Rory Hie mewujudkan impian dirinya dan publik golf Indonesia dengan menjadi pegolf Indonesia pertama yang meraih kemenangan pada ajang Asian Tour.

Dua pekan berlalu setelah publik Indonesia patah hati lantaran harus menunda menyambut juara baru Indonesia Open, sekaligus juara pada sebuah ajang Asian Tour. Dan harapan tersebut akhirnya terpenuhi pada hari Minggu (15/9) ini ketika Rory Hie berhasil menjuarai Classic Golf and Country Club International Championship yang digelar di Gurgaon, India.

Dalam ajang Nasional Terbukanya, secara matematis Rory berpeluang untuk menempatkan dirinya di jajaran atas untuk menemani Naraajie Emerald Ramadhan Putra. Sayangnya, kala itu ia harus puas finis di peringkat T22. Tapi hasil tersebut jelas terbukti bukan sesuatu yang menghambat perkembangannya. Persis ketika anggapan bahwa kariernya mulai mandek, Rory memberi jawaban dengan sangat tegas dan meyakinkan, tepat pada waktu yang sangat ia butuhkan.

Rory menampilkan performa yang mengagumkan, memulai putaran pertama di Classic Golf and Country Club dengan delapan birdie tanpa bogey untuk skor 8-under 64. Meski kerap dikatakan bahwa juara tidak dipastikan sejak hari pertama, bekal yang sangat solid ini jelas sangat membantu meningkatkan percaya diri pegolf berusia 31 tahun ini untuk tampil dengan sangat baik. Hasilnya pun sangat mengagumkan: tak sekalipun ia menanggalkan posisi teratas.

Pada hari kedua, Rory bermain dengan tak kalah baiknya. Meskipun kali ini menorehkan enam birdie dengan dua bogey, ia menunjukkan kemampuan untuk selalu bisa lekas bangkit usai mendapat bogey. Ia benar-benar berhasil meminimalisasi kesalahan. “Rasanya saya bisa memainkan lapangann ini dengan lebih cerdas dan tidak melakukan terlalu banyak kesalahan,” ujarnya kala itu.

Lalu pada putaran ketiga, Rory bermain dengan mentalitas yang juga sangat membantunya untuk mempertahankan posisi teratas. Diskusinya dengan Lawrie Montague, salah satu pelatih Indonesia, berhasil ia terapkan dengan sangat baik. Ia bermain tanpa memikirkan urusan swing golf dan bisa berfokus hanya untuk bermain, persis seperti ketika ia masih junior. Dan yang terpenting ia berhasil menghadapi tiap putt dengan sikap yang positif. Hasilnya, ia kembali bermain dengan baik, menorehkan enam birdie dan satu bogey, untuk kembali memimpindi puncak klasemen.

Inilah untuk pertama kalinya Rory berhasil mempertahankan posisi teratas dalam tiga putaran dan kemudian mewujudkan apa yang ia impikan sejak beralih profesional. Pada putaran final hari ini, Rory bermain dengan luar biasa, bermain di bawah tekanan yang tak kalah besarnya, mengingat inilah untuk pertama kalinya sejak 2011 ketika ia memiliki peluang terbaik untuk menjadi juara.

Rory memulai putaran final dengan meyakinkan, menorehkan birdie di hole 1, namun harus bersabar sampai akhirnya kembali mendapatkan birdie di hole 13. Birdie tersebut benar-benar ia dapatkan pada momen yang sangat ia butuhkan. Ketika itu pegolf Korea Kim Byungjun menjadi pesaing terdekatnya, yang bahkan sempat memimpin hingga hole 12.

Birdie di hole 13 itu sekaligus menjadi pendorong untuk dia menorehkan dua birdie lainnya di dua hole berikutnya. Dengan skor 21-under dan tiga hole tersisa, ia memang memiliki keunggulan dua stroke, tapi jelas posisinya jauh dari aman. Belum lagi tekanan yang, jelas sulit dibayangkan siapa pun selain dirinya sendiri, yang harus ia pikul dalam tiga hole terakhir.

Beruntung ia berhasil mengamankan skornya, bermain par di tiga hole terakhir dan memasukkan putt untuk par dari jarak tiga kaki untuk menjadi juara Asian Tour pertama dari Indonesia.

“Akhirnya saya bisa menjadi juara Asian Tour,” ujar Rory. “Ada banyak pemain hebat yang tidak menang, atau belum bisa menang, dan saya sendiri tidak tahu apa yang saya lakukan sehingga akhirnya layak menerima kemenangan ini. Tapi saya sangat senang kemenangan ini bisa terwujud. Dan saya bahkan melakukan putting seperti layaknya seorang juara hari ini, dan saya kira itulah yang memberi perbedaan.”

Melihat statistiknya, Rory berhasil mencatatkan 57 dari 72 green in regulation, meskipun dengan pukulan yang mencapai fairway hanya memenuhi 29 dari 56 fairway. Istimewanya, pada hari ini ia hanya empat kali memukul bola ke fairway! Selain itu, ia juga mencatatkan rata-rata 27,25 putt per putaran untuk mencatatkan 24 birdie dengan hanya tiga bogey.

“Saya sangat gugup ketika memulai hari ini bahkan ketika berada di driving range. Tapi saya berhasil mengembalikan fokus saya ….” – Rory Hie

Rory kembali memberi kredit kepada Lawrie Montague yang menurutnya menjadi salah satu kunci keberhasilannya pekan ini.

“Tanpa bantuan Lawrie, saya tidak mungkin bisa menuntaskan turnamen ini dengan kemenangan. Saya sangat gugup ketika memulai hari ini bahkan ketika berada di driving range. Tapi saya berhasil mengembalikan fokus saya dan setelah birdie di hole 15 itu, saya tahu kalau saya memiliki keunggulan dua stroke, dan pada satu titik, saya merasa kesulitan untuk mengendalikan emosi. Saya tahu, saya hanya harus bermain par di sisa hole yang ada. Dan saya berhasil mengamankan par dengan luar biasa di hole 17, yang memberi saya dua stroke keunggulan itu, benar-benar sulit dipercaya!”

Selain mempersembahkan kemenangan ini bagi Indonesia, Rory juga mempersembahkan kemenangannya ini kepada sahabatnya dari Malaysia, Arie Irawan, yang meninggal dunia pada bulan April 2019 lalu.

“Saya rasa kami mengalami pergumulan yang sama sebagai pegolf profesional, dan sayangnya ia tidak dapat mewujudkan (kemenangan di kancah Asian Tour). Saya yakin ia bisa merasa bangga terhadap saya karena kami benar-benar teman baik,” tutur Rory.

Dengan kemenangan ini, Rory membawa pulang hadiah senilai US$54.000. Dan yang terpenting ialah ia berhasil mengamankan statusnya pada Asian Tour untuk musim depan.

Kim Byungjun dan pegolf tuan rumah Rashid Khan akhirnya finis di peringkat kedua setelah keduanya sama-sama menorehkan skor 19-under 269. Sementara itu, Danny Masrin menorehkan skor terbaiknya pada pekan ini dengan 2-under 70. Skor total 2-under 286 menempatkiannya di peringkat T57.

Leave a comment