Permainan fenomenal, kombinasi kerja keras dan keberuntungan, dan Poom Saksansin menjuarai Bank BNI Indonesian Masters presented by Bank BTN PT Lautan Luas Tbk, and Bank Mandiri kemarin (16/12). Sebuah prestasi yang istimewa, mengingat ia tak hanya mengalahkan pegolf No.2 dunia, yang juga merupakan juara bertahan, Justin Rose, bintang asal Swedia yang juga idolanya, Henrik Stenson, dan juga para juara Asian Tour lainnya, tapi ia juga menjadi pegolf tersukses kedua sepanjang 8 tahun penyelenggaraan Indonesian Masters.

Sepanjang penyelenggaraan turnamen yang juga menjadi ajang terakhir Asian Tour musim ini, Poom menunjukkan kualitas permainan yang membuatnya layak berada di antara pemain kelas dunia. Ia membukukan 23 birdie dengan hanya 3 bogey. Dan sejak putaran kedua, ia tak pernah tergeser dari posisi teratas. Pun ia masih menggarisbawahi bahwa keberuntungan tidak pernah lepas dari permainannya pekan kemarin.

“Saya sebenarnya berlatih dengan sangat keras. Tapi sekeras apa pun Anda berlatih, Anda tidak bisa berharap kalau Anda bakal bermain dengan baik setiap hari. Jadi, kadang saya harus mengandalkan keberuntungan pada tiap pukulan. Dan saya pikir seperti itulah yang saya pelajari,” ujar Poom yang kembali memenangkan turnamen ini dengan ditemani sang paman, Pratya Ployprapai, sebagai kedinya.

Keberuntungan itu pulalah yang membantunya mencatatkan skor terbaiknya selama enam keikutsertaannya pada ajang ini. Dalam kondisi lapangan dengan embusan angin kencang pada putaran kedua, ia mencatatkan skor 9-under 63. Skor ini sekaligus menjadi skor terendah yang dibukukan sepanjang pekan tersebut.

 

Poom Saksansin menegaskan bahwa keberhasilannya tidak luput dari keberuntungan. Skor 9-under 63 yang ia bukukan pada hari kedua merupakan salah satunya. Foto: Golfin’STYLE.

 

Pada putaran ketiga, Poom memang hanya bermain 2-under 70 berkat tiga birdie dan satu bogey. Bukan skor yang jelek, mengingat putaran ketiga dimainkan sebagai putaran terberat sepanjang turnamen itu. Ia menjadi satu dari hanya enam pemain yang berhasil mencatatkan skor under. Pada hari ketiga itu, Henrik Stenson mencatatkan skor terendah, 4-under 68 yang membawanya kembali berhadapan dengan Poom pada hari terakhir dengan selisih dua stroke.

Ini merupakan pertemuan kedua antara Poom dan Stenson. Stenson tentu masih mengingat dengan jelas kualitas permainan Poom. Pada awal tahun 2018, keduanya sempat berhadapan dalam ajang EurAsia Cup. Poom yang kala itu berpasangan dengan Kang Sunghoon sukses menggulung Stenson yang bermain dengan Alexander Levy. Meski Tim Eropa kembali mengalahkan Tim Asia, kekalahan 5&6 itu jelas menyakitkan.

“Saya tidak bermain dengan baik hari ini (kemarin). Rasanya saya harus sedikit lebih berjuang dalam aspek long game saya. Dan hasilnya jelas tidak bagus. Ada sedikit rasa frustrasi dalam diri saya lantaran pukulan saya banyak yang meleset dari fairway dan green,” tutur Steson.

Namun, alih-alih membalas kekalahan tersebut, Stenson sendiri harus berjuang keras untuk menambah koleksi birdie-nya. Ia malah harus tertinggal lantaran Poom menorehkan tiga birdie di sembilan hole pertamanya. Perjuangan Stenson untuk menutup tahun 2018 dengan kemenangan akhirnya pupus ketika di sembilan hole terakhirnya, ia baru bisa mendapatkan birdie justru di hole 18.

 

 

Permainan Poom pada putaran final itu juga terbilang sangat positif. Berkali-kali ia menunjukkan permainan iron yang tajam, yang memberinya banyak peluang birdie. Sayangnya, permainan putter pada putaran final itu tidak sebagus pada putaran kedua. Kemarin ia hanya membukukan lima birdie dengan sebuah bogey di hole 15. Itulah bogey ketiga yang ia peroleh sepanjang turnamen ini. Dan meskipun jauh dari rekor fenomenal Rose tahun 2017, 20-under 268 yang ia mainkan adalah pencapaian yang sudah lebih dari cukup untuk kembali menjuarai ajang bergengsi ini.

“Saya tak berharap apa-apa kecuali bermain dengan baik, tapi sejak putaran kedua saya mulai bermain dengan sangat baik, tapi hari terakhir ini sebenarnya putting saya tidak sebagus putaran kedua, jadi semua tergantung putaran yang dimainkan. Saya hanya berusaha untuk melakukan pukulan sebaik mungkin. Tidak soal saya menang atau kalah, saya hanya ingin meningkatkan kemampuan saya sendiri,” tutur Poom seusai seremoni.

Dua kemenangan pada turnamen yang sama, tapi Poom menggambarkan kedua kemenangannya di Jakarta ini sebagai dua hal yang berbeda. Tak banyak yang mungkin tahu bahwa sebelum meraih gelar pada edisi 2016, pegolf berusia 25 tahun ini harus berjuang menghadapi percaya dirinya yang rendah.

“Sebelum menjuarai turnamen ini dua tahun lalu, saya memang banyak bermain pada Asian Development Tour. Sebenarnya, waktu itu saya sama sekali tidak yakin pada permainan saya sendiri. Tapi saya bisa finis di sepuluh besar pada salah satu turnamen Asian Development Tour sebelum menuju Jakarta. Dan setelah menang Asian Tour, saya berlatih lebih keras lagi dan menjadi lebih percaya diri lagi,” sambungnya.

 

Dua pertemuan, dua kali kalah, dan Henrik Stenson mengakui keunggulan Poom Saksansin. Stenson menutup turnamen pekan lalu dengan skor total 14-under 274 dan finis di tempat keempat. Foto: Golfin’STYLE.

 

Mendapatkan kepercayaan diri yang lebih baik, Poom kemudian mulai menciptakan tren kemenangan. Usai gelar di Jakarta, ia pun meraih gelar keduanya di India. Tahun ini menjadi tahun yang istimewa juga baginya, mengingat ia masih melanjutkan tren meraih minimal satu gelar per tahun.

Kini ia menjadi pegolf tersuskes kedua setelah Lee Westwood. Bersama pegolf asal Inggris tersebut, Poom menjadi pegolf yang telah mencatatkan lebih dari satu kemenangan di Royale Jakarta Golf Club.

Pada putaran final itu, dua rekan senegara Poom malah tampil ke jajaran atas. Jazz Janewattananond berusaha memperpendek selisih skornya dengan Poom ketika berhasil bermain dengan enam birdie dan sebuah bogey di sembilan hole pertamanya. Selisih skornya sempat menjadi hanya tiga stroke usai mencatatkan birdie di hole 10 dan eagle di hole 12. Sayangnya, ia justru menorehkan bogey di hole 15 dan 17. Dan meskipun menorehkan eagle di hole terakhir, 17-under yang ia torehkan tidak cukup untuk mengalahkan Poom. Namun, bermain 17-under 271 membuatnya berada sendirian di peringkat kedua.

“Setelah eagle di hole 12, saya pikir jika bisa mendapatkan birdie lagi, saya punya peluang untuk mengejar Poom. Tapi saya malah mendapat bogey lagi sehingga saya tak lagi memikirkan peluang itu,” tutur Jazz. “Poom bermain dengan sangat baik pekan ini. Sungguh sulit mengalahkan dia di Indonesia!”

 

Tempat kedua menjadi peringkat terbaik bagi Jazz Janewattananond setelah dua bogey pada putaran final memupus upayanya mengejar Poom Saksansin. Foto: Golfin’STYLE.

 

Sementara itu, juara Indonesia Open 2017 Panuphol Pittayarat juga menampilkan salah satu permainan terbaiknya, menyudahi putaran final dengan skor 6-under 66. Bermain bersama Justin Rose, pegolf berjulukan Coconut ini berhasil main lebih baik ketimbang pegolf No.2 dunia tersebut.

Seolah tidak lagi terpengaruh oleh cedera engkel yang ia peroleh pada putaran ketiga, Coconut berhasil finis sendirian di tempat ketiga setelah mengumpulkan skor total 15-under 273.

Justin Rose sendiri harus memupus peluangnya untuk menggeser Brooks Koepka dari puncak ranking dunia berdasarkan Official World Golf Ranking. Ia membutuhkan finis, setidaknya, di posisi 12 besar. Tapi ia justru menorehkan skor terburuk sepanjang bermain pada turnamen ini. Rose mencattakan 5 birdie, 3 bogey, dan 2 double bogey dan harus finis di peringkat T17 dengan skor total 7-under 281.

Sementara, satu-satunya pegolf Indonesia yang bertahan hingga putaran akhir, Danny Masrin, harus menutup turnamen ini dengan skor total 10-over 298. Ia finis empat stroke lebih baik daripada juara Asian Development Tour asal Jepang, Shinichi Mizuno.

Leave a comment