Hideki Matsuyama menciptakan sejarah bagi Asia menyusul kemenangan satu stroke pada Masters Tournament.

Hideki Matsuyama menciptakan sejarah pada Masters Tournament pada hari Minggu (11/4) kemarin setelah mengatasi tekanan dan harapan dari negaranya untuk menjadi pegolf pria Jepang pertama yang meraih kemenangan di Augusta National. Ia pun akhirnya mewujudkan impian mengenakan Jaket Hijau yang terkenal itu.

Memegang keunggulan empat stroke ketika memulai putaran final, skor 1-over 73 yang ia bukukan kemarin sudah cukup untuk memberikan kemenangan satu stroke dengan skor total 10-under 278 atas pemain debutan Will Zalatoris. Prestasinya ini membuat Matsuyama berhasil menjadi pegolf Asia kedua yang menjuarai Major setelah Y.E. Yang meraih kemenangan pada PGA Championship 2009.

Bintang Matsuyama yang meroket seakan mencapai puncak dalam kariernya yang cemerlang. Persis sepuluh tahun silam di Augusta National ia menegaskan kehadirannya di kancah golf dunia dengan meraih status pemain amatir terbaik dalam debut Mastersnya. Kemudian ia menyaksikan secara langsung bagaimana Phil Mickelson mengenakan Jaket Hijau kepada Charl Schwartzel. Lalu ia sendiri bisa dengan bangga mengenakan Jaket Hijau itu tatkala Dustin Johnson memberinya kehormatan serupa di Butler Cabin, Minggu sore itu.

Kemenangan ini sekaligus memberikan gelar PGA TOUR keenam bagi Matsuyama, sekaligus yang pertama sejak Agustus 2017. Dan uniknya, kemenangan yang sudah lama dinantikan ini seakan sudah digariskan ketika sepekan sebelumnya rekan senegaranya, Tsubasa Kajitani memenangkan Augusta National Women’s Amateur. Pencapaian ini sekaligus memperbaiki prestasi Matsuyama sebelumnya ketina finis di peringkat 5 dan T7 pada Masters tahun 2015 dan 2016, serta T2 pada U.S. Open 2017.

”Saya sangat gembira,” ujar matsuyama melalui penerjemahnya sejak lama, Bob Turner. ”Adrenalin saya benar-benar tidak tercipta dari sembilan hole terakhir, namun sejak awal sampai putting terakhir itu. Semoga saya bisa menjadi pelopor dengan kemenangan Masters ini dan banyak pegolf Jepang lain bisa mengikuti jejak saya. Saya senang bisa membuka kemungkinan tersebut, dan semoga ada lebih banyak lagi yang bisa mengikuti prestasi ini.”

 

 

Matsuyama harus menghadapi Zalatoris yang sejak awal sudah tancap gas. Ketika Zalatoris mencatatkan serangkaian birdie, ia justru harus mendapat bogey sehingga keunggulannya segera menjadi satu stroke. Namun, pegolf Jepang ini lekas bangkit dengan birdie di hole 2, 8, dan 9 sehingga menuju sembilan hole terakhir dengan keunggulan lima stroke yang terasa meyakinkan.

Namun, seperti yang banyak diungkapkan oleh banyak orang di Agusta National, Masters Tournament baru dimulai di sembilan hole terakhir pada hari Minggu Sore. Matsuyama pun segera merasakan tekanan dalam usahanya mengejar kemenangan Major pertamanya. Ia mendapat empat bogey, termasuk tiga di empat hole terakhirnya, namun pada akhirnya tetap bertahan setelah melakukan dua putt yang aman dari jarak kurang dari 2 meter untuk bogey di hole terakhir. Setelah bebannya terangkat dan kemenangannya itu meresap, barulah ia mengangkat tangannya penuh kemenangan sembari meneteskan air mata kegembiraaan sembari melangkah ke clubhouse.

”Rencana saya pagi ini ialah bangun sekitar pukul 9:30. Namun, saya malah bangun lebih awal dan tak bisa tidur lagi. Jadi, saya ke lapangan lebih pagi. Saya melakukan pemanasan dengan baik. Rasanya saya siap untuk tee pertama, sampai saya berada di sana, dan kemudian baru saya sadar kalau saya berada di grup terakhir pada Masters Tournament dan memimpin empat stroke. Dan setelah itulah saya benar-benar merasa gugup,” tutur Matsuyama, yang menjadi pegolf kedelapan yang meraih Jaket Hijau dengan bermain di atas par pada putaran final.

”Namun, saya lekas tersadar, dan rencananya ialah bermain dan melakukan yang terbaik selama 18 hole terakhir itu. Jadi, itulah yang saya bayangkan sepanjang hari, berusaha sebaik mungkin. Permainan saya sebenarnya mengalami sedikit kendala belakangan ini. Tahun ini saya belum sekali pun masuk sepuluh besar, saya belum benar-benar bersaing untuk menang. Jadi, saya ke Augusta dengan sedikit bahkan tanpa ekspektasi. Namun, seiring perjalanan pekan ini, saat berlatih, terutama hari Rabu, saya mulai merasakan sesuatu. Saya menemukan sesuatu dalam swing saya. Dan kemudian seketika itu percaya diri saya kembali. Dana saya pun memulai turnamen ini dengan penuh percaya diri.”

”Saya berharap kemenangan ini bisa memberi dampak bagi golf di Jepang secara positif. Bukan hanya kepada mereka yang sudah menjadi pegolf, tapi semoga saja generasi muda yang bermain golf atau berpikir hendak bermain golf.” — Hideki Matsuyama.

Kini Matsuyama tak sabar untuk segera pulang ke negaranya untuk merayakan kemenangan ini dengan keluarga dan sahabatnya. ”Saya tak bisa bayangkan seperti apa jadinya di sana, tapi sungguh suatu kehormatan bisa membawa pulang Jaket Hijau ini ke Jepang. Saya sungguh tak sabar,” ujar Matsuyama. Kemenangannya ini pun menempatkannya ke peringkat 7 pada klasemen FedExCup.

”Saya berharap kemenangan ini bisa memberi dampak bagi golf di Jepang secara positif. Bukan hanya kepada mereka yang sudah menjadi pegolf, tapi semoga saja generasi muda yang bermain golf atau berpikir hendak bermain golf. Saya berharap mereka menyaksikan kemenangan ini dan bisa berpikir bahwa mengikuti langkah saya ini keren dan mereka terdorong melakukannya. Sampai sekarang, kami belum memiliki seorang juara Major (pria) di Jepang, dan mungkin banyak pegolf atau pegolf muda juga, berpikir, mungkin mustahil mewujudkannya. Namun, saya berhasil melakukannya, semoga prestasi ini menjadi contoh bagi mereka bahwa meraih Major itu adalah hal yang mungkin terwujud; jika mereka serius menargetkannya, mereka pun bisa melakukannya.”

Lalu apakah terobosannya pada Masters Tournament ini akhirnya memberinya posisi yang sangat istimewa di antara nama besar Jepang lainnya, seperti Isao Aoki, Jumbo Ozaki, Tommy Nakajima, Shigeki Maruyama, dan Shingo Katayama? Matsuyama menjawab dengan sederhana, ”Begini, saya tidak bisa bilang kalau saya telah menjadi pegolf terbesar (di antara yang lain). Namun, sayalah yang pertama kali memenangkan Major, dan jika itu barometernya, berarti saya sudah melakukannya.”Jadi

Juara Masters 2015 Jordan Spieth, dan Xander Schauffele yang bermain bersama Matsuyama pada grup pamungkas akhirnya finis tiga stroke di belakang sang juara di posisi T3 setelah masing-masing menuntaskan putaran final dengan skor 70 dan 72. Zalatoris sendiri mencatatkan debut mengagumkan dengan finis satu stroke di belakang Matsuyama.

Satu wakil Asia lainnya, Kim Siwoo menuntaskan putaran final dengan skor 72 dan finis T12 dengan skor 2-under 286. Prestasinya ini sudah cukup untuk menjamin tempatnya pada Masters Tournament 2022.