Usianya baru 22 tahun. Tapi dalam waktu yang relatif singkat, publik di seluruh dunia melihatnya sebagai seorang bintang yang sepak terjangnya layak diikuti. Dan kini ia tak hanya mengusung kehormatan Asia, tapi juga membuka harapan untuk lebih mengibarkan kehormatan tersebut menuju putaran final CIMB Classic besok (14/10).

Mungkin tak banyak yang mengira kalau Shubhankar Sharma bisa tampil begitu solid sepanjang tiga putaran dalam sebuah turnamen yang baru kali ini ia ikuti. Setelah dua kali memberi kejutan dengan menjuarai Joburg Open dan Maybank Championship dalam rentang waktu yang tidak terlalu lama, ia finis T9 pada ajang World Golf Championship-Mexico Championship, itu juga setelah menjadi pimpinan klasemen dalam 54 hole pertamanya.

Tapi setelah finis T7 pada Hero Indian Open, ia seolah kesulitan untuk mendapatkan performa yang melambungkan namanya. Lalu dalam lima turnamen PGA TOUR terakhir yang ia ikuti sebelum bertolak ke Malaysia, ia tak berhasil menembus putaran akhir pekan.

Tak heran jika ia sendiri pun sempat ragu pada dirinya sendiri. “Saya tidak menampilkan performa yang bagus sebelum pekan ini, saya tidak memiliki hasil terbaik sebelum turnamen ini,” ujarnya.

Skornya pada putaran pertama memang cukup solid, meskipun orang akan lebih memandang Bronson Burgoon yang bermain 9-under 63 pada hari pertama itu. Tapi golf tidak dinilai hanya dalam satu putaran. Dan Sharma memaksimalkan penampilannya pada hari kedua dengan membukukan skor 64, yang melambungkan namanya kembali ke kancah persaingan. Lalu ia melakukannya lagi pada hari Sabtu (13/10) ini dengan skor 66 dan memaksa Gary Woodland dan Marc Leishman berbagi tempat teratas dengannya.

Mungkin inilah momen ketika publik langsung mengingat kembali bahwa pemuda yang sama juga melakukannya di Meksiko. Bahwa pemuda yang sama membuat seorang Phil Mickelson harus menaruh respek kepadanya. Shubhankar Sharma seakan mengingatkan kembali bahwa derajat golf di bumi Asia ini sejajar dengan siapa pun di seluruh dunia. Dan ia juga membuktikan alasan mengapa ia kini berada di peringkat teratas Habitat for Humanity Standings Asian Tour. 

Bagaimana ia bisa melakukannya? Salah satu rahasianya mungkin ialah kehadiran Gurbaaz Mann, sang pelatih. Sharma mengakui bahwa kehadiran sang pelatih pada pekan ini membantunya menemukan kembali permainan yang membuat namanya bersinar. Alasan keduanya, meski terkesan klise, tapi memang tak kalah penting, Sharma bermain di Malaysia, bermain di Asia, di depan publik golf Asia yang jelas mendukungnya.

Hasil dalam tiga putaran ini jelas menghapus keraguannya sebelum melakoni debutnya pada turnamen yang menawarkan total hadiah senilai US$7 juta ini. Dan kini ia berpeluang untuk menjadi pegolf India pertama yang menjuarai CIMB Classic, sekaligus mengikuti jejak Arjun Atwal sebagai juara PGA TOUR.

“Hal yang juga tak kalah positif ialah bahwa kami berada di Asia dan saya bakal mendapat banyak dukungan dari para penggemar. Asia adalah rumah kami ….” – Shubhankar Sharma

“Saya bisa bilang, ini merupakan putaran yang bagus, saya merasa bisa melakukan pukulan dengan lebih baik. Mungkin kemarin pukulan saya lebih baik ketimbang hari ini, tapi di lapangan seperti ini, Anda mesti berada di zona Anda sendiri dan saya berhasil melakukannya dalam tiga hari ini, itulah alasan mengapa saya bisa membukukan skor dengan sangat baik,” tutur Sharma.

Tapi ia juga menyuratkan sedikit kegelisahan. Sebuah kegelisahan yang positif. “Saya masih merasa ada beberapa perubahan yang bisa saya lakukan untuk bisa kembali dengan lebih meyakinkan besok,” ujarnya. Dan hal itu rasanya terkait dengan keberadaan sang pelatih.

“Saya tahu apa yang harus saya lakukan dan apa yang tak seharusnya saya lakukan,” ujar Sharma lagi, menegaskan keyakinannya.

Apakah itu sekadar percaya diri? Mungkin saja. Tapi percaya diri seorang Shubhankar Sharma adalah percaya diri yang dilengkapi dengan bekal kemampuan. Dalam wawancara dengan Golfing Indian, Gurbaaz Mann dengan tegas mengungkapkan, “Shubhankar Sharma adalah seorang pemain yang komplit.” Sebuah penegasan yang mungkin menjadi pertanda bahwa ia bisa melampaui pencapaian seniornya, Anirban Lahiri yang finis di peringkat T3 pada edisi 2016, bahkan melampaui pencapaian pegolf terbaik Asia saat ini Hideki Matsuyama, yang finis di peringkat kedua pada 2016.

“Hal postifnya ialah saya sudah pernah berada di posisi ini sebelumnya dan saya melakukannya lagi kali ini,” ujar Sharma, mengacu pada dua kemenangan di Johannesburg dan Kuala Lumpur sebelumnya.

Ia juga menambahkan lagi, “Tapi hal yang juga tak kalah positif ialah bahwa kami berada di Asia dan saya bakal mendapat banyak dukungan dari para penggemar. Asia adalah rumah kami dan selalu menyenangkan bisa bermain di depan pendukung tuan rumah. Hari ini hal itu terbukti, saya mendapat banyak dukungan dari para penonton yang hadir dan juga di hole 18 di mana saya menerima sambutan riuh. Jadi, saya sangat senang bisa kembali dan saya akan melakukan yang terbaik besok.”

Shubhankar Sharma telah menegaskan betapa ia berharap dan membutuhkan dukungan dari publik golf Asia. Rasanya inilah saatnya seluruh penggemar golf di Asia bisa menunjukkan satu suara untuk memberi semangat bagi pemuda ini. Akan lebih menyenangkan dan membanggakan rasanya jika bisa melihat putra Asia mengibarkan namanya di rumahnya sendiri.

Leave a comment