Brandon Wu siap untuk segera menyandang nama besar di level profesional tatkala akhirnya menembus PGA TOUR.

Oleh Chuah Choo Chiang, Senior Director, International Marketing & Communications Asia Pacific PGA TOUR, berdomisili di Kuala Lumpur, Malaysia.

Pembicaraan seputar golf angkatan tahun 2019 sejauh ini berpusat pada trio pemain berbakat Collin Morikawa, Viktor Hovland, dan Matthew Wolff. Bakat dan usia muda mereka telah membawa mereka memasuki PGA TOUR dengan meyakinkan.

Satu nama lagi yang kini berniat untuk menegaskan takdirnya dan menjadi bagian dari pembicaraan ialah Brandon Wu. Pegolf China-Amerika ini lulus pada tahun yang sama. Andaikan saja pandemi COVID-19 tidak terjadi, ia bakal mendapati dirinya berada di panggung terbesar golf bersama teman-temannya itu tahun ini.

Jalan hidup Wu menjadi berbeda. Ia harus menempuh jalan berliku dan terjal untuk bisa mencapai impiannya. Alih-alih bertanding pada ajang yang memperebutkan hadiah jutaan dollar, Wu, yang akan berusia 24 tahun pada bulan Februari ini, mendapati dirinya harus menempuh Kualifikasi Hari Senin untuk turnamen-turnamen pada ajang Korn Ferry Tour pada sebagian besar tahun 2020 lantaran gagal mengamankan status penuhnya pada Qualifying School.

Namun, ketika Anda memiliki karier amatir, termasuk mencapai peringkat 8 pada World Amateur Golf Ranking, memperbaiki rekor golf dengan menjadi pegolf amatir pertama sejak 1967 yang bisa bermain pada British Open dan U.S. Open, mewakili AS pada Walker Cup, dan memimpin Stanford menjuarai NCAA Championship dalam 12 tahun, karier Wu terlihat begitu bersinar dan menjanjikan gemilang karier yang menjanjikan.

Dalam tahun pertamanya pada Korn Ferry Tour, pada ajang Price Cutter Charity Championship bulan Juli 2020 lalu, ajang yang diwarnai dengan penantian yang membuat frustrasi, Wu memimpin tiga stroke menuju putaran final sebelum akhirnya finis T9. Alih-alih terbenam, kedewasaan Wu membawanya menerima kekalahan itu apa adanya, dan meraih kemenangan profesional pertamanya pada Korn Ferry Tour Championship sebulan kemudian. Dua finis runner-up lainnya dan satu finis di sepuluh besar telah berhasil membawanya ke peringkat empat pada klasemen Korn Ferry Tour Regular Season.

 

Kemenangan pada Korn Ferry Tour Championship dan dua runner-up lain seharusnya membawa Brandon Wu ke PGA TOUR jika bukan karena pandemi COVID-19. Foto: Getty Images.

 

 

Dalam masa-masa yang normal, pencapaiannya itu sudah lebih dari cukup untuk memberinya kartu PGA TOUR. Namun, menyusul pandemi virus corona, sirkuit pengembangan ini akan memadukan musim 2020 dan 2021. Artinya, Wu harus menunggu sampai akhir tahun nanti untuk bisa bermain dengan Morikawa, Hovland, Wolff, dan bintang-bintang golf lainnya.

Sikap Bi Yuan, nama China Wu, menjalani ujian dalam kariernya yang demikian luar biasa menjadi cerminan bagaimana ia dibesarkan dalam budaya dan warisan keluarganya.

”Di rumah kami membangun kesadaran yang kuat pada nilai-nilai kerja keras, sikap hormat, dan melakukan segalanya dengan benar. Saya pikir sudah sewajarnya orangtua saya menanamkan nilai-nilai tersebut dalam hidup saya,” ujar Wu. ”Rasanya keren saja bisa memiliki latar belakang demikian, dengan warisan dan sejarah keluarga seperti itu. Terhisap dalam budaya justru membantu perspektif saya dalam melihat hal-hal lain yang saya lakukan.”

Sebagai seorang anak kecil, ia menikmati menghabiskan waktunya membangun sesuatu. Tidak heran jika perkembangan selanjutnya membawanya untuk mengambil kuliah di bidang teknik di Stanford, universitas yang sama tempat Tiger Woods berkuliah selama beberapa tahun sebelum mendominasi golf dengan menyamai rekor kemenangan sebanyak 82 gelar PGA TOUR.

Kedua orangtuanya, Yi Chun dan Xiao Bing Zhang, pindah dari Beijing ke California pada tahun 1996. Setahun kemudian, Wu lahir sebagai putra pertama dari tiga anak laki-laki. Dengan rumah mereka yang dekat dari lapangan golf di Danville, Wu kemudian dikenalkan pada golf ketika berusia 6 tahun, persis ketika sang ayah pun diserbu oleh demam golf.

”Seperti anak-anak lainnya, saya memainkan berbagai cabang olahraga. Saya berenang, main baseball, tenis … saya mainkan semuanya. Saya juga sering main golf waktu kecil karena menyenangkan bisa diajak ayah ke lapangan, berkendara di atas golf cart, dan memukul bola. Kegiatan ini jelas merupakan aktivitas yang sangat mengikat hubungan ayah dan anak,” kenang Wu.

”Suatu ketika, saya sedang berada di tee box hole 10, berdiri di dekat pembatas dan Tiger berjalan, menoleh ke saya dan menyapa, lalu saya membalas sapaannya. Akhirnya, ia memberi bola golfnya kepada saya.” — Brandon Wu.

Ia ingat bermain dengan skor 56 dalam turnamen sembilan hole ketika masih berusia 8 tahun. ”Saya pikir main saya sudah oke, tapi ayah saya berpikir kalau seharusnya saya bisa main lebih bagus dan ia benar. Saya mulai berusaha mendapatkan skor yang lebih baik setelah itu. Saya senang orangtua saya mendorong saya bermain golf. Mereka melihat gambaran yang lebih besar, apa yang golf bisa berikan, entah itu kesempatan untuk masuk Stanford atau menjadi pegolf profesional. Mereka menyiapkan jalan buat saya.”

Meski berkewarganegaraan Amerika, jiwanya kental dengan semangat Asia dan China. Ia fasih berbahasa Mandarin, berkat kedua orangtuanya yang selalu berkomunikasi dengan bahasa itu kepada anak-anaknya, termasuk ketika tinggal selama enam tahun di Beijing sejak 2005. Pada periode inilah Wu kian terpikat pada golf lantaran sang ayah membawanya menyaksikan satu-satunya ajang World Golf Championships di Asia, World Golf Championships-HSBC Champions di Shanghai. Ia bahkan sampai ikut pro-am setahun setelah menjuarai ajang junior yang merupakan bagian dari HSBC Junior Golf Programme di sana.

”Saya sering bermain pada sirkuit junior HSBC … Sangat menyenangkan,” ujar Wu. ”Kami menghadiri ajang HSBC Champions tiap tahun, dan menyaksikan Tiger ketika dia main. Suatu ketika, saya sedang berada di tee box hole 10, berdiri di dekat pembatas dan Tiger berjalan, menoleh ke saya dan menyapa, lalu saya membalas sapaannya. Akhirnya, ia memberi bola golfnya kepada saya.

”Tahun lainnya, saya ikut pro-am dan berinteraksi dengan Trevor Immelman, Retief Goosen, K.J. Choi, dan Sergio Garcia. Itu pengalaman yang keren. Melihat perkembangan dari bermain di China sampai bersaing dengan mereka yang saya idolakan, rasanya keren sekali bisa mengalami semua itu.”

Ketika Korn Ferry Tour kembali dimulai bulan Februari ini, Wu berharap untuk tetap berada di jajarak 25 besar daftar peraih poin ketika Regular Season berakhir bulan Agustus mendatang. Dengan demikian, ia bisa mengamankan kartu impiannya untuk bermain pada PGA TOUR.

Meski demikian, ia juga memiliki target yang lebih tinggi lagi.

 

Brandon Wu (tengah) dan keluarganya seusai menerima ijazah Stanford yang diserahkan USGA pada U.S. Open 2019. Foto: Dok. Pribadi Brandon Wu.

 

”Tiap spot yang lebih baik akan memberikan status yang lebih baik juga. Berusaha untuk menjadi yang terbaik dan menjuarai daftar peraih hadiah uang akan menjadi target yang bagus,” tuturnya lagi.

Wu yang kini berdomisili di Dallas juga berteman baik dengan Morikawa, yang keberhasilan awalnya mencakup kemenangannya pada PGA Championship tahun lalu. Hovland telah menang dua kali, sedang Wolff telah meraih satu gelar. ”Keren juga mereka menunjukkan jalur seperti itu dan menunjukkan kepada semua orang bahwa sukses itu bisa diraih dan bisa diraih dengan sangat cepat,” komentar Wu terhadap ketiga bintang muda tersebut. ”Prestasi mereka menjadi motivasi agar saya bisa bergabung dengan mereka.”

Wu sendiri telah mencicipi PGA TOUR berkat kualifikasi dan undangan sponsor. Sejauh ini ia telah bermain pada delapan turnamen, termasuk tiga ajang Major. Finis T17 pada ajang Houston Open 2019 menjadi hasil terbaiknya sejauh ini, tapi Wu meyakini waktunya akan tiba. ”Bermain pada ajang Major sangatlah menyenangkan. U.S. Open (tahun 2019) memberi rasa campur aduk buat saya, ada perasaan spesial bisa main di Pebble Beach dan dekat dari Stanford. Pada akhirnya, saya melewatkan wisuda yang jatuh pada putaran final. Setelah bermain dengan DJ (Dustin Johnson), USGA memberikan ijazah usai putaran final itu dan ini menjadi momen yang sangat spesial dan berkesan,” kenang Wu. Kala itu keluarganya juga hadir di sana.

”Tahun lalu juga menjadi tahun yang menarik karena saya mengalami bagian tersulit yang bisa dialami seorang pegolf profesional. Mulai dari Kualifikasi Hari Senin, berusaha untuk bisa mengikuti sebuah ajang, dan sampai kalah di play-off. Namun, saya juga mendapatkan pengalaman terbaik, main dengan bagus dan menjuarai turnamen pro pertama saya. Lega sekali bisa menang. Sepertinya saya telah belajar berbagai kesabaran pada tahun 2020. Saya pikir saya orang yang sabar, tapi Anda harus benar-benar yakin dan percaya pada diri sendiri.”

Ia sadar bahwa kehidupan seorang pegolf adalan perjalanan penemuan dan belajar yang tak pernah berakhir. ”Jelas ada pertumbuhan untuk suatu peningkatan. Saya juga berpikir kalau saya bisa bersaing dengan para pegolf terbaik PGA TOUR, tapi saya juga tahu kalau saya bisa menjadi lebih baik lagi. Saya perlu lebih bekerja keras untuk mencapai impian saya. Target saya ialah menjadi salah satu yang terbaik di dunia. Saya pikir saya punya rencana dan ide yang baik tentang apa yang mesti saya lakukan untuk mencapainya. Memenangkan beberapa turnamen dan Major adalah target yang layak diperjuangkan.”