Patrick Reed merengkuh gelar World Golf Championships kedua sekaligus membungkam kritik.

Patrick Reed jelas menjadi tokoh antagonis yang menjadi sasaran kritik dari penggemar golf dunia. Meskipun kasus pelanggaran yang terjadi pada Hero World Challenge sudah lama berlalu, Reed mendapat penalti dua stroke, tapi masih bisa main 66 dan finis di tempat ketiga, suara-suara yang menunjukkan ketidaksukaan terhadapnya masih terdengar.

Bahkan jelang World Golf Championships-Mexico Championship, dalam bincang-bincang di SiriusXM, Brooks Koepka dengan tegas menilai Reed memang telah melakukan kecurangan dan mengkritik tindakannya.

Namun, semua serangan tersebut sama sekali tidak memengaruhi permainannya. Reed jelas telah memiliki cara untuk mengabaikan seluruh nada negatif yang ditujukan kepadanya. Dan permainannya pada putaran final WGC-Mexico Championship hari Minggu (23/2) kemarin adalah buktinya.

Pada satu titik, Bryson DeChambeau, Jon Rahm, dan Erik van Rooyen sama-sama memimpin setelah sembilan hole, sementara Rory McIlroy dan Justin Thomas berjarak satu stroke di belakang mereka. Namun, Reed kemudian berhasil meninggalkan para pesaingnya itu berkat empat birdie dalam enam hole terakhirnya, dimulai dari hole 12. Dan ketika memasuki hole pamungkas, ia sudah unggul dua stroke. Meskipun akhirnya mendapat bogey, setelah pukulan tee-nya meleset jauh dari fairway, bogey di hole tersebut tak menggoyahkan posisinya di puncak klasemen.

Bisa mewujudkan kemenangan ini, bahkan sebelum Florida Swing, jelas memberi momentum dan percaya diri bahwa saya bisa bermain dengan baik.

Putaran final 4-under 67 dengan total skor 18-under 266 memberinya kemenangan satu stroke, yang memberinya gelar WGC kedua dalam kariernya. Sebelumnya, ia juga memenangkan kejuaraan ini ketika masih bernama WGC-Cadillac Championship pada tahun 2014 … yang turut melambungkan namanya sebagai pemain kontroversial.

“Kemenangan ini sangat berarti karena ini menjadi salah satu target kami untuk memenangkan turnamen dan kembali ke jajaran juara sebelum menuju Augusta (untuk mengikuti Masters Tournament). Dan bisa mewujudkan kemenangan ini, bahkan sebelum Florida Swing (rangkaian turnamen di Florida), jelas memberi momentum dan percaya diri bahwa saya bisa bermain dengan baik. Sekarang saya tinggal melanjutkan kerja keras ini, melanjutkan latihan, dan berharap lebih banyak kemenangan lagi yang bisa saya raih,” tutur Reed.

Performa putting-nya pada putaran final terbukti menjadi kunci kemenangan, terutama mengingat performa pukulannya tidak sesolid yang semestinya. Meskipun memulai hari terakhir dengan birdie, Reed harus bersabar hingga sebelas hole berikutnya untuk bisa mendapatkan birdie kedua.

“Kami mengawalinya dengan sangat baik, dengan melakukan pukulan, yang menurut saya, merupakan pukulan 3-wood yang sempurna di hole 1, dan berhasil mendapat birdie di sana. Tapi setelah itu, saya harus berjibaku, banyak melakukan up-and-down dan mendapat banyak par,” ujarnya lagi.

Jelas birdie di hole 12 ikut memberinya dorongan untuk kemudian membukukan tiga birdie berturut-turut dari hole 15, sekaligus mengamankan posisi untuk meraih kemenangan.

 

 

“Hal yang paling luar biasa ketika bermain pada ajang seperti ini ialah ketika Anda berada di dekat puncak klasemen, justru bukan para pemain yang ada di grup terakhir yang harus Anda khawatirkan, justru pemain yang di sekitar itu yang mesti diperhatikan. Kemarin (hari ketiga) Jon Rahm main 61 dan kembali bersaing pada turnamen ini. Sepertinya dia dan Bryson (DeChambeau) bakal melakukan hal yang sama lagi. Tapi kami bisa menempatkan posisi kami di depan mereka dan fokus melakukan apa yang harus kami lakukan,” Reed menjelaskan.

DeChambeau dan Rahm memang berusaha mengejar dan menyalip ke jajaran atas, tapi keduanya harus puas finis, masing-masing, di tempat kedua dan ketiga, dengan Rahm berbagi tempat dengan van Rooyen.

Lalu apakah kemenangan ini sudah cukup membungkam kritik baginya?

“Sejujurnya, saya tidak tahu. Toh pada akhirnya, buat saya semua kritik itu tidaklah penting. Yang penting bagi saya ialah bermain dan terus melakukan apa yang semestinya saya kerjakan, yaitu bermain sebaik mungkin, menjadi individu yang sebaik mungkin, dan berusaha memberi contoh bagi anak-anak yang menonton langsung, termasuk anak-anak saya yang menonton di rumah,” ujarnya.

“pada akhirnya, buat saya semua kritik itu tidaklah penting.”

“Saya rasa saya melakukan hal tersebut, dan hanya itu yang saya harapkan. Dan rasanya saya telah melakukan hal yang baik, semoga segala sesuatunya bisa berjalan dengan mulus dan menuju arah yang tepat.”

Matsuyama Perbaiki Prestasi
Sementara itu, Hideki Matsuyama berhasil memperbaiki catatan penampilannya pada WGC-Mexico Championship. Setelah hanya bermain even par 71 pada putaran ketiga, ia berhasil menutup turnamen ini dengan catatan skor 4-under 67.

Sama seperti Reed, sembilan hole pertamanya di Club Golf de Chapultepec harus dilalui dengan perjuangan. Setelah bogey di hole 3 dan birdie di hole 4, Matsuyama harus bersabar hingga enam hole berikutnya sebelum akhirnya mendapat birdie di hole 11 dan 12. Dalam enam hole terakhir, ia kemudian bermain 2-under berkat tiga birdie dan satu bogey.

Dengan catatan skor 271, pegolf berusia 27 tahun ini mengakhiri ajang WGC pertama pada tahun ini dengan finis di posisi T6, bersama Tyrell Hatton dan Justin Thomas. Skor total 13-under ini lebih baik 8 stroke daripada ketika ia finis T19 pada tahun lalu.