K.J. Choi merintis jalan bagi golf Korea dan Asia pada awal 2000-an dengan bermain pada PGA TOUR. Dari perjalanan awal yang sederhana, kariernya bersinar hingga meraih delapan gelar PGA TOUR, kemenangan terbanyak yang pernah diraih oleh seorang pegolf Asia. Namun, tak ada yang lebih memuaskan daripada ketika menjuarai THE PLAYERS Championship, persis sepuluh tahun lalu.

Oleh K.J. Choi

Pada tahun 2000 saya berlatih secara rutin di The Stadium Course, di TPC Sawgrass karena saya tinggal di Jacksonville, Florida selama hampir setahun setelah pindah ke Amerika Serikat untuk mengejar karier PGA TOUR. Saya melihat bendera-bendera nasional para pemenang THE PLAYERS Championship dikibarkan selama 12 bulan sepanjang tahun dan saya sering membayangkan kapan bendera Korea kami bisa berkibar di sana kelak. Bahkan ketika pindah ke Houston, saya masih mengunjungi TPC Sawgrass untuk berlatih dan pikiran yang sama kerap melintas dalam benak saya.

Saya lolos kualifikasi THE PLAYERS Championship untuk pertama kalinya pada tahun 2002 dan finis di 30 besar, sesuatu yang rasanya upaya yang bagus. Itulah awal dari kunjungan tahunan ke TPC Sawgrass, yang benar-benar merupakan lapangan golf yang menantang karena panjang dan sulit untuk dimainkan.

Ketika tiba untuk edisi tahun 2011, saya ingat finis T2 di New Orleans beberapa pekan sebelumnya. Jadi, permainan saya sedang dalam kondisi yang sangat bagus. Menariknya, kedi saya, Andy Prodger sempat berujar pada awal pekan itu, ”Saya pikir Anda tak bisa pulang ke Korea hari Minggu ini. Entah kenapa, saya merasa begitu.”

Kalau saya memikirkan peristiwa itu sekarang, Andy pasti telah merasakan sesuatu yang baik bakal terjadi bagi kami pada pekan itu. Mungkin ia merasa sudah saatnya bagi saya untuk memenangkan turnamen prestisius ini, meskipun saya belum pernah finis di sepuluh besar pada sembilan upaya sebelumnya.

Setelah membukukan skor 70 pada putaran pertama, bisa lolos cut menjadi target utama saya. Bermain di TPC Sawgrass tidaklah pernah mudah karena Anda mesti membentuk pukulan dan melakukan pukulan berkualitas, mengingat lapangan ini menguji setiap aspek permainan Anda.

 

 

Saya melanjutkan dengan skor 68 yang bagus pada putaran kedua untuk memperbaiki posisi dan hanya sedikit berada di luar sepuluh besar. Pikiran saya pun menjadi tenang. Dari sana saya mulai berpikir untuk meraih sepuluh besar, dan berfokus lebih keras lagi pada tiap pukulan. Pada hari Sabtunya, posisi saya menanjak hingga ke lima besar dalam sembilan hole pertama putaran waktu itu dan, ketika permainan terpaksa dihentikan karena cuaca yang buruk, saya mempersiapkan diri untuk menjalani hari Minggu yang berat karena harus bermain 27 hole. Syukurlah segalanya berjalan dengan baik untuk saya dan setelah mencatatkan skor 67 untuk putaran ketiga, saya hanya tertinggal satu stroke dengan sisa satu putaran.

Sepanjang hari itu benar-benar terjadi persaingan yang ketat. David Toms memimpin pada sebagian besar putaran final itu, tapi bolanya masuk air di hole 16 ketika sedang memimpin satu stroke. Lalu saya membuat birdie yang bagus di hole 17 par 3, yang terkenal itu, untuk mengambil posisi teratas. Namun, David menghasilkan birdie yang bagus di hole terakhir untuk memaksakan play-off, yang pada akhirnya berhasil saya menangkan setelah, secara menyayangkan, ia gagal memasukkan putt par di hole tambahan di hole 17.

Pada akhirnya, saya menyadari kalau saya menjadi juara THE PLAYERS. Dari antara delapan kemenangan PGA TOUR yang saya raih, saya paling banyak menangis setelah memenangkan yang satu ini. Saya benar-benar merasa jiwa saya tergetar dengan pencapaian ini karena saya pikir semua pemain berhasrat untuk menjuarai THE PLAYERS, mengingat inilah turnamen (dengan para peserta) terkuat di dunia dan juga merupakan ajang flagship PGA TOUR. Menjadi pemain Asia dan Korea pertama yang memenangkannya membuatnya ekstra spesial dan saya sangat bangga bisa bermain under selama empat putaran.

Kemenangan pada THE PLAYERS, tak diragukan lagi, menjadi sorotan dalam karier saya dan sungguh luar biasa karena peristiwa itu tercapai sepuluh tahun lalu. Ketika pertama kali bermain pada PGA TOUR, saya tak pernah membayangkan akan tinggal di AS untuk waktu yang lama karena tidak ada pemain Korea pada PGA TOUR waktu itu. Bukan perjalanan yang mudah untuk melakukan perjalanan dari kampung halaman saya di Wando, Korea, dan bermain golf sebagai atlet profesional. Saya sangat berterima kasih karena banyak orang membantu sepanjang perjalanan ini dan saya takkan bisa mencapai sukses sendirian. Seperti yang (mungkin) Anda ketahui, orangtua saya hanyalah petani biasa di kampung halaman, jadi mereka tak mampu membelikan club golf, atau membayar latihan atau tarif green saya. Namun, banyak orang di kampung halaman yang membantu saya. Beberapa memberikan club dan bola golf bekas mereka untuk saya gunakan dan terkadang, mereka membantu memberikan uang untuk latihan saya.

 

Andy Prodger (kiri), kedi K.J. Choi, sudah berfirasat bahwa mereka akan memenangkan THE PLAYERS pada awal pekan kejuaraan tersebut, sepuluh tahun silam. Foto: Getty Images. Foto: Stan Badz/PGA TOUR/Getty Images.

 

Saya juga melakukan kerja paruh waktu di fasilitas berlatih dan cucian mobil agar bisa menabung untuk mengejar impian golf saya. Sekarang saya tahu, saya harus membantu orang lain karena sudah menerima dukungan finansial dan mental dari begitu banyak orang. Salah satu hal yang paling menyenangkan mengenai PGA TOUR ialah dampak amal yang mereka berikan kepada masyarakat dan saya belajar dari para pemain lainnya terkait inisiatif-inisiatif amal mereka. Hanya tinggal soal waktu saja sampai saya meluncurkan yayasan saya sendiri, yang dinamakan K.J. Choi Foundation, yang saat ini mendukung hingga 60 siswa dan pegolf muda dan berbakat dengan beassiwa melalui penggalangan dana dari berbagai kegiatan.

Saya juga mengambil keputusan untuk memberikan sumbangan dan menawarkan dukungan terhadap upaya meringankan beban akibat bencana, termasuk setelah kemenangan THE PLAYERS saya tahun 2011, ketika saya mendukung upaya kemanusiaan setelah tornado menghantam wilayah tenggara AS. Mungkin inilah salah satu alasan mengapa saya menerima Charlie Bartlett Award pada tahun 2013, yaitu penghargaan yang mengakui individu-individu yang memberi kontribusi bagi masyarakat yang lebih baik. Dengan semua cinta dan syukur yang saya terima dalam hidup, saya ingin mendedikasikan diri untuk membantu anak-anak dan mereka yang kurang beruntung. Saya juga senang membagikan berbagai pengalaman dan kemampuan tentang golf dan kehidupan kepada generasi baru dan saya bangga akan hal ini. Saya merasa senang setiap kali mendengar hal-hal yang baik tentang perkembangan anak-anak dan semua ini menjadi kenikmatan yang tak ternilai.

Ada beberapa hal yang orang bicarakan ketika memikirkan K.J. Choi. Beberapa orang akan mengingat saya sebagai pemain yang mengubah-ubah grip dan menikmati sukses setelahnya, atau bahwa saya hanya mengenakan visor, dan julukan saya ialah ”The Tank” karena sikap yang menunjukkan pikiran yang tetap. Dari semua deskripsi ini, saya paling suka frasa yang berbunyi, ”K.J. Choi, yang berlatih sangat keras.” Saya menyukainya karena orang mengakui bahwa saya berlatih keras sepanjang hidup saya. Saya pikir hal ini akan menjadi warisan saya.

CATATAN
THE PLAYERS Championship, kejuaraan flagship PGA TOUR, akan disiarkan di Indonesia melalui GOLFTV powered by PGA TOUR.