Publik golf dunia mungkin belum mengenal Poom Saksansin, seperti halnya mereka mengenal Choi Hosung. Tapi publik golf di Indonesia sudah sangat akrab dengan pegolf bertampang bayi ini. Ia menjadi pegolf kedua setelah Lee Westwood yang berhasil menjuarai Indonesian Masters lebih dari sekali.

Ketangguhannya bahkan mendapat pengakuan dari dua pegolf kaliber dunia, Paul Casey dan Juara Major asal Swedia Henrik Stenson. Kedua bintang top ini tak segan-segan memuji ketangguhan pegolf berusia 26 tahun ini.

Pada ajang EurAsia Cup tahun lalu, Poom menjadi salah satu andalan ketika berpasangan dengan Kang Sung dari Korea. Mereka berhasil mengalahkan Stenson yang berduet dengan Alexander Levy dari Perancis dalam format Fourball. Kemenangan ini jelas sangat manis bagi Poom, mengingat ia sendiri mengidolakan Stenson.

“Kita mesti menamai dia “sang pembunuh”, bukan Saksansin,” gurau Stenson, yang telah mengoleksi enam gelar PGA TOUR, termasuk WGC-Dell Technologies Match Play 2007.

Tak sampai di situ, Poom kemudian mengalahkan Casey 1-up pada partai tunggal. Casey yang telah menjuarai tiga gelar PGA TOUR, mengingat dengan jelas bagaimana Poom berhasil memecundangi dirinya.

“Dia benar-benar mengalahkan saya … putting-nya luar biasa dan berhasil menaklukkan saya di hole terakhir. Pekan itu saya sudah bermain dengan sangat baik. Saya bahkan berusaha untuk melakukan sapu bersih poin. Tapi kemenangannya itu menunjukkan betapa hebatnya dia, padahal saya sendiri pemain yang tangguh untuk format match play!” kenang Casey.

Pada Indonesian Masters 2018 lalu, Henrik Stenson harus kembali mengakui ketangguhan Poom Saksansin, yang menjadi pegolf tersukses kedua, setelah Lee Westwood, pada ajang Indonesan Masters. Foto: Golfin’STYLE.

Kali ini Poom bakal berusaha memberi kejutan agar publik dunia bisa melihat kemampuan yang diakui Stenson dan Casey. Kamis (25/7) ini, ia akan tampil pada ajang World Golf Championships-FedEx St Jude Invitational, yang memperebutkan total hadiah senilai US$10,25 juta.

Ia mendapat hak tampil pada ajang besar ini setelah menjuarai Indonesian Masters untuk kedua kalinya pada tahun lalu, sekaligus memberinya gelar ketiga Asian Tour. Performanya tahun ini memang agak menurun, namun pegolf yang kerap bersikap ramah ini berniat untuk tampil maksimal pada kesempatan ini.

“Bermain pada ajang besar seperti ini adalah peluang yang sangat bagus buat saya, terutama dengan hadiah uang yang sangat besar dan pesertanya juga sangat kuat,” tutur Poom, yang masih didampingi dengan penerjemah.

Sejauh ini, Poom sempat mencatatkan hasil terbaiknya, finis T24, ketika bermain pada ajang WGC-HSBC Champions 2017 di China. Namun, agar bisa menyamai catatan tersebut, atau bahkan tampil lebih baik lagi, ia harus menemukan kembali performa puncaknya.

“Permainan saya masih ada pada jalur yang tepat saat ini, tapi saya akan melakukan segalanya untuk meningkatkan permainan saya. Saya harus membuat driver saya berfungsi kembali,” ujar Poom, yang mencapai persentase 54% untuk fairway hit pada Japan Golf Tour dan 65% pada Asian Tour tahun ini.

“Buat saya, WGC adalah ajang besar. Karena tidak ada cut off, tekanannya sedikit berkurang, jadi ini saat yang tepat untuk bisa main bagus lagi. Saya harap saya bisa menikmati keberadaan saya di Memphis,” ujar pegolf yang kini berperingkat 249 dunia ini.

Saat ini nama Kiradech Aphibarnrat dan Jazz Janewattananond memang lebih menonjol ketimbang namanya sendiri. Namun, kesuksesan dua rekan senegaranya itu justru mendorong Poom untuk bisa tampil lebih baik dan lebih sering pada turnamen-turnamen berskala besar.

“Bisa disaksikan oleh begitu banyak penonton adalah sesuatu yang sangat mengasyikkan. Saya ingin selalu bermain di hadapan banyak penonton.” – Poom Saksansin

“Kiradech menunjukkan bahwa pegolf Thailand bisa menembus PGA TOUR dan ia telah menginspirasi anak-anak,” ujar Poom yang kali ini bakal menjadi satu-satunya wakil Thailand.

Poom mulai mengenal golf ketika berusia 10 tahun dan mulai mengalahkan ayahnya sendiri ketika berusia 12 tahun. Ia kemudian mewakili Thailand dan membantu timnya meraih medali emas pada ajang SEA Games 2011 dan 2013, sebelum kemudian memutuskan beralih profesional.

Kalau tak karena gagal menembus TOEFL, Poom bakal menjadi lulusan Amerika.

“Saya kerap mendapat A di mayoritas bidang studi yang saya ikuti, kecuali bahasa Inggris. Saya malah bisa tertidur di kelas bahasa Inggris,” kenang Poom sambil tertawa.

Yang jelas, ia bakal segera menikmati atmosfer golf yang luar biasa ketika mulai bertanding di Memphis hari Kamis (25/7) ini.

“Waktu menonton golf di TV, saya langsung menyukai para penggemar golf (di Memphis). Bagi pegolf, bisa disaksikan oleh begitu banyak penonton adalah sesuatu yang sangat mengasyikkan. Saya ingin selalu bermain di hadapan banyak penonton,” tandasnya.

Leave a comment