Brooks Koepka membuat rekor 36 hole baru pada PGA Championship.

Pada akhir putaran kedua PGA Championship di Bethpage Black Course, pertanyaan yang beredar adalah “Siapa yang bisa menghentikan Brooks Koepka?” Mantan juara European Challenge Tour ini kembali menampilkan permainan fenomenal yang bahkan menenggelamkan nama besar rekan mainnya, Tiger Woods, dan bintang Ryder Cup Eropa serta Champion Golfer of the Year 2018 Francesco Molinari. Skor 5-under 65 miliknya kian mengukuhkan posisi Koekpa di peringkat teratas.

Sejarah demi sejarah juga terus ditorehkan olehnya, yang tampak menikmati upayanya mempertahankan gelar PGA Championship pekan ini. Usai menorehkan skor terendah di Bethpage Black Course, pegolf berusia 29 tahun ini menambah sejumlah catatan pada buku rekor ajang Major ini. Dengan total skor 12-under 128, ia telah memperbaiki skor terendah pada sebuah ajang Major, dari yang sebelumnya 130, yang dibukukan oleh Gary Woodland (PGA Championship 2018), Jordan Spieth (Masters 2015), Martin Kaymer (US Open 2014), Brandt Snedeker (The Open 2012), dan Nick Faldo (The Open 1992).

Selain itu, dengan keunggulan tujuh stroke dari Jordan Spieth dan Adam Scott di tempat kedua, Koepka juga menjadi pegolf pertama yang memiliki keuntungan sejauh itu setelah 36 hole pada ajang Major, jauh setelah Sir Henry Cotton melakukannya pada The Open Championship 1934. Benar, rekor yang baru terulang kembali 85 tahun kemudian.

Dan keunggulan ini menjadi rekor baru juga di panggung PGA Championship. Adalah Nick Price yang mematok keunggulan terbesar dengan lima stroke setelah memainkan dua putaran pada PGA Championship. Hal itu terjadi 25 tahun lalu di Southern Hills. Yang menariknya lagi, dua hari setelah menorehkan rekor kala itu, Price memenangkan PGA Championship keduanya, hanya dalam rentang tiga tahun!

Melihat permainannya, Koepka memang membuat golf seperti olahraga yang begitu mudah. Dalam empat hole pertamanya, ia langsung mencatat tiga birdie, yaitu di hole 1, 2, dan 4.

Koepka mencatatkan bogey pertamanya pekan ini di hole 10. Meskipun kembali mendapat bogey di hole 17, empat birdie lainnya di sembilan hole terakhirnya sudah cukup baginya untuk menjadi kekuatan dominan di puncak klasemen dengan rekor lainnya, skor total 128.

“Mungkin kedengarannya buruk, tapi hari ini saya berjuang keras. Pukulan saya tidak begitu bagus. Beberapa pukulan saya mengarah ke kanan. Tapi melihat permainan saya hari ini dan bagaimana saya bertarung, saya pikir permaian kali ini bahkan lebih mengesankan daripada kemarin, tidak menampilkan permainan terbaik, tapi masih bisa mendapat skor yang bagus. Saya sangat, sangat puas dengan permainan hari ini,” ujar Koepka.

Permainannya benar-benar membuat Tiger Woods tenggelam. Ketika banyak orang yang berharap Woods bisa kembali menciptakan kejutan seperti di Augusta National, Woods yang sempat mengaku tidak enak badan dan absen dari putaran latihan hari Rabu akhirnya hanya bermain 3-over 73 setelah bermain dengan skor 72 pada hari pertama. Skor totalnya itu hanya satu stroke di bawah batas cut off pekan ini pada 4-over.

“Saya benar-benar tidak ingat apapun yang mereka (Francesco Molinari dan Tiger Woods) lakukan. Anda harus fokus pada permainan Anda sendiri.” – Brooks Koepka

“Dia memukul sejauh 330 yard ke tengah fairway. Ia memainkan 9-iron ketika kebanyakan dari kami memukul dengan 5-iron, 4-iron, dan putting-nya juga bagus. Tidak ada alasan ia tidak bisa memperpanjang keunggulannya,” sekali lagi Woods melayangkan pujian terhadap pegolf No.3 dunia tersebut.

Koepka sendiri memang berniat memperlebar jarak dari siapa pun pesaing terdekatnya. “Saya ingin melihat selisihnya makin besar, sebesar mungkin,” ujarnya.

Menarik melihat statistik Koepka pada putaran kedua ini. Sebagai pemukul jauh, ternyata ia bukanlah pemukul terjauh apda pekan ini Pada hari pertama pukulan terjauhnya ialah 328 yard, sementara pada hari kedua ia mencatatkan 331 yard dan ini menempatkannya di peringkat T47 untuk urusan driver terjauh. Tapi akurasi driving-nya justru mengalami peningkatan pada putaran kedua, dari semula hanya 64,2% ia memperbaikinya menjadi 71,4%. Ditambah lagi dengan total 30 putt yang ia lakukan untuk membantunya mendapatkan tujuh birdie pada putaran kedua. Meskipun angka ini juga lima stroke di atas hari pertama, toh koleksi birdie-nya merupakan yang terbaik dari seluruh peserta.

“Putting saya sangat bagus. Rasanya bahkan ketika melakukan address di belakang bola, saya mendapat jalurnya dengan sempurna, dan saya tak mesti melakukan apa-apa lagi. Saya juga tidak perlu melakukan penyesuaian,” ujar Koepka.

“Saya merasa melakukan putting senyaman yang saya lakukan pekan ini. Anda tahu, poa bukanlah rumput favorit saya untuk putting, tapi saya rasa kontrol kecepatan saya sangat bagus.”

Selain itu, fokusnya juga luar biasa. Meskipun dikelilingi dan diikuti penggemar Woods, ia sama sekali tidak terusik dan bahkan tidak tergoda untuk mencari tahu apa yang dilakukan Molinari dan Woods. “Saya benar-benar tidak ingat apapun yang mereka lakukan. Anda harus fokus pada permainan Anda sendiri,” tegasnya.

Kalau Anda mendapat kesan bahwa PGA Championship kali ini bukan soal perebutan gelar juara, melainkan perebutan posisi kedua pada akhir turnamen, Anda tidak sendirian. Seperti halnya pertanyaan soal siapa yang bisa menghentikan Koepka, setidaknya, sejauh ini fakta menunjukkan tidak ada yang benar-benar bisa mendekati Koepka. Tidak juga Jordan Spieth ataupun Adam Scott.

Spieth, yang bermain pagi, sempat menikmati sesaat di posisi teratas. Performa Spieth jauh lebih baik dengan mendapat enam birdie dan dua bogey untuk 66 pada hari kedua dan 5-under 135 untuk skor totalnya. Jika pun ada yang superior dari Spieth ketimbang Koepka, hal itu hanyalah dalam kategori Strokes Gaind Putting. Setelah mencatatkan 3,1 pada hari pertama, Spieth menorehkan 4,0 dan merupakan yang terbaik di kategori ini dengan total putt 23 pada hari kedua.

“Anda tidak bisa berharap Brooks (Koepka) bakal tergelincir.” – Jordan Spieth

Spieth sendiri mengakui permainan putter-nya jauh lebih baik sehingga ia bisa merasa lebih bersabar dan “berusaha memukul green in regulation dan saya akan bisa mencatatkan putaran yang lebih konsisten,” ujarnya.

Spieth sendiri berpeluang untuk mencatatkan sejarah. Jika bisa menang pada pekan ini, ia bakal menjadi pegolf keenam yang berhasil mencatatkan kemenangan Grand Slam setelah menjuarai The Masters dan U.S. Open pada tahun 2015, serta The Open tahun 2017. Pada tahun 2015 itu juga ia nyaris meraih gelar PGA Championship, namun hanya finis di tempat kedua.

Meski demikian, ia juga harus mengakui ketangguhan Koepka ketika berujar, “Anda tidak bisa berharap Brooks bakal tergelincir.”

Lalu apakah itu berarti bahwa Spieth akan menerima kodratnya untuk memperebutkan posisi kedua dengan Adam Scott, yang mendapat tujuh birdie dengan bogey di hole 18? Seperti kata orang-orang, permainan masih tersisa 36 hole lagi dan segalanya bisa terjadi.

Jazz Janewattananond membuat catatan debut 36 hole yang mengesankan dengan untuk sementara berada di peringkat T10 di Bethpage Black Course. Foto: Asian Tour.

Memang persis demikian sehingga pada akhir hari kedua, kita pun melihat Kang Sung dari Korea, Jazz Janewattananond asal Thailand, dan Hideki Matsuyama dari Jepang sebagai wakil Asia yang untuk sementara menghuni peringkat 10 bersama enam pemain lainnya, dengan skor total 2-under 138.

Bagi Jazz Janewattananond, posisi ini jelas sangat membanggakan. Betapa tidak, ini merupakan debutnya pada ajang Major ini. Selain itu, ia menempatkan dirinya jauh lebih baik daripada seniornya, Kiradech Aphibarnrat yang membukukan skor total 4-over 144 dan menempati posisi T68. Satu pegolf Asia lainnya yang berhasil melaju ialah Li Haotong yang menorehkan skor 69 dan untuk sementara menjadi salah satu penghuni peringkat 47.

Kiradech sendiri berhasil memastikan lolos ke putaran akhir pekan berkat permainan solid hari kedua dengan 2-under 68.

Leave a comment