Setahun yang lalu, Rory Hie mengakhiri penantian panjangnya untuk menjadi Juara Asian Tour pertama asal Indonesia … nun di negeri yang jauh, di India.

Oleh Rory Hie

Bulan September ini sudah genap setahun sejak Rory Hie meraih kemenangan bersejarah pada ajang Classic Golf & Country Club International Championship. Ia harus menunggu 12 tahun untuk meraih gelar Asian Tour pertamanya ini. Dan yang tak kalah istimewanya, ia mengakhiri pekan itu tanpa sekali pun tergeser dari puncak klasemen!

Dengan gelar ini, genaplah salah satu tahapan dalam kariernya. Setelah menjadi pegolf Indonesia pertama yang meraih kartu Asian Tour tahun 2008, ia juga menjadi pegolf Indonesia pertama yang meraih kemenangan pada Tour papan atas Asia ini.

Kemenangan ini jelas sangat penting bagi kariernya. Tapi publik golf di Indonesia juga patut merayakannya, mengingat sebelumnya prestasi seperti ini belum pernah diraih oleh seorang Indonesia.

Untuk merayakan satu tahun kemenangan penting, tak hanya bagi Rory, tapi juga penggemar golf di Indonesia, Rory mengajak kita untuk kembali ke hari yang bersejarah itu, 15 September 2019, ketika ia memulai 18 hole terakhirnya dengan keunggulan tipis satu stroke dari Rashid Khan, pemegang tiga gelar Asian Tour.

 

 

Saya selalu belajar dari pengalaman, terutama dari kegagalan. Dalam beberapa turnamen sebelum ke India, saya belum bisa fokus semaksimal yang saya inginkan. Tapi saya berhasil mengembalikan fokus pada pekan di India itu dan bisa main 8-under 64.

Pada putaran ketiga, saya mulai menikmati memainkan turnamen seperti ketika saya masih menjadi pegolf junior, tak lagi memikirkan swing dan selalu memiliki sikap yang positif tiap kali mau melakukan putt, entah itu untuk par maupun untuk birdie.

Fokus saya pada saat putaran final itu adalah untuk bermain rapi dan tidak melakukan unforced error. Dari track record saya, jika berhasil membatasi kesalahan setelah memimpin dalam tiga putaran, peluang saya untuk menang lebih besar.

Saya bermain sabar dan under control (setelah mendapat birdie di hole pertama). Setelah skor saya mulai tersusul, barulah saya yakin untuk ”tancap gas” lagi karena saya tahu pemain yang ada di depan saya (Kim Byungjun) sudah mulai kehabisan napas. (Setelah birdie itu, Rory membukukan par di 11 hole berikutnya–Ed.)

Saat itu saya bermain dengan Rashid Khan yang sudah menang tiga kali di Asian Tour. Saya tahu jika bisa mempertahankan momentum di sisi saya, itu akan penting untuk menjaga peluang saya memenangkan kejuaraan ini. Kebetulan ada papan klasemen besar di belakang green 13 jadi saya tahu persis di mana posisi saya saat itu.

 

Birdie di hole 15 menjadi kuncinya karena saya mulai bisa mematahkan momentum pemain yang mengejar saya. Kalau tidak salah keunggulan saya menjadi dua stroke setelah birdie di hole 15.

Saya tahu kesempatan untuk menjuarai tournamen Asia sangat langka apalagi untuk bisa berada di driver’s seat di back nine. Pada saat saya mulai tersusul di hole 13, saya tahu bahwa itu saat yang tepat untuk bergerak atau riskan ketinggalan.

Pada saat itu saya memakai wrist guard karena ligamen saya robek dan membuat cedera di bagian triangular fibrocartilage complex. Tapi ketika adrenalin sedang terpacu, cedera seperti apa pun tidak terasa membebani permainan.

Kedi saya meminta membawa tas golf saya secara khusus karena dulu dia juga pernah menjadi kedi saya di lapangan itu tahun 2009. Pada saat itu, saya finis T9 bermain pada turnamen Asian Tour juga, SAIL OPEN.

Saya suka aura positif kedi saya ini. Semua keputusan masih di tangan saya, tapi secara mental, dia tidak minder bahkan saat momen-momen penting pada kejuaraan pekan itu.

 

 

Saya sudah pernah bemimpi menang di Asian Tour ketika saya pertama kali menjadi profesional. Saya sangat lega karena selama ini tidak pernah ada pemain Indonesia yang menjuarai ajang Asian Tour walaupun hampir semua negara tetangga sudah menempatkan wakilnya. Salah satu cara membuktikan kemampuan saya adalah dengan menunjukkan hasilnya, dan dalam kasus ini mencatat sejarah adalah sesuatu yang tidak bisa diingkari oleh siapa pun!

Arie adalah olahragawan yang sangat sportif. Dia selalu rela membantu dan membagi ilmunya kepada siapa pun. Dulu kami sering menjadi teman sekamar di tour. Saya pikir untuk bisa memberikan penghormatan kepadanya, setidaknya saya bisa mendedikasikan kemenangan ini bagi dia.

Tapi sudah pasti saya menghubungi orangtua saya setelah memastikan kemenangan ini!

George Pinnel adalah salah satu mentor saya di Amerika. Dia sangat terkenal di kalangan junior golf di Southern California. Hubungan kami sampai saat ini masih dekat, lebih ke mentorship dan hubungan persabatan.

1 Comment

Comments are closed.