Lima tahun sudah berlalu, kini Rinaldi Adiyandono mencatatkan kemenangan yang sangat penting di Jagorawi Golf and Country Club.

Tahun 2014 silam, Rinaldi Adiyandono berhasil melakukan terobosan besar dalam karier profesionalnya yang baru berjalan dua tahun. Tak hanya sekali, ia malah menorehkan dua kemenangan pada tahun itu. Usai menjuarai Panasonic Open Indonesia ia juga memenangkan Indonesian Golf Tour Grand Final. Karier profesionalnya seakan bakal melambung setelah meraih dua kemenangan itu.

Sayangnya, kemenangan di Imperial Klub Golf, Karawaci, Tangerang itu menjadi seakan menjadi gelar terakhir baginya. Berkali-kali ia tampil sebagai pesaing, berkali-kali pula ia tersandung dalam upayanya memutus rantai tanpa gelar kemenangan itu.

Memasuki tahun 2019 ini, harapan untuk meraih prestasi juga sedikit memudar. Indonesian Golf Tour tak lagi digelar, yang membuat frekuensi turnamen menjadi tak lagi jelas. Sementara pada turnamen perdana yang digelar pada akhir Januari 2019 lalu, ia justru terlempar dari persaingan. Jika pun ada hal positif yang ia dapatkan, Rinaldi berhasil menembus sepuluh besar dengan mencatatkan skor 1-under 215.

Lalu terjadilah peristiwa bersejarah nun di Amerika Serikat. Kemenangan Tiger Woods pada The Masters Tournament bulan April 2019 itu mematahkan asumsi begitu banyak pakar yang menyatakan bahwa impian Tiger sudah usai. Sebagaimana kemenangan yang ia raih pada 1997, kemenangan ini juga menjadi sumber inspirasi bagi begitu banyak orang, termasuk Rinaldi Adiyandono.

Meski memulai PAGI Pro Series I dalam posisi yang kurang ideal, membukukan even par 72, Rinaldi menunjukkan performa istimewa ketika mencatatkan skor terendah sepanjang berlangsungnya turnamen ini. Pada hari kedua, ia mencatatkan empat birdie dengan sebuah eagle untuk menorehkan 6-under 66, yang sekaligus memberinya keunggulan dua stroke dari pemain amatir Alfred Raja Sitohang

Alfred sendiri menjelma menjadi penantang tertangguh dalam turnamen kali ini. Sebagai salah satu atlet yang ikut didukung oleh PAGI, Perkumpulan Akademi Golf Indonesia, ia seakan menyambut tantangan untuk tampil maksimal dengan dua kali berturut-turut membukukan 2-under 70. Dengan meredupnya sinar Naraajie Emerald Ramadhan Putra, Alfred menjadi bagian dari episode menarik dari turnamen ini.

“Saya pikir permainan wedge dan putter saya pekan ini juga sangat bagus sehingga saya menjadi sangat percaya diri.” – Rinaldi Adiyandono

Saat memainkan putaran final, keduanya terpaut dua stroke dengan keunggulan ada pada Rinaldi. Tapi keunggulan itu mulai terancam ketika di sembilan hole pertama, Rinaldi justru tersandung dengan tiga bogey berturut-turut dari hole 6, meskipun ia sempat mengawali dengan birdie di hole pertama. Alfred yang menorehkan dua birdie dan sebuah bogey berhasil memangkas selisih skor menjadi hanya satu stroke.

Namun, titik balik itu terjadi di sembilan hole terakhir. Rinaldi menambah dua birdie lagi di hole 10 dan 11 dan mengembalikan skornya ke 6-under, sementara Alfred justru tersandung dengan tiga kali berturut-turut mendapat bogey di hole 11, 12, dan 13. Dengan tersisa lima hole, Alfred tak kunjung berhasil menambahkan koleksi birdie sehingga kemenangan itupun menjadi milik Rinaldi, yang berhasil mengamankan par di tujuh hole terakhirnya.

“Tiger Woods menginspirasi saya dan teman saya. Kemenangannya di Augusta itu memberi saya keberanian untuk bisa memenangkan turnamen lagi,” ujar Rinaldi. Ini merupakan gelar profesional ketiga baginya dan yang pertama sejak 2014.

Kenangan berkesan ketika menjadi bagian dari Tim Indonesia yang meraih dua emas, satu perak, dan satu perunggu pada ajang SEA Games 2011 menjadi bagian dari keberhasilannya kali ini. Kala itu, Rinaldi berada dalam satu tim bersama George Gandranata, Ian Andrew, dan Suprapto yang mempersembahkan satu medali perak.

“Lapangan Jagorawi Golf and Country Club ini sangat familiar buat saya karena kami juga bermain di sini pada SEA Games 2011. Selain faktor ini, saya pikir permainan wedge dan putter saya pekan ini juga sangat bagus sehingga saya menjadi sangat percaya diri. Lapangan ini adalah lapangan yang sempit, jadi ada banyak pukulan yang pasti meleset dan itulah yang saya alami. Hanya saja, saya bisa mengamankan banyak par dan mencatatkan banyak birdie juga. Saya pikir itulah alasan mengapa saya bisa menang kali ini,” ujar Rinaldi.

“Rasanya lapangan ini menjadi lebih mudah. Pelatih saya, David Milne, sempat berkomentar lewat akun Instagrama saya dengan mengatakan, ‘Sekarang fairway-nya menjadi sedikit lebih lebar karena saat SEA Games, mereka membuat fairway menjadi lebih sempit dan rough-nya sangat tebal sehingga lapangan itu menjadi lebih sulit.’ Kini saya memainkannya seperti lapangan normal sehingag terasa lebih mudah.”

Kemenangan ini datang pada saat yang sangat tepat. Sejak 2018 lalu, Rinaldi turut membagi waktunya antara berlatih dan mengajar, dua aktivitas yang lumrah dilakukan oleh sebagian besar pegolf profesional di Indonesia. Maka kemenangan ini memiliki arti yang sangat penting. Ini menunjukkan bahwa ia cukup berhasil membagi fokusnya secara berimbang sehingga masih bisa bersaing sebagai pegolf Tour.

Permainan Alfred Raja Sitohang yang membuatnya menjadi penantang tangguh pada PAGI Pro Series I menunjukkan potensi yang menjanjikan setelah ia finis sebagai runner-up. Foto: Golfin’STYLE.

“Kemenangan ini juga membuktikan kalau saya tidak hanya bisa mengajar, tapi juga bisa meraih kemenangan juga,” tandasnya.

Bagi Alfred sendiri, hasil ini memang cukup mengecewakan. Terlebih mengingat ia memiliki peluang yang cukup bagus dalam turnamen ini. Namun, bisa finis sendirian sebagai runner-up jelas menjadi prestasi tersendiri yang patut dibanggakan. Bersama Rinaldi dan Benita Kasiadi, Alfred menjadi salah satu dari hanya tiga pemain yang berhasil mengumpulkan skor total under. Total ia membukukan 14 birdie dengan 12 bogey.

“Persiapan saya kali ini memang sangat bagus sehingga bisa bersaing, meskipun akhirnya gagal menang,” ujar Alfred.

Dengan demikian, dari dua turnamen yang telah digelar pada tahun 2019 ini, dua pemain amatir berhasil mencuri perhatian dengan menempati posisi runner-up. Pegolf amatir yang lebih senior, Almay Rayhan Yagutah, melakukan hal serupa pada ajang Magic Ohana Invitational Golf Challenge pada bulan Januari 2019. Kala itu Almay berbagi tempat kedua dengan Rory Hie. Dan kini Alfred mengikuti langkah serupa, sekaligus menunjukkan bahwa permainannya kini mulai matang.

Seri kedua dari PAGI Pro Series ini akan berlanjut ke lapangan yang juga memberi kenangan istimewa bagi Rinaldi, yaitu Imperial Klub Golf pada tanggal 6-9 Agustus 2019. Di sini ia meraih gelar profesional keduanya. Bukan tidak mungkin jika ia akan memanfaatkan momen-momen terbaik saat itu dengan kapasitasnya yang kian komplit kali ini.

Adapun seri terakhir, yang memperebutkan trofi President Cup, akan dilangsungkan di Emeralda Golf Club pada 22-25 November 2019.

Leave a comment