Danny Masrin mencatatkan sepuluh besar pertamanya pada tahun 2020 lewat ajang SMBC Singapore Open.

Dua tahun silam, Danny Masrin hampir menjadi pegolf Indonesia pertama yang meraih gelar Asian Tour. Hingga putaran ketiga SMBC Singapore Open kala itu, ia berada di jajaran lima besar. Para penggemar golf di Indonesia pun berharap ia benar-benar bisa mewujudkan kemenangan.

Sayangnya, kemenangan itu gagal terwujud. Skor 75 pada putaran akhir membuatnya hanya mampu finis di peringkat T12. Bukan hasil yang buruk juga, mengingat itulah prestasi terbaiknya selama mengikuti turnamen ini.

Hal serupa sempat terulang ketika ia memulai musim kompetisi 2020 ini pada ajang Hong Kong Open. Sempat berada di posisi T9 pada akhir hari ketiga, secara mengejutkan ia harus menutup turnamen perdananya itu dengan skor 74 dan finis di posisi T30.

Tapi penampilannya pekan kemarin ini jelas tak lagi mengulangi apa yang terjadi pada 2018 lalu. Tidak juga mengulangi peristiwa sepekan sebelumnya.

Danny, yang sepanjang gelaran SMBC Singapore Open kali ini kembali ditemani oleh Teddy Jubilant sebagai kedi, memulai putaran final dengan meyakinkan. Setelah birdie di hole pertama, ia menambah satu birdie lagi di hole 6, sebelum mencatatkan bogey pertamanya di hole 9.

Teddy Jubilant (kiri) kembali menemani Danny Masrin sebagai kedi. Kombinasi ini kembali mencatatkan hasil positif. Setelah T5 pada ajang Indonesian Masters 2019, kali ini Danny menorehkan finis terbaik dengan berada di posisi T8 pada SMBC Singapore Open. Foto: Yongki Hermawan.

Namun, Danny lekas bangkit dan mencatatkan birdie ketiganya hari itu di hole 10. Dan meskipun kembali menorehkan bogey di hole 12, ia menutup putaran final kali ini dengan dua birdie di tiga hole terakhirnya.

Skor 3-under 68 pada putaran final sudah cukup untuk menempatkannya di peringkat 8 bersama Rashid Khan dan Miguel Tabuena.

Mungkin satu-satunya yang kurang baginya ialah bahwa kali ini ia nyaris mencatatkan sejarah menjadi pegolf Indonesia pertama yang bermain pada ajang The Open. Tiket tersebut akhirnya menjadi milik Kim Joohyung (peringkat 4), Richard T. Lee (5), Poom Saksansin dan Ryunosuke Kinoshita (6). Tapi yang jelas, Danny telah memulai tahun ini dengan sangat baik.

”Ini start yang bagus untuk tahun 2020. Saat ini yang terpenting buat saya ialah mengejar poin pada Official World Golf Ranking. Sebab dari tahun lalu target saya ialah supaya bisa masuk Olimpiade tahun ini,” jelas Danny.

”Sekarang ada lima minggu jeda, jadi saya bisa fokus berlatih di area permainan yang harus saya tingkatkan.”

Pemain bintang unjuk kemampuan
SMBC Singapore Open kali ini menjadi ajang unjuk gigi bagi para pemain bintang. Kehadiran tiga bintang Olimpiade Rio de Janeiro 2016, Justin Rose, Henrik Stenson, dan Matt Kuchar menjadi daya tarik tersendiri bagi ajang yang merupakan kolaborasi Asian Tour dan Japan Golf Tour ini.

Rose, sebagai pegolf dengan peringkat dunia tertinggi, No.9 Dunia ketika SMBC Singapore Open dimulai, menjadi satu dari hanya enam pemain yang berhasil bermain under selama empat putaran. Mantan juara Indonesian Masters ini menorehkan skor 68-66-68-67. Namun, skor ini hanya membuatnya lebih baik satu stroke daripada pegolf No.1 Asian Tour saat ini, Jazz Janewattananond. Skor total 15-under 269 di Sentosa Golf Club hanya mampu membawanya ke peringkat kedua.

 

 

Bintang Presidents Cup dari Tim AS Matt Kuchar menunjukkan alasan mengapa ia bisa menjadi pemain kunci bagi Tim AS untuk kembali meraih kemenangan dari Tim Internasional bulan Desember 2019 lalu. Performa cemerlang pada hari ketiga jelas menjadi modal penting baginya untuk bisa menang pekan kemarin. Dengan hanya bermain 1-under 70 pada putaran final, ia sudah memastikan kemenangan dengan selisih tiga stroke dari Rose. Kini pemain yang hanya meraih medali perunggu pada Olimpiade empat tahun silam, meraih prestasi teratas di Singapura.

Kuchar patut berbangga akan keberhasilannya ini. Bermain bersama para pegolf papan atas Asian Tour dan Japan Golf Tour, ia berhasil menunjukkan kelasnya. Meskipun mendapat triple bogey di hole 7 lantaran pukulan tee-nya membuat bola berada di antara akar pepohonan dan harus mengambil penalti setelah melakukan pukulan ketiganya di hole tersebut, Kuchar masih bisa bangkit dan mencatatkan tiga birdie lagi di sembilan hole terakhir.

“Matt benar-benar hebat! Setelah memukul delapan kali di hole 7 itu, dia masih bisa bangkit dan menang. Luar biasa sekali bisa melihat apa yang bisa dilakukan oleh para pegolf papan atas dunia, dan lebih istimewa lagi karena saya bisa mengalaminya langsung dari dekat,” ujar Jazz yang akhirnya harus puas finis di tempat ketiga.

Meski menang, Kuchar sendiri mengaku kagum akan performa para pegolf papan atas regional Asia. Ketangguhan mereka membuat kemenangan ini menjadi sangat berarti baginya.

“Sangat fantastis bisa berkeliling dunia dan mampir ke kota besar, seperti Singapura dan bermain golf di lapangan luar biasa di sini, lalu berhadapan dengan para pegolf tangguh dan menguji permainan saya di hadapan mereka. Mereka ini pemain-pemain hebat yang jarang kami jumpai di Amerika Serikat. Dan ada banyak pemain hebat di Tour di sini, jadi rasanya luar biasa bisa menang,” tutur Kuchar.