Brooks Koepka kian dekat dengan gelar Major keempat dalam kariernya.

Tujuh tahun silam, baru berusia 22 tahun, Brooks Koepka merintis karier profesionalnya dari strata yang terbilang rendah. Ia bermain di level European Challenge Tour, jauh dari ingar-bingar PGA TOUR yang begitu megah. Ketika ia mulai menjejakkan kakinya, ketika itu pula ia mulai mengakrabkan diri dengan rekor dalam golf.

Dua tahun pertama dalam karier profesionalnya, tahun 2012 dan 2013, menjadi periode awal yang sangat mengagumkan. Dalam periode dua tahun itu, ia membukukan empat kemenangan dengan tiga di antaranya ia lakukan dengan mencatatkan rekor skor terendah.

Challenge de Catalunya di Spanyol menjadi gelar profesional pertama baginya. Dan kemenangan ini juga istimewa lantaran tak hanya menjadi gelar profesional pertama, tapi juga berkat rekor skor terendah, 16-under 200.

Tahun 2013, ia menjuarai tiga turnamen lagi, dengan prestasi serupa pada Montecchia Golf Open di Italia dan Fred Olsen Challenge de Espana di Spanyol. Koepka mematok skor terendah sepanjang penyelenggaraan turnamen di Italia itu dengan torehan 23-under 261. Lalu ketika kembali menang di Spanyol, Koepka bermain dengan skor total 24-under 260, rekor skor yang kemudian disamai oleh pegolf Perancis Adrien Saddier tiga tahun kemudian.

Melangkah ke tahun 2019 ini, di Bethpage Black Course, pada perhelatan ke-101 PGA Championship, Koepka kini tinggal selangkah lagi untuk mewujudkan gelar Major keempat dalam penampilannya yang ke-20 dalam ajang Major.

Pada putaran ketiga itu, Koepka bermain dengan tiga birdie dan tiga bogey untuk catatan even par 70. Hasil yang jauh berbeda dari dua putaran pertama, namun sudah cukup untuk memberinya keuntungan ekstra ketika memainkan putaran final dalam beberapa jam lagi.

Koepka jelas menjalankan tugasnya dengan sangat baik. Ia memaksimalkan dua hari pertama dengan mematok standar yang begitu tinggi, yang bahkan tidak bisa dilampaui oleh pemegang 15 gelar Major Tiger Woods, atau pegolf No.1 dunia Dustin Johnson. Sedemikian tingginya kualitas permainannya di lapangan yang disebut-sebut sangat sulit, plus dimainkan dengan total panjang 7.500 yard, sampai tidak ada satu pemain pun yang bisa menyamai perolehan skornya.

Memang Bethpage Black Course dimainkan sebagai lapangan terpanjang dalam ajang Major tahun ini. Dan memang pemain dengan jarak pukul yang jauh dari tee mendapat keuntungan tersendiri. Dengan catatan akurasi mereka juga tinggi. Dalam dua hari pertama Koepka menunjukkan ia tak hanya memiliki jarak pukul yang jauh, meskipun bukan yang terjauh pada pekan ini, plus akurasi yang tinggi, serta kualitas putting yang tak kalah tajamnya.

Keseimbangan itu mulai terganggu pada hari ketiga. Performa putting-nya menurun jika dibandingkan putaran kedua, dan jauh ketimbang hari pertama. Ia melakukan 32 kali putt di 18 hole ketiga, dua stroke lebih banyak daripada hari kedua, tapi tujuh stroke lebih ketimbang putaran pertama. Ia mengakuinya.

“Pukulan saya lebih baik daripada kemarin, hanya saja putting saya tidak sebagus kemarin. Anda melihat sendiri, sejumlah putt saya kurang. Kalau saja bisa memasukkan lebih banyak lagi, saya akan bisa memperbesar keunggulan,” ujarnya. “Ini hari yang berat. Sangat sulit untuk bisa bermain 4 atau 5-under.”

“Brooks (Koepka) telah membedakan dirinya sendiri di sini, dua, tiga putaran, dan nyarus mustahil dia bakal bermain buruk dan bisa dikejar besok.” – Adam Scott

Meskipun tidak bermain sebaik dua putaran pertama, Koepka memberi sinyal yang tegas bahwa ia tidak berniat untuk membiarkan fokusnya buyar pada hari terakhir. Pernyataan-pernyataan yang ia lontarkan pun menegaskan bahwa ia tidak akan terpengaruh oleh tekanan yang lumrah terjadi di sekitar mereka yang berpeluang menjadi juara atau menorehkan sejarah.

“Jelas saya tidak akan melepas (fokus), saya bisa jamin itu. Saya hanya akan berusaha melakukan tiap pukulan sebaik mungkin,” ujarnya lagi.

“Saya tidak membutuhkan psikolog olahraga. Saya cukup meyakinkan untuk (aspek psikologis) itu. Saya tahu yang harus saya lakukan. Saya rasa hal ini lebih sederhana daripada yang dibayangkan orang lain. Banyak yang melakukan kekeliruan, berusaha mencari tahu, saat mereka bermain pada sebuah Major, apa yang terjadi, apa yang berbeda. Tidak ada. Yang ada hanyalah fokus.”

Kemenangan pada hari Minggu ini bakal menjadi catatan sejarah baru. Jika berhasil mewujudkannya, Koepka akan menjadi pegolf pertama yang bisa memenangkan U.S. Open dan PGA Championship secara dua kali berturut-turut. Dia juga akan menjadi satu-satunya pegolf berusia di bawah 30 tahun yang bisa mengemas empat gelar Major.

Sulit mengharapkan Koepka untuk bisa melakukan kesalahan fatal pada momen-momen yang penting, meskipun jelas banyak yang berharap demikian. Beberapa pemain jelas tidak merasa rela.

“Bagi kebanyakan dari kami, ia (Koepka) membuat ajang Major ini menjenuhkan,” ujar Xander Schauffele, lantaran sejak putaran pertama hanya melihat nama Koepka di puncak klasemen. “Saya tidak terlalu tertarik (bisa finis di lima besar). Memang rasanya aneh. Ini kejuaraan Major dan semua yang bermain di sini ingin menang, tapi hanya ada satu orang yang meluluhlantakkan lapangan ini.”

Jelas itu merupakan pujian bagi Koepka.

“Brooks (Koepka) telah membedakan dirinya sendiri di sini, dua, tiga putaran, dan nyarus mustahil dia bakal bermain buruk dan bisa dikejar besok,” ujar Adam Scott, T8 dengan selisih 9 stroke dari Koepka.

“Fokusnya jelas bukan menang, melainkan sekadar bermain dan mencatatkan skor yang bagus dan berusaha untuk finis di posisi sebaik mungkin dan membawa momentum ini ke pekan berikutnya. Saya pikir seperti inilah posisi saya saat ini.”

Jika Scott tak lagi berharap untuk menang, Dustin Johnson menjadi salah satu yang berharap Koepka bisa tergelincir. Johnson yang bermain 1-under 69 pada hari ketiga menjadi satu dari empat pemain yang memiliki jarak paling dekat dari Koepka, dengan skor total 5-under 205.

“Saya bakal membutuhkan bantuan darinya (Koepka), dan setelah itu saya juga harus bermain dengan sangat, sangat bagus,” ujarnya.

Jazz Janewattananond bakal meninggalkan New York dengan kenangan berkesan dan prestasi membanggakan pada ajang Major kedua dalam kariernya. Foto: Asian Tour.

Lalu ada juga pemuda asal Asia Tenggara yang ikut meramaikan upaya mengejar Koepka. Jazz Janewattananond benar-benar menikmati debutnya pada ajang PGA Championship ini dengan lima birdie dan dua bogey pada putaran ketiganya. Dengan performa putting yang relatif stabil, 28-28-29 putt selama tiga hari, pemegang tiga gelar Asian Tour ini bakal menorehkan prestasi terbaiknya dalam ajang Major.

“Hujan turun ketika saya tiba di sini hari Senin. Hari Selasanya juga hujan. Lapangan ini menjadi sangat sulit karena rough-nya juga tebal, jadi bola tidak bisa ke mana-mana. Saya jadi memiliki mimpi buruk, bagaimana mesti bermain di lapangan ini? Rasanya saya tidak bakal bisa main di bawah 80. Jadi, hasil yang saya raih sejauh ini sudah melampaui ekpsektasi saya,” tutur Jazz.

Tampaknya Jazz mesti berterima kasih kepada temannya, yang mengajaknya berkeliling di Manhattan ketika tiba di New York untuk pertama kalinya, mengingat pekan ini ia menjadi bisa bermain lepas. Dan posisinya saat ini bakal memberikan sejumlah keuntungan baginya. Selain dipastikan mengukuhkan posisinya di puncak Habitat for Humanity Standings Asian Tour, ia sudah dipastikan memperbaiki catatan penampilannya pada ajang Major setelah tidak lolos cut pada The Open 2018.

Selain itu, Jazz juga memiliki motivasi yang lain ketika memainkan putaran final hari ini.

“Presidents Cup sudah pasti ada dalam benak saya. Beberapa pekan lalu saya bermain dengan Ernie Els dan ia mengingatkan saya agar bisa terus bermain dengan baik,” tandasnya.

Leave a comment