan skor par atau under ke-10 secara beturut-turut yang ia bukukan di Augusta National. Dan ketika ditanya apa artinya bagi Jepang jika ia berhasil menang hari Minggu ini, ia membalas, ”Saya tidak yakin bagaimana menjawab pertanyaan itu. Yang bisa saya lakukan ialah mempersiapkan diri dengan baik, berusaha semaksimal mungkin, dan melakukan yang terbaik sebisa saya besok (hari ini). Saya suka bermain di sini, dan semoga bisa memainkan hole 11 dengan lebih baik besok.”

 

 

Hari Minggu ini Matsuyama akan berusaha untuk meraih gelar PGA TOUR keenam dan pertamanya sejak Agustus 2017. Dalam sepuluh tahun terakhir, ia telah enam kali menorehkan sepuluh besar dalam ajang Major, dengan T2 pada U.S. Open 2017 sebagai prestasi terbaiknya. Adapun pada ajang Masters kali ini pencapaian terbaik ia bukukan pada tahun 2015 ketika finis di tempat ke-5, satu tempat di belakang Shingo Katayama (4/2009) dan Toshi Izawa (T4/2001). Namun, prestasi terbaik Asia dibukukan oleh Im Sungjae ketika finis T2 pada bulan November 2020 lalu.

Matsuyama yang tumbuh besar di Jepang mengingat dengan jelas bagaimana Tiger Woods meraih kemenangan pertamanya pada Masters, termasuk chip-in birdie di hole 16 pada tahun 2005. Peristiwa itulah yang kemudian menginspirasi dirinya untuk meningkatkan kemampuannya pada olahraga ini. ”Saya punya begitu banyak kenangan mengesankan ketika menyaksikan Masters ketika masih kecil. Saya bermimpi suatu hari nanti bisa bermain di sini,” ujar Matsuyama, yang dua kali menjuarai Asia-Pacific Amateur Championship dan mendapat undangan Masters pada tahun 2011 dan 2012.

Jepang sendiri telah menempatkan dua pegolf wanitanya, Hisako Higuchi dan Hinako Shibuno, sebagai pemenang Major. Kini Matsuyama berharap ia bisa menciptakan kenangan baru dan menulis sejarah golf pada hari Minggu ini.

Pada putaran final nanti, Matsuyama akan bermain dengan Xander Schauffele, yang juga tengah mengincar Major pertamanya. Dalam 30 tahun terakhir, juara Masters yang muncul dari grup terakhir tercipta sebanyak 25 kali. ”Ini akan menjadi pengalaman baru bagi saya dengan menjadi pimpinan klasemen menuju putaran final pada ajang Major. Saya pikir yang bisa saya lakukan sekarang ialah rileks sebisa mungkin malam ini, bersiap dengan baik, dan melakukan yang terbaik besok,” tandasnya.

Selain Schauffele, yang kemarin mencatatkan skor 68, tempat kedua juga dihuni oleh Marc Leishman (70), Justin Rose (72), dan Will Zalatoris (71), yang sama-sama mencatatkan skor 209. Corey Connoers (68) berada satu stroke di belakang mereka. Sementara itu, Kim Siwoo, yang memulai putaran ketiga dengan selisih tiga stroke dari puncak klasemen harus puas dengan skor 74 dan berada di peringkat T10 dengan 2-under 214.

1 Comments

Comments are closed.