Hingga memasuki musim 2016 ini, LINC Group masih terus berkomitmen mendukung sirkuit IGT ini sebagai sponsor utama. Meski demikian, sosok yang menginisiatif sirkuit ini, Jimmy Masrin, tidak ingin memonopoli IGT dan sangat membuka peluang partisipasi dari pihak-pihak lainnya.

”Kami sangat berharap ada perusahaan atau individu lain yang mau ikut menjadi sponsor. Jika hal ini bisa terwujud tentu akan sangat bagus,” tulis beliau kepada kami.

Sebenarnya, bukan pertama kali pula ajang IGT melibatkan sponsor lain. pada 2014 lalu, misalnya dalam gelaran Emeralda-Citra Sembilansatu Golf Tournament, yang menjadi agenda IGT Seri II musim 2014, PT Citra Sembilansatu ikut berpartisipasi. Namun, sepertinya partisipasi pihak lain sebagai sponsor seolah berhenti di sana. Sampai ketika Seri VII musim 2015 kembali dilangsungkan di Emeralda Golf Club, IGT kembali mendapat dukungan dari sponsor lain selain LINC Group, yaitu Sushi Nobu Shabu Nobu.

Keberadaan sponsor tak hanya dibutuhkan dalam urusan hadiah uang bagi para pemain profesional belaka. Urusan operasional dan administrasi  juga menuntut biaya yang tidak sedikit. Itulah sebabnya, upaya untuk menambah sponsor, entah itu sponsor yang bisa berkontribusi menambah jumlah turnamen, entah itu sponsor yang bisa menambah jumlah hadiah uang, entah itu sponsor yang mendukung urusan operasional dan administrasi rasanya mesti menjadi salah satu fokus pada tahun 2016 ini.

Tantangan lainnya ialah memaksimalkan kuota pemain yang ikut serta. Sejak pertama kali diluncurkan, kombinasi peserta IGT terdiri dari 80 pemain profesional, 30 pegolf amatir pria, 20 pegolf amatir wanita, dan 14 pemain undangan untuk memenuhi total 144 pemain. Sayangnya hingga musim 2015, belum sekalipun kuota tersebut dimaksimalkan.

Jumlah partisipasi terendah dalam dua musim terakhir ini terjadi pada seri yang diadakan di Lotus Lakes Golf Club, Karawang, Jawa Barat. Pada 2014 lalu tercatat hanya ada 71 pemain, 16 di antaranya pemain amatir. Sementara tahun lalu hanya ada 70 peserta, 12 di antaranya pemain amatir.

Junaidi Ibrahim, yang menjuarai Seri VI di Karawang tahun lalu, sempat mengungkapkan kekecewaannya terhadap sesama rekan profesionalnya, yang masih terjerat oleh masalah klasik berupa urusan finansial.

”Memang saya tahu ekonomi sekarang sangat berat, tapi bukan itu alasan sebenarnya (untuk tidak mengikuti turnamen). Seorang profesional itu harus bertanggung jawab terhadap profesionalitasnya sendiri. Nggak ada turnamen, banyak yang menanyakan turnamen. Giliran ada turnamen, nggak mau ikut,” tutur Junaidi waktu itu.

Keprihatinan juga mencuat untuk kelas amatir wanita. Selain jumlah partisipasi yang minim, sejak 2014 lalu para pemain amatir wanita hanya berpartisipasi dalam enam ajang IGT, empat di antaranya pada musim 2014. Catatan partisipasi amatir wanita terbanyak kami dapatkan dari Seri VI tahun 2014 dengan 12 pemain amatir wanita berpartisipasi. Tahun lalu, partisipasi tertinggi ada pada Seri VII dengan 10 peserta.

Kerja sama yang lebih erat dengan PGI rasanya bisa menjadi solusi agar partisipasi para pemain amatir, pria maupun wanita, bisa ditingkatkan lagi untuk musim 2016 ini. Yang jelas, Juriah sempat berpesan,

”Untuk memotivasi pegolf amatir wanita ikut berpartisipasi di Indonesian Golf Tour, sebaiknya turnamen ini dimasukkan ke World Amateur Ranking sehingga kita bisa mendapat poin ranking jika bermain di IGT. Ini pasti akan menjadi tujuan para pegolf amatir.”

  • Teks Raka S. Kurnia
  • Foto Taufik Dwilesmana