Pegolf asal Australia Brett Rumford tampil dominan dan menjuarai ISPS HANDA World Super 6 Perth dengan mengalahkan remaja sensasional Phachara Khongwatmai dalam turnamen dengan format unik.

Phachara yang baru berusia 17 tahun berhasil melampaui segala ekspektasi saat ia mengamankan spot play-off terakhir pada ajang match play yang dimainkan sebagai putaran final. ISPS HANDA World Super 6 menjadi inisiatif baru di mana selama tiga putaran turnamen ini dimainkan dengan format stroke play dan 24 pemain teratas akan melaju dengan format match play.

Rumford yang bermain luar biasa pada tiga putaran berhasil mendapat bye pada putaran pertama, lalu berhasil mengalahkan pegolf Jepang Hideto Tanihara, Wade Ormsby, dan Adam Bland untuk melaju ke partai final yang berlangsung di Lake Karrinyup Country Club.

Sementara itu, Phachara berhasil mengamankan posisi terakhir dan masuk ke partai match play. Ia akhirnya memastikan tempatnya setelah menuntaskan play-off di hole ketiga pada hari Sabtu. Sementara pada hari terakhir, ia mengalahkan pegolf Australia, Sam Brazel, Lucas Herbert, Matthew Millar, dan Jason Scrivener sebelum berhadapan dengan Rumford.

Rumford mengawalinya duel puncak ini dengan meyakinkan dan memenangkan hole pertama. Namun, Khongwatmai berhasil menyamakan kedudukan di hole kedua. Mereka masih terus main imbang hingga hole keempat ketika Rumford berhasil mendapat keuntungan dengan mencatatkan birdie pada ajang yang memperebutkan total AUD$1,75 juta tersebut. Ajang ini sendiri merupakan kerja sama tiga badan profesional: Asian Tour, European Tour, dan ISPS HANDA PGA Tour of Australasia.

Setelah tee off-nya masuk bunker di hole kelima par 3, Phachara sempat mengejutkan publik dengan mengambil langkah yang unik. Alih-alih menggunakan wedge, ia berusaha mengeluarkan bola denagn memakai putter. Usahanya tersebut gagal dan membuatnya akhirnya harus mengakui keunggulan Rumford

”Yang bisa saya katakan hanyalah ini pekan yang benar-benar berat. Anda mesti memainkan enam hole untuk memenangkan turnamen golf 72 hole. Jadi duel itu memberikan kesan yang sama dengan upaya memenangkan turnamen,” ujar Rumford. ”Tapi memulainya dari pukul 9 pagi dan selesai pukul 17:30 benar-benar hari yang panjang. Jadi, ini benarbenar tantangan yang unik dalam upaya memenangkan kejuaraan golf dan merasakan emosi yang sama, tensi, dan tekanan selama enam hole dalam empat pertandingan berturut-turut.”

Perasaan berbeda dirasakan oleh Phachara yang mengaku tak merasakan tekanan apapun. ”Setelah mengambil spot terakhir kemarin (18/2), saya sangat senang. Saya cuma mengingatkan diri sendiri agar main bagus dan menikmatinya.”

Meskipun gagal menjadi juara, prestasi Phachara ini jelas menjadi sorotan dalam inisiatif baru ini. Prestasinya ini menjadi yang kedua kalinya bagi Phachara setelah pada SMBC Singapore Open ia pun berada di posisi kedua. Sebagai catatan, ini merupakan ajang match play pertama yang ia mainkan sebagai profesional.