Siapa yang bakal memenangkan PGA Championship pada pekan ini? Mungkinkah peluang para pegolf Amerika melampaui Eropa dan Asia?

Fakta saat ini: para pegolf Amerika kembali mendominasi ranking dunia. Dari 15 peringkat teratas, 10 di antaranya ditempati oleh para pegolf Amerika. Hanya ada Jon Rahm (no.2), Rory McIlroy (no.3), Adam Scott (no.9), Tommy Fleetwood (no.13), dan Tyrell Hatton (no.14) yang nota bene non-Amerika.

Meskipun demikian, fakta lainnya ialah ranking tidak bakal menentukan siapa yang berhak menang. Sebaliknya, pemenang selalu ditentukan dari performa selama 72 hole.

Lalu siapa saja pemain tuan rumah yang berpeluang besar mengangkat Trofi Wanamaker pada akhir pekan di TPC Harding Park itu? Beberapa catatan kami berikut mungkin bisa membantu.

Brooks Koepka
Dua kali berturut-turut menjuarai ajang Major ini menjadikan Brooks Koepka sebagai kandidat kuat. Jika berhasil kembali menang, ia akan menjadi pegolf pertama yang menjuarai PGA Championship sebanyak tiga kali berturut-turut. Pertanyaannya, mungkinkah Koepka melakukan hal tersebut?

Sejak kompetisi bergulir kembali, Koepka hanya absen sekali dari lapangan, yaitu pada ajang Travelers Championship Dari enam turnamen terakhir yang ia ikuti, Koepka memang dua kali gagal lolos cut. Dua kali ia finis di posisi yang jauh dari memuaskan, tapi dua kali pula ia finis di posisi yang meyakinkan. Terakhir ia menjadi salah satu runner-up di Memphis, sesuatu yang memberinya keyakinan untuk tampil maksimal pekan ini.

Sekadar mengingatkan, tahun lalu ketika ia sukses mempertahankan gelar PGA Championship, ia juga mencatatkan hasil bagus sepekan sebelumnya. Koepka finis di peringkat 4 pada AT&T Byron Nelson.

Tiger Woods
Menyusul Capital One’s The Match: Champions for Charity, ada harapan bahwa Tiger Woods bakal menjadi salah satu sorotan ketika golf kembali dipertandingkan. Banyak yang memuji kualitas permainannya waktu itu. Tapi Woods akhirnya hanya tampil pada ajang Memorial Tournament presented by Nationwide. Itu pun nyaris gagal lolos cut dan akhirnya finis di posisi T40.

Melihat catatan terakhir tersebut, jelas peluangnya menjuarai PGA Championship kali ini meragukan. Tapi publik selalu bersemangat tatkala melihat nama Woods muncul. Harapan selalu menyertai bahwa pegolf berusia 44 tahun ini bisa memenangkan Major ke-16 sekaligus melampaui angka kemenangan Sam Snead dengan kemenangan ke-83.

Selain itu, setelah kemenangannya di Augusta tahun 2019 lalu, sulit rasanya menghapus nama Woods dari kandidat pemenang. Terutama setelah, kami pun menilai, pegolf yang kini berperingkat 15 dunia ini masih jauh dari selesai.

 

Tiger Woods meraih kemenangan Major ke-15 ketika memenangkan Masters Tournament tahun lalu. Foto: 2019 Augusta National.

 

Justin Thomas
Seperti halnya sulit menghapus nama Woods, sulit juga menghapus pegolf nomor satu dunia dari daftar kandidat, walaupun peluang Justin Thomas dibangun lebih daripada sekadar statusnya sebagai pegolf terbaik dunia saat ini.

Berbekal gelar World Golf Championships-FedEx St. Jude Invitational pekan lalu, Thomas bakal membawa momentum yang ia ciptakan itu ke San Francisco.

Selain itu, dalam karier profesionalnya yang sudah berlangsung selama tujuh tahun ini, Thomas telah empat kali menjuarai turnamen yang sama. Pertama ia lakukan di Malaysia ketika menjuarai CIMB Classic 2015 dan 2016. Ia kemudian menjuarai Tournament of Champions 2016 dan 2020. Lalu di Korea ia menjuarai THE CJ CUP @ NINE BRIDGES edisi 2017 dan 2019. Terakhir, WGC-FedEx St. Jude Invitational itu juga telah ia menangkan tatkala ajang ini masih bernama WGC-Bridgestone Invitational.

Tapi yang membuat Thomas menjadi salah satu kandidat terkuat, jika tak bisa dibilang sebagai yang terkuat, ialah fakta bahwa ia merupakan salah satu pegolf paling konsisten. Sejak menjuarai PGA Championship 2017, pegolf asal Louisville, Kentucky ini tidak pernah terlempar dari sepuluh besar dunia.

Ketika musim 2019-2020 ini kembali dilanjutkan, ia hanya sekali gagal lolos cut (Travelers Championship) dan finis T18 (Memorial Tournament). Selebihnya, ia selalu finis di sepuluh besar, termasuk runner-up pada Workday Charity Open dan juara pada ajang WGC pekan lalu.

Mungkin sudah saatnya ia memasukkan PGA Championship ke dalam daftar turnamen yang ia menangkan lebih dari sekali.

”Begitu orang bisa menerima bahwa menang dengan tidak sempurna sebenarnya sah-sah saja, mereka pasti takkan terpengaruh (apakah permainannya sempurna atau tidak).” — Anthony Wall, mantan pegolf European Tour.

Bryson Dechambeau
Layakkah Dechambeau menjadi penantang gelar Major pekan ini? Catatannya dalam tiga penampilan PGA Championship sejauh ini ialah T33 (2017, cut (2018), dan cut (2019). Dan finis terbaiknya dalam ajang Major terjadi pada U.S. Open 2016 (T15). Melihat ini rasanya peluang Dechambeau tidaklah besar.

Tapi itu dulu. Dechambeau telah bermetamorfosis menjadi Hulk-nya golf saat ini. Dengan jarak pukul yang bahkan 30 meter di depan pegolf sekaliber Rory McIlroy, Dechambeau jelas memiliki keunggulan dibanding siapa pun yang bertanding pekan ini.

Memang golf tak dimenangkan dengan drive yang super jauh. Tapi ia juga belum lama menjuarai gelar PGA TOUR ke-8 lewat Rocket Mortgage Classic. Kombinasi pukulan jauh dan short game yang tajam akan menjadikannya pesaing tangguh pekan ini.

Tony Finau
Tony Finau? Ya, Tony Finau. Pegolf berperingkat 17 dunia ini mungkin terdengar asing untuk disebutkan sebagai salah satu kandidat juara untuk pekan ini. Apalagi pengalamannya sebagai juara hanyalah pada ajang yang relatif kecil, yaitu Puerto Rico Open … empat tahun silam.

Lalu apa yang membuat nama Finau muncul? Seperti halnya Thomas, Finau sebenarnya termasuk salah satu pegolf dengan permainan yang konsisten. Kekurangannya hanya satu. Konsistensinya itu hanya cukup membuatnya sebagai penantang dan nyaris juara. Dan dia juga konsisten tak pernah terlempar dari jajaran 20 besar dunia.

Mantan pegolf European Tour Anthony Wall memberi pandangan menarik mengenai Finau. Pria asal Inggris ini menilai Finau sebagai seorang pegolf yang kerap berusaha tampil sempurna. ”Saya pikir Finau berpikir bahwa ia harus tampil sempurna. Tapi dia tidak sempurna! Saya punya satu visi; bahwa untuk menjuarai sebuah turnamen, Anda mesti bermain dengan layak. Saya ingat bermain dengan orang lain dan mereka bisa menang meskipun mainnya berantakan. Begitu orang bisa menerima bahwa menang dengan tidak sempurna sebenarnya sah-sah saja, mereka pasti takkan terpengaruh (apakah permainannya sempurna atau tidak),” jelasnya.

Jika analisis ini benar, dan jika Finau bisa menerima bermain, misalkan, seperti halnya Seve Ballesteros, bukan tidak mungkin ia meraih kemenangan terbesar dalam kariernya.