Dalam budaya China, hujan diyakini sebagai pembawa keberuntungan. Rasanya tidak ada yang jauh lebih baik lagi ketika melihat bahwa hal tersebut terbukti di Hong Kong. Dalam hujan yang membasahi Hong Kong Golf Club, keberuntungan itu dianugerahkan kepada dia yang menunjukkan ketangguhannya di lapangan. Dan dalam konteks demikian, publik golf dunia merengkuh bintang baru asal Inggris bernama Aaron Rai.

Pemuda berusia 23 tahun ini memang luar biasa. Ia benar-benar mengulangi pencapaiannya ketika berlaga pada sirkuit kelas dua, European Challenge Tour, tahun lalu, hanya saja kali ini ia lakukan di panggung yang lebih besar lagi.

Tahun 2017 itu, Rai meraih kemenangan pertamanya dengan menjuarai Barclays Kenya Open dengan emosional. Emosional lantaran kala itu sang ibu juga hadir, persis ketika Inggris tengah merayakan Hari Ibu. Itulah kunjungan pertama sang ibu, yang memang asal Kenya, kembali ke negerinya dan menyaksikan putranya meraih kemenangan.

Kali ini, Rai mendemonstrasikan ketangguhan yang sanggup mengalahkan peraih lima gelar European Tour, yang juga rekan senegaranya sendiri, Matthew Fitzpatrick, sekaligus menjuarai HONMA Hong Kong Open presented by Amundi. Uniknya lagi, turnamen yang juga disokong oleh Asian Tour ini merupakan turnamen awal musim bagi European Tour.

Putaran final yang berlangsung siang tadi (25/11) jelas menyuguhkan persaingan yang sangat intens antara Rai dan Fitzpatrick. Hujan yang menghiasi Hong Kong Golf Club itu menciptakan suasana latar yang dramatis, sekaligus menyuguhkan medan tarung yang berat.

Kegigihan Fitzpatrick terlihat ketika ia berhasil memangkas selisih skornya dengan Rai. Dari memulai putaran akhir dengan tertinggal enam stroke, Fitzpatrick sempat mengejar hingga tertinggal satu stroke setelah membukukan tujuh birdie hingga hole 16. Sampai di sana, Rai sendiri hanya menorehkan empat birdie dan dua bogey.

“Mungkin butuh beberapa hari sampai saya benar-benar bisa mencerna kemenangan ini, tapi jelas sungguh istimewa bisa meraih kemenangan di Tour mana pun, apalagi European Tour dan pada Hong Kong Open.” – Aaron Rai

Namun, celaka bagi Fitzpatrick, ia justru mendapat bogey di hole 17, yang terbukti fatal baginya dan krusial bagi Rai. Dengan keunggulan dua stroke, posisi Rai pun masih aman, bahkan ketika ia harus mengakhiri hole pamungkas dengan sebuah bogey untuk menuntaskan putaran final dengan skor 69, dan skor total 17-under 263 membuatnya lebih baik satu stroke dari Fitzpatrick, yang sekaligus memberinya gelar European Tour, sekaligus Asian Tour, pertama dalam kariernya.

“Matt bermain luar biasa sepanjang hari ini. Sungguh berat, tapi sekali lagi, saya sebenarnya hanya berusaha bermain sebaik mungkin, ketimbang Matt, atau pemain lain yang memang main bagus hari ini. Saya beruntung bisa melakukan hal itu sepanjang hari,” ujar Rai merendah, seakan sadar bahwa pencapaiannya ini hanya menjadi satu bagian dalam karier profesionalnya.

Memang benar, kemenangan ini menjadi babak baru bagi Rai. Perjalanannya sendiri sebenarnya cukup panjang. Sejak menjuarai Barclays Kenya Open, lalu memenangkan Andalucia Costa del Sol Match Play 9 di Spanyol, dan Le Vaudreuil Golf Challenge di Perancis, ia meningkatkan kelas permainannya untuk kini menyandang status juara European Tour dan Asian Tour.

“Kemenangan ini sungguh luar biasa. Saya masih belum sepenuhnya menyerapnya. Mungkin butuh beberapa hari sampai saya benar-benar bisa mencernanya, tapi jelas sungguh istimewa bisa meraih kemenangan di Tour mana pun, apalagi European Tour dan pada Hong Kong Open,” sambungnya.

Jika Rai menyebut permainan iron dan putting menjadi kunci permainannya sepanjang pekan ini, semua pihak pasti mempercayainya. Skor 61 pada putaran kedua jelas membantunya untuk meraih kemenangan.

Fitzpatrick sendiri mengakui kekalahannya dengan memuji permainan Rai yang luar biasa. “Dua hari terakhir ini, permainan golfnya sangat solid dan dia tidak melakukan kesalahan sama sekali, yang membuat usaha saya semakin berat. Saya berharap ini bulan Januari, tapi sayangnya ini justru menjelang akhir tahun dan saya harus rehat sejenak dan mengevaluasi ulang posisi saya untuk melangkah ke depan,” ujarnya.

Usaha luar biasa Fitzpatrick itu memang tidak mengganjarnya dengan gelar juara. Tapi skor 64 yang ia torehkan pada putaran final berhasil menempatkannya di posisi runner-up sendirian. Skor total 16-under 264 miliknya membuatnya lima stroke lebih baik daripada Victor Perez dan Jason Scrivener.

“Tentu saja menyenangkan bisa memperbesar keunggulan saya untuk Habitat for Humanity Standings, tapi sekali lagi, seperti yang pernah saya bilang, segalanya belum selesai sampai benar-benar tuntas.” – Shubhankar Sharma

Seperti yang kami sampaikan sebelumnya, ajang HONMA Hong Kong Open presented by Amundi ini tak hanya soal siapa yang meraih kemenangan. Perlombaan menjadi No.1 di lingkup Asian Tour juga menjadi topik yang penting pada turnamen pekan ini.

Ketika pekan ini dimulai, persaingan Shubhankar Sharma dan Park Sanghyun jelas menjadi subtema lain. Tapi ketika Park tersingkir dari arena, beban Sharma jelas lebih ringan lagi.

Pada akhir putaran ketiga kemarin, Sharma menyebut bahwa finis di sepuluh besar merupakan sebuah prestasi yang menyenangkan. Dan persis itulah yang ia peroleh pada akhir hari keempat ini. Ia kembali membukukan skor 67 setelah mendapat empat birdie dan sebuah bogey. Skor total yang ia peroleh, 9-under 271 membawanya finis di peringkat 6 bersama duo Spanyol Rafa Cabrera Bello dan Sergio Garcia.

“Saya jelas sangat senang bisa finis di sepuluh besar. Hujan membuat permainan menjadi sangat berat dan pada akhirnya saya sangat puas bisa finis dengan baik. Saya berusaha sebaik mungkin untuk tetap tenang dan sangat senang dengan permainan saya,” ujar Sharma.

Peringkat keenam bersama dua pemain lain berarti Sharma berhasil menambah pundi-pundinya menjadi US$60.000 lagi. Kini Sharma mengumpulkan US$755.994, sementara Park telah mengoleksi hadiah senilai US$561.898.

“Tentu saja menyenangkan bisa memperbesar keunggulan saya untuk Habitat for Humanity Standings, tapi sekali lagi, seperti yang pernah saya bilang, segalanya belum selesai sampai benar-benar tuntas. Jadi, kita masih harus menunggu sampai akhir (musim),” imbuh Sharma yang berniat rehat dan absen dari Mauritius dan melewatkan kesempatan mempertahankan gelarnya di Afrika Selatan agar bisa meraih hasil maksimal ketika berlaga pada Bank BNI Indonesian Masters presented by Bank BTN, Lautan Luas, dan Bank Mandiri.

Leave a comment