Roda organisasi Pengurus Provinsi DKI Persatuan Golf Indonesia (PGI) akhirnya dilanjutkan oleh Reza Rajasa.

Keputusan tersebut tercapai kemarin (19/1) melalui Musyawarah Pengurus Provinsi DKI (Musprov) di Gedung KONI DKI Jakarta.

Dalam musyawarah yang diikuti oleh 92 anggota Pengprov DKI, dengan 89 peserta atau utusan yang memiliki hak suara, pemilihan ketua untuk periode 2020-2024 ini pada akhirnya tidak sampai ke tahap pemungutan suara, lantaran calon lainnya, Joyada Siallagan, menyatakan mengundurkan diri.

“Terima kasih untuk seluruh voters PGI DKI Jakarta atas dukungannya, dan ke depannya kami memerlukan bantuan dari seluruh tim untuk merealisasikan visi misi kami dan harapan dari seluruh golfer DKI Jakarta,” ujar Reza sesaat setelah keputusan musyawarah disampaikan di hadapan seluruh peserta Musprov.

Terpilihnya Reza sebagai Ketua PGI Pengprov DKI Jakarta memang sudah diprediksi oleh banyak kalangan. Sejak sebelum Musprov, ia sudah banyak melakukan pertemuan, termasuk dengan media, untuk memperkenalkan visi dan misinya.

Reza akan bekerja dengan mengusung dua visi. Selain menjadikan DKI Jakarta sebagai barometer pembinaan olahraga golf di Indonesia, ia juga hendak menjadikan PGI Pengprov DKI Jakarta sebagai wadah dari lahirnya atlet-atlet golf Indonesia yang berpotensi dan berprestasi.

Selain itu, ia juga bakal bekerja untuk memenuhi setidaknya delapan misi. Selain mempererat hubungan dengan sesama pemangku kepentingan, Reza juga hendak membina para pegolf junior dan amatir DKI. Ia juga ingin mengelola organisasi PGI Pengprov DKI ini sehingga menjadi lebih sehat dan berguna bagi semua pemangku kepentingan, serta membuka olahraga golf seluas-luasnya kepada seluruh elemen masyarakat sehingga nantinya bisa memberi dampak positif bagi pariwisata DKI Jakarta.

Pada periode kepengurusannya, Reza juga berniat menyiapkan atlet golf DKI agar bisa menjadi juara umum pada cabang olahraga golf PON 2024. Sementara untuk regenerasi, ia akan meningkatkan peran organisasi untuk merangkul seluruh pemangku kepentingan agar lebih berperan aktif dalam mencari bibit pemain sejak usia dini.

Salah satu tantangan terbesar bagi golf di Indonesia ialah bagaimana membuat golf lebih diterima di lingkungan masyarakat umum. Apalagi saat ini golf menghadapi tantangan persaingan dari cabang olahraga lain, yang bagi generasi muda dianggap lebih menarik.

Ia juga menilai pentingnya menjembatani kesenjangan sosial dalam konteks olahraga golf, khususnya di daerah DKI Jakarta. Sementara program-program sebelumnya yang dianggap relevan untuk ke depan juga akan ia lanjutkan.

Untuk memenuhi visi dan misi tersebut, ia juga mengusung empat program kerja, yang mencakup pembinaan junior, pembinaan atlet amatir, sambil berfokus pada sarana dan prasarana, serta menguatkan kerja sama dengan klub-klub anggota.

Sebagai ketua terpilih, Reza mendapat waktu hingga 30 hari ke depan untuk menyusun formatur yang mendampingi serta jajaran pengurus yang akan bekerja menjalankan visi-misi serta program-program kerjanya.

Analisis Singkat
Terpilihnya Reza memang sudah diperkirakan sejak awal. Selain sejauh ini aktif di lingkungan golf dan banyak berperan mendukung sejumlah atlet nasional, ia tampak lebih rajin membuka diri dan memperkenalkan visi dan misinya melalui sejumlah media.

Sementara itu, calon kedua, Joyada Siallagan menempati posisi yang justru kurang solid. Selain ia tak begitu banyak dikenal oleh masyarakat golf DKI Jakarta, upayanya memperkenalkan visi dan misi serta program kerjanya juga sulit dibandingkan dengan apa yang dilakukan Reza.

Baik Reza, maupun Joyada mengusung visi dan misi yang pada dasarnya baik untuk golf di Indonesia. Namun, tantangan terbesar bagi Reza sebagai ketua terpilih ialah bagaimana menerjemahkan semua program yang sudah disusun dan meyakinkan seluruh pemangku kepentingan untuk mendukung.

Salah satu tantangan terbesar bagi golf di Indonesia ialah bagaimana membuat golf lebih diterima di lingkungan masyarakat umum. Program dan strategi yang jitu mutlak dibutuhkan sehingga makin banyak generasi muda bisa menggemari golf. Apalagi saat ini golf menghadapi tantangan persaingan dari cabang olahraga lain, yang bagi generasi muda dianggap lebih menarik.

Bagaimanapun juga, jelas Reza tidak bisa bekerja sendiri. Ia membutuhkan dukungan serius dari banyak pihak agar berbagai harapan positif untuk golf di Jakarta bisa terwujud.