Skuad Eropa membidik kemenangan Major pertama tahun 2020 lewat PGA Championship pekan ini.

Setelah Ryder Cup terpaksa digeser ke tahun 2021, panggung persaingan hegemoni Eropa vs Amerika rasanya hanya bisa kita saksikan melalui ajang Major. Walaupun merupakan kompetisi individual, tak jarang kemenangan wakil Eropa di Amerika terasa memuaskan.

Meski demikian, dominasi Amerika tahun ini memang terlihat dari Official World Golf Ranking saat ini. Dengan 10 dari 15 peringkat teratas dunia ditempati para pegolf Amerika, wakil Eropa di jajaran paling elite itu hanya dihuni oleh Jon Rahm (no.2), Rory McIlroy (no.3), Tommy Fleetwood (no.13), dan Tyrell Hatton (no.14).

Lalu siapa kira-kira pemain Eropa yang sanggup menaklukkan hegemoni Amerika lewat ajang Major yang, untuk pertama kalinya dalam 104 tahun usianya ini, digelar sebagai Major pertama dalam setahun?

Jon Rahm
Mantan pegolf amatir no.1 dunia ini mungkin hanya berada di takhta teratas dunia selama satu pekan. Tapi setidaknya, ia telah mencapai salah satu targetnya sebagai profesional. Perkara kembali lagi ke posisi itu hanya tergantung sejauh mana konsistensi permainannya memberi gelar juara. Dan ketika Anda telah memenuhi salah satu target karier, Anda cenderung berfokus mengejar target selanjutnya. Dan bagi Rahm target itu adalah Major.

Jelas Major kali ini memberi nuansa berbeda dan Rahm sendiri mengakuinya ketika menyampaikan, ”Memang terasa sedikit lebih berbeda.” Namun, ia juga lekas menambahkan, ”Dalam pekan-pekan kejuaraan Major, Anda tak memerlukan sesuatu yang istimewa atau bahkan para penonton untuk membuat kami sadar bahwa kami tengah bertanding dalam kejuaraan Major. Sudah jelas kehadiran penggemar dan para penonton menjadi sesuatu yang hilang.”

Dari segi performa, Rahm memang terlihat harus berjuang mengembalikan performanya. Bahkan setelah menjuarai Memorial Tournament dan menjadi no.1 dunia untuk pertama kalinya, ia harus finis di posisi T52 pada pekan lalu.

”Kondisinya hampir mendekati kondisi yang biasa kami mainkan pada European Tour yang, bagi saya sendiri, saya mainkan dengan cukup bagus. Jadi, semoga saya bisa main maksimal pekan ini.” — Jon Rahm.

Selain itu, catatannya pada ajang Major ini juga tidaklah istimewa. Selain T4 pada tahun 2018, ia hanya finis T58 pada debutnya tahun 2017, dan gagal lolos cut setahun kemudian.

Tapi apakah peluangnya sirna? ”Kondisinya hampir mendekati kondisi yang biasa kami mainkan pada European Tour yang, bagi saya sendiri, saya mainkan dengan cukup bagus. Jadi, semoga saya bisa main maksimal pekan ini.”

Rory McIlroy
Sepasang gelar U.S. Open dan sepasang gelar PGA Championship. Mengingatkan kita pada Brooks Koepka. Tapi bagi pemain sekaliber Rory McIlroy, enam tahun tanpa gelar Major rasanya sudah terlalu lama.

Tapi sentuhan magisnya sepertinya juga belum sepenuhnya kembali. Dengan finis terbaik T11 pada Travelers Championship, mantan pegolf nomor satu dunia ini belum mencatatkan hasil yang solid untuk memberinya bekal mengakhiri puasa Major pada pekan ini.

Kabar baik bagi penggemarnya adalah bahwa catatan McIlroy pada PGA Championship sebenarnya tidaklah buruk. Dalam 11 partisipasinya, ia hanya sekali gagal lolos cut. Empat kali ia finis di zona tiga besar dengan dua di antaranya sebagai juara.

Motivasi untuk mendapatkan serta mempertahankan momentum mungkin bakal menjadi faktor penentu bagi McIlroy pekan ini. ”(Tidak memenangkan Major dalam enam tahun terakhir) memang tidak membuat saya terjaga tiap malam dan saya pun tak memikirkan hal ini tiap hari. Tapi begitu bermain dalam kejuaraan Major, fakta itu pasti teringat,

”Kalau bisa terus bermain seperti beberapa waktu terakhir, main sedikit lebih efisien dengan skor saya, posisi saya akan ada di tempat yang semestinya.” — Rory McIlroy.

”Saya merasa semua aspek permainan saya cukup bagus. Drive saya bagus, sebagian besar permainan iron saya juga bagus. Tinggal mempertahankan momentum, dan memasukkan putt untuk mempertahankan skor bagus dalam satu putaran. Saya rasa permainan saya kian mendekati (kondisi ideal). Kalau bisa terus bermain seperti beberapa waktu terakhir, main sedikit lebih efisien dengan skor saya, posisi saya akan ada di tempat yang semestinya,” jelas McIlroy.

Tyrell Hatton
Nama ini mungkin kurang akrab bagi sebagian penggemar golf di Indonesia. Tapi belakangan ini pegolf asal Inggris ini memiliki performa yang cukup bagus. Termasuk ketika menjuarai Arnold Palmer Invitational, disusul dengan T3 pada RBC Heritage dan T4 pada Rocket Mortgage Classic.

Koresponden BBC Iain Carter menyebut pegolf temperamen ini punya kemampuan yang baik untuk menyalurkan emosinya dengan cara yang positif. Carter melanjutkan, ”Absennya keramaian para penggemar yang riuh di San Francisco bisa terbukti bermanfaat bagi pegolf yang sederhana, tapi berkemampuan efektif ini.

Sukses pada pekan ini tak hanya akan melambungkan namanya, tapi bakal membawanya ke grup elite yang jelas memberinya hak eksklusif di Amerika dan Eropa. Sebab jika berhasil menang, ia menjadi pegolf Inggris pertama yang menjuarai PGA Championship.

Matthew Fitzpatrick
Pegolf Inggris lain yang berpotensi memberi kejutan adalah Matthew Fitzpatrick. Pegolf berusia 25 tahun ini bahkan memiliki catatan yang lebih baik ketimbang seniornya, yang juga sesama pegolf Inggris, Tommy Fleetwood, yang baru menyeberang ke Amerika untuk ajang 3M Open.

Performa Fitzpatrick memang ikut terdampak pandemi pada beberapa ajang PGA TOUR pertama. Namun, dalam dua turnamen terakhir yang ia ikuti, peringkat 3 pada Memorial Tournament dan T6 pada WGC-FedEx St. Jude Invitational memberinya momentum untuk menciptakan sejarah.