Semua official dan para pemain lain melayangkan pujian atas prestasi Matsuyama menjuarai Masters Tournament, dan memprediksikan percepatan pertumbuhan golf di Asia.

Prestasi Hideki Matsuyama memenangkan Masters Tournament menuai beragam pujian dari official dan sesama pegolf profesional. Kemenangannya pada hari Minggu (11/4) kemarin pun diyakini bakal menciptakan gelombang baru para pemain berbakat dari Jepang dan Asia selama beberapa dekade ke depan.

Pegolf berusia 29 tahun ini sukses menjadi pegolf pria Asia pertama yang meraih kemenangan di Augusta National, merengkuh gelar Major pertama sekaligus gelar PGA TOUR keenam dalam kariernya. Pencapaian ini bahkan diraih persis ketika Tokyo segera menjadi tuan rumah Olimpiade pada bulan Juli 2020 mendatang.

Komisioner PGA TOUR Jay Monahan menyampaikan, ”Mewakili PGA TOUR, kami menyampaikan selamat kepada Hideki Matsuyama yang menjadi pegolf kelahiran Jepang pertama yang memenangkan kejuaraan Major lewat kemenangan Masters Tournament. Hideki, yang sudah menjadi pegolf Jepang dengan gelar PGA TOUR terbanyak, telah melanjutkan warisan kaya yang dipelopori oleh Isao Aoki, Jumbo Ozaki, Shigeki Maruyama, dan lainnya. Kemenangan berseharahnya ini akan menginspirasi begitu banyak pegolf di negaranya dan di seluruh dunia dan terpenuhi persis menjelang Olimpiade musim panas di Tokyo, di mana dia pasti menjadi pusat perhatian.”

Sebagian pihak bahkan telah mengusulkan agar megabintang Jepang ini mendapat kehormatan untuk menyalakan api obor Olimpiade pada upacara pembukaan nanti, meskipun Matsuyama memberi respons yang diplomatis, ”Jelas akan menjadi kehormatan buat saya. Namun, saya tidak yakin akan jadwal saya. Kalau jadwalnya cocok dan saya di Jepang ketika hal itu terjadi dan mereka meminta saya, kehormatan itu akan saya terima.”

Sebagai pegolf Asia kedua yang memenangkan Major, menyusul prestasi Y.E. Yang menjuarai PGA Championship 2009, bersama dengan delapan gelar PGA TOUR milik K.J. Choi yang mendorong pertumbuhan jumlah para pegolf Korea yang bersaing pada PGA TOUR, banyak yang berharap kemenangan impian Matsuyama akan memberi efek serupa bagi golf di Jepang dan Asia. Pencapaian ini seakan menambah momentum di mana golf tengah mendapatkan lonjakan pertumbuhan jumlah partisipasi secara global.

 

Komisioner PGA TOUR Jay Monahan (kanan) menyerahkan trofi WGC-FedEx St. Jude Invitational 2017 (sebelumnya bernama WGC-Bridgestone Invitational). Inilah gelar PGA TOUR terakhir Matsuyama sebelum menjuarai Masters Tournament 2021. Foto: Getty Images.

 

Tiger Woods, yang masih dalam proses pemulihan menyusul kecelakaan mobil bulan Februari lalu mengungkankan, ”Hideki membuat Jepang bangga. Selamat atas pencapaian besar bagimu dan negaramu. Kemenangan @TheMasters yang bersejarah ini akan memberi dampak bagi golf di seluruh dunia,” melalui akun Twitternya.

Legenda golf pemegang 18 gelar Major Jack Nicklaus, yang telah mengikuti perkembangan karier Matsuyama menyusul kemenangannya pada Memorial Tournament presented by Nationwide 2014 lalu, juga melayangkan pujian.

”Saya bersyukur bisa meluangkan banyak waktu di jepang dan mengetahui betapa mereka mencintai olahraga golf di sana. Mereka juga merupakan masyarakat yang memiliki kebangaan dan bahkan kini lebih lagi! Saya bersaing menghadapi pemain besar, seperti Isao Aoki, dan tahu betapa ia dihormati. Hideki juga akan selamanya menjadi pahlawan bagi negara ini. Saya telah menyaksikan tiap pukulan dan Hideki bermain luar biasa indah. Dia tetap tenang dan santai … hari ini dan momen ini menjadi milik Hideki Matsuyama! Ini hari besar baginya, bagi Jepang, dan bagi permainan golf secara global!”

Mantan Juara Masters Adam Scott juga telah mengenal Matsuyama sejak ikut mendorongnya ketika ia tampil pada Presidents Cup pertamanya tahun 2013. Scott jelas tak heran melihat pencapaian Matsuyama di Augusta National itu.

”Saya pikir ia menjalani prosesnya dengan sangat baik dan sepertinya ia memiliki pemikiran yang tenang.” — Juara Masters 2012 Adam Scott.

”Dia mirip Tiger Woods bagi seluruh dunia, hanya saja Hideki di Jepang, tutur Scott. ”Jelas dia telah banyak berkembang. Dia terus menang, dan ia memenangkan setidaknya satu ajang World Golf Championships, kalau tidak salah, kalau bukan dua. Saya pikir ia menjalani prosesnya dengan sangat baik dan sepertinya ia memiliki pemikiran yang tenang. Ia memiliki karakter yang intens, sebenarnya, meskipun kita tidak selalu menyaksikannya, dan juga terobsesi pada golf. Para penggemar di Jepang juga sangat fanatik, saya pikir itulah deskripsi terbaik saya bagi mereka. Saya ingat membawa Jaket Hijau ke sana tahun 2013, dan respons yang saya dapatkan sungguh luar biasa, jadi saya hanya bisa membayangkan apa yang bakal dialami Hideki.”

Pemegang 72 gelar LPGA yang kini menjabat sebagai Presiden International Golf Federation Annika Sorenstam juga meyakini, anak-anak masa kini akan mulai meniru langkah Matsuyama di Jepang, sembari memberi selamat kepada Matsuyama lewat akun Twitternya. ”Selamat kepada #HidekiMatsuyama, pemain kelahiran Asia pertama yang menjuarai @TheMasters. Dengan @NBCOlympics yang menuju Jepang pada tahun ini, kemenangan rekan senegara mereka akan menginspirasi para pegolf muda di seluruh Asia.”

Ketika masih kecil, Matsuyama mengidoakan Woods dan menyaksikan legenda Amerika ini menjuarai Masters 1997 melalui TV. Ia kemudian bermimpi untuk bisa bersaing di Augusta National. Impiannya ini terwujud setelah menjuarai Asia-Pacific Amateur Championship 2010. Dalam sembilan penampilan sebelumnya, Matsuyama telah dua kali masuk sepuluh besar dan pada tiga kesempatan lainnya bisa finis di 20 besar, dengan hanya sekali gagal lolos cut.

”Semoga saya bisa menjadi pelopor dalam hal ini dan banyak pegolf Jepang lain bisa mengikuti jejak saya. Saya senang bisa membuka pintu itu, dan semoga ada lebih banyak lagi yang bisa mengikuti prestasi ini,” tandas Matsuyama.

Bagaimana Reaksi Mereka?

 

 

Jordan Spieth
Saya pikir pencapaian ini sangat baik bagi olahraga golf secara global. Dia pemain muda yang luar biasa, yang sudah pasti akan memenangkan kejuaraan Major. Saya tahu ini kemenangan pertamanya setelah sekian lama, jadi saya memahami perasaannya. Saya hanya bisa membayangkan, jika ia berhasil mewujudkannya, seperti apa rasanya.

Xander Schauffele
Tak ada yang ingin membahas betapa besar tekanan pada dirinya. Anda melihat bagaimana media mengikuti dia. Lihat juga apa yang telah ia lakukan dalam kariernya. Ia pemain top dengan begitu banyak beban di pundaknya, dan bermain dengan beban seperti itu adalah yang tersulit. Toh ia sanggup melakukannya, dan ia menjadi pegolf Jepang pertama yang menjuarai turnamen ini, sebuah kejuaraan Major. Semua orang berharap dan berpikir ia bakal meraih satu kemenangan (Major) sejak lama, dan performanya sedikit sirna. Saya mengenal timnya dengan cukup baik, dan ia terus berlatih keras menjalani semua itu. Jadi, selamat untuk dia dan timnya. Saya yakin banyak orang yang menikmati bir di Jepang.

 

 

 

 

Louis Oosthuizen
Hideki jelas pendiam. Ia melakukan segalanya sendiri, tapi ia kembali fokus ketika berada di lapangan golf. Dia pria yang menyenangkan. Dia pemain hebat, dan ketika segalanya selaras, seperti yang ia lakukan di sembilan hole terakhir kemarin, ia menopang dirinya sendiri dengan baik, dan ia melakukan pukulan yang harus dilakukan. Saya pikir sudah saatnya seseorang dari Benua Asia memenangkan Major, dan prestasi ini sangat luar biasa bagi Hideki dan negaranya. Masyarakat Jepang adalah orang-orang yang luar biasa, dan mereka mencintai golf mereka. Saya pikir prestasi ini merupakan hal yang besar bagi negaranya.

Charl Schwartzel
Agak ironis juga karena sepuluh tahun lalu, ketika saya memenangkan Jaket Hijau, ia pemain amatir terbaik. Jadi, dia duduk di sebelah saya pada presentasi juara. Dia pemain hebat. Saya yakin ia menunjukkannya dalam sepuluh tahun terakhir bahwa ia telah bermain, ketika semuanya berjalan dengan baik, ia menjadi seseorang yang memiliki rasa percaya diri. Ia mematok ekspektasi yang tinggi. Ketika ia memiliki percaya diri itu, ia akan menyerang langsung ke tiap pin, dan sepertinya ia sering melakukannya. Pencapaian ini akan sangat besar artinya bagi Asia.

 

 

Abraham Ancer
Dia sebenarnya sangat lucu (pada Presidents Cup 2019). Maksud saya, dia tak banyak bicara dalam bahasa Inggris, tapi kami menikmati waktu yang menyenangkan. Dia pemain tim yang luar biasa, jelas pemain hebat, dan saya pikir dia memiliki permainan yang ia butuhkan untuk meraih kemenangan. Dia bisa menang tiap pekan. Dia salah satu pemain yang saya rasa selayaknya bisa memenangkan lebih banyak lagi mengingat kemampuannya. Dia sudah berkompetisi untuk beberapa waktu dan dia masih sangat muda, tapi dia orang yang keren. Dia punya banyak bakat, dan memiliki semua yang dibutuhkan untuk menang di sini dan di mana saja. Ketika bermain pada ZOZO CHAMPIONSHIP (2019), orang-orang menyaksikan dia dan Tiger (Woods), pemandangan itu persis seperti sebuah ajang Major! Jadi, jika akhirnya ia bisa menang, artinya tentu besar bagi Jepang. Saya tidak tahu pasti sebesar apa penggemar golf di sana, yang jelas pasti luar biasa. Pastilah artinya luar biasa bagi seluruh masyarakat Jepang dengan kemenangannya ini.

Kevin Na
Hideki adalah pemain yang luar biasa. Saya ingat kalah pada babak play-off darinya di Memorial. Ketika bermain dengannya pada awal kariernya, saya memberi tahu dia, Anda mesti menjadi juara Major suatu hari kelak, kemampuanmu sangat bagus. Saya bahkan sempat bermain pro-am denganya pada Sony Open ketika dia masih amatir dan saya pemain pro di grup itu, dan sangat menyenangkan menyaksikannya. Sungguh besar artinya. Saya tahu Y.E. Yang menjuarai PGA Championship, pegolf kelahiran Asia pertama yang menjuarai Major, dan kemudian pegolf kelahiran Asia pertama menjuarai Masters, ini prestasi besar. Artinya akan sangat besar bagi Asia!