Hinako Shibuno mempertahankan posisinya di puncak klasemen dalam debutnya dan berpeluang menciptakan sejarah pada U.S. Women’s Open.

Dalam sejarah gelombang kedigdayaan para pegolf Asia pada kejuaraan Major wanita, tak banyak pegolf Jepang yang ikut menjadi kekuatan dominan. Sejak Pak Se-ri memenangkan U.S. Women’s Open pada tahun 1998, para pegolf Korea cenderung bergantian menjadi pemenang pada lima ajang Major golf wanita.

Pak Se-ri mungkin pantas dianggap sebagai sosok yang memulai bangunnya raksasa-raksasa Asia pada masa kini. Meski para pegolf Jepang tak terlihat menjadi kekuatan dominan dalam dua dekade terakhir, justru pegolf Jepanglah yang pertama kali mengangkat trofi Major. Hisako Higuchi menjadi pegolf Jepang, sekaligus pegolf Asia pertama—wanita dan pria—yang berhasil memenangkan sebuah kejuaraan Major.

Higuchi, yang belajar golf dari pegolf kenamaan Jepang Torakichi Nakamura menjuarai KPMG Women’s PGA Championship pada tahun 1977, ketika kejuaraan ini masih bernama LPGA Championship. Dalam usia 31 tahun, Higuchi meraih kemenangan tiga stroke atas duo Amerika Pat Bradley dan Judy Rankin serta Sandra Post setelah membukukan skor total 9-under 279. Ia kemudian mencatatkan 69 kemenangan pada LPGA of Japan Tour sepanjang kariernya.

Tujuh tahun kemudian, giliran Ayako Okamoto yang meraih kemenangan, kali ini di ranah Britania Raya. Kala itu ia mencatatkan kemenangan 11 stroke untuk memenangkan ajang yang kala itu bernama Hitachi Women’s British Open. Sepanjang kariernya, ia mengoleksi 62 gelar profesional, termasuk 17 gelar LPGA. Dan barulah 34 tahun kemudian Hinako Shibuno mengikuti jejak legenda Jepang tersebut ketika menjuarai AIG Women’s Open 2019.

 

 

Shibuno, yang menjadi selebriti berkat kemenangan dalam debutnya pada ajang Major tersebut, kini berpeluang menciptakan sejarah baru dengan menjadi pegolf Jepang pertama yang memenangkan U.S. Women’s Open. Memainkan putaran ketiga di Cypress Cree Course Champions Golf Club dengan keunggulan tiga stroke dari pesaing terdekatnya, Shibuno berhasil mempertahankan keunggulannya di puncak klasemen meskipun harus bersusah payah dan mengakhiri putaran ketiga dengan skor 74.

Putaran ketiga seakan menjadi putaran yang kontras dengan putaran kedua. Prediksi cuaca yang keliru pada hari kedua membuka peluang untuk banyak pemain bermain under. Namun, pada hari ketiga ajang U.S. Women’s Open benar-benar terlihat seperti sebuah ajang U.S. Women’s Open, yang terkenal memiliki tingkat kesulitan yang tinggi.

”Di lapangan seperti ini dan terutama pada ajang Major, skor par terkadang bukanlah skor yang buruk,” ujar Lydia Ko mengomentari beratnya kondisi pada hari ketiga.

Beratnya Cypress Creek pada akhir pekan ini terlihat dari fakta bahwa hanya ada dua pemain yang berhasil bermain under. Keduanya adalah pegolf Korea Kim2 Ji-yeong dan Ryu Hae-ran. Masing-masing menorehkan skor 67 dan 70.

 

Amy Olson menempel Hinako Shibuno dengan jarak hanya satu stroke dan berharap bisa meraih gelar profesional pertama dalam kariernya. Foto: Philip Millereau/KMSP.

 

Shibuno sendiri hanya mencatatkan satu birdie dengan empat bogey di sepanjang 18 hole yang ia mainkan pada hari ketiga. Kondisi lapangan yang basah dan dingin kemudian berubah cerah pada sore hari. Namun, banyak area di lapangan yang menjadi berlumpur, dengan fairway yang basah, plus angin yang berembus dari arah yang berbeda ketimbang pada dua putaran pertama.

Namun, bukan kondisi tersebut yang membuat permainan Shibuno buyar. ”Saya merasa sangat gugup,” ujarnya. ”Sejak hole pertama saya sudah melakukan kesalahan dan karena itu pikiran saya buyar dan permainan saya tidak bagus. Jadi, semua hole terasa sangat sulit buat saya.”

Shibuno jelas merasa gugup lantaran inilah pertama kalinya ia bermain sebagai pimpinan klasemen. Dan bagi pemain seperti dirinya yang menikmati kehadiran penonton, Shibuno mengaku merasa sulit untuk mendapat momentumnya. Baginya, para penonton di lapangan memberinya kekuatan untuk bisa main maksimal. ”Tapi dengan tidak adanya penonton, sangat sulit bagi saya untuk bisa mendapatkan momentum,” tandasnya.

Perjalanan dalam 18 hole berikutnya jelas tidak mudah. Amy Olson, pimpinan klasemen pada hari pertama, juga berharap untuk bisa meraih gelar profesional pertamanya. Sejak beralih profesional tahun 2013 dengan catatan karier amatir yang cemerlang, Olson belum pernah menjuarai sebuah ajang LPGA. Prestasi terbaiknya dalam ajang Major juga baru ia raih pada 2018 ketika finis T2 pada ajang The Evian Championship.

 

 

”Par menjadi skor yang sangat bagus pada tiap hole kali ini. Untungnya saya bisa mendapat beberapa birdie, seperti di hole 17,” ujar Olson yang mencatatkan even par 71. ”(Bisa memenangkan kejuaraan ini) jelas menjadi pencapaian yang sangat besar. Tapi yang jelas hal ini masih sangat jauh dan target saya ialah benar-benar menikmati momen saat ini dan tidak berpikir terlalu jauh.”

Sementara itu, Moriya Jutanugarn juga berpeluang menyamai prestasi yang pernah diraih oleh adiknya, Ariya, pada tahun 2018. Bermain dalam satu grup dengan Ariya, Moriya mengoleksi skor total 1-under 212 dan berbagi tempat ketiga bersama Kim2, tiga stroke dari Shibuno.

”Saya pikir besok akan lebih sulit bagi semua orang kalau kondisinya menjadi lebih buruk, tapi saya akan berusaha untuk tetap sabar, mungkin memainkan pukulan demi pukulan karena memang itu yang bisa saya lakukan,” ujarnya.

Melihat klasemen saat ini dan mempertimbangkan statistik, persaingan hampir pasti akan terjadi di jajaran atas. Meskipun empat dari lima juara U.S. Women’s Open terakhir meraih kemenangannya dengan menyalip pimpinan klasemen, hanya 24 dari 30 pemenang terakhir yang berhasil melakukannya setelah memainkan putaran final dengan berjarak hanya dua stroke dari pimpinan klasemen. Itu berarti, pesaing terkuat bagi Shibuno hanyalah Olson, Moriya, dan Kim2. Dan melihat statistik, peluang Shibuno juga tidaklah cukup besar. Sejak tahun 2000, inilah U.S. Women’s Open keenam ketika seorang pemain memiliki keunggulan satu stroke menuju putaran final. Dan hanya dua dari lima pemain dalam posisi serupa yang bisa meraih kemenangan. Pemain terakhir yang melakukannya ialah Cristie Kerr pada 2007.

Namun, apapun hasilnya, Shibuno jelas telah meraih prestasi tersendiri mengingat inilah U.S. Women’s Open pertama dalam kariernya.