Pada penghujung musim 2019 lalu, nama Poom Saksansin kembali mencuri perhatian. Berhadapan dengan dua bintang Ryder Cup Eropa, Justin Rose yang kala itu merupakan pegolf No.2 dunia, dan juara The Open Championship 2017 asal Swedia Henrik Stenson, nama Poom kembali bersinar dengan keberhasilannya menjuarai Indonesian Masters.

Kala itu, pegolf berusia 25 tahun ini mengaku beruntung bisa menjadi juara. Baginya, keberuntungan ini didasarkan pada fakta bahwa “sekeras apa pun Anda berlatih, Anda tidak bisa berharap kalau Anda bakal bermain dengan baik setiap hari.” Memang pernyataannya tersebut tidaklah salah. Tapi kurang tepat juga jika kita tidak mengakui kemampuannya sebagai pemain.

Awal 2018 lalu, Poom membuat pemain sekelas Stenson harus takluk dua kali ketika mereka bertemu pada ajang EurAsia Cup. Lalu hal itu terulang kembali ketika keduanya bertemu dan bersaing pada putaran final di Jakarta bulan Desember 2018 lalu.

Kini ia kembali menjadi sorotan ketika berhasil menjadi salah satu pimpinan klasemen sementara pada SMBC Singapore Open. Uniknya lagi, ia berada di puncak klasemen bersama dengan pegolf Inggris Paul Casey. Dan kami mesti mengingatkan Anda lagi bahwa Casey pun menjadi korban dari ketangguhan Poom pada EurAsia Cup tahun lalu, ketika pegolf berperingkat 24 dunia ini takluk pada partai tunggal.

Poom berhasil menempatkan dirinya di posisi yang ideal itu usai bermain 1-under 70 dan bermain dengan skor total 135. Ia menjadi satu dari 78 peserta yang harus menuntaskan putaran pertamanya pada hari kedua. Mesti memainkan tujuh hole tersisa, Poom membukukan empat birdie di lima hole terakhir dan menorehkan skor 6-under 65. Usia istirahat 45 menit, Poom kembali bermain dan mnorehkan dua birdie dan sebuah bogey untuk skor 70.

Paul Casey menyebut Poom Saksansin sebagai musuh bebuyutannya lantaran ia selalu berhasil dikalahkan pegolf Thailand ini. Foto: Golfin’STYLE

“Ini (kemarin) hari yang panjang, tapi saya sangat gembira. Meskipun hanya bermain 1-under 70 pada putaran kedua, saya pikir putaran itu merupakan putaran yang bagus. Angin mulai berembus dan permainan iron saya tidak begitu bagus. Jadi, bisa kembali bermain dengan mendapat skor under membuat saya sangat gembira,” tuturnya.

Meski permainan iron-nya kurang memuaskan pada hari kedua itu, Poom menilai ia hanya perlu melakukan perbaikan minor untuk menjamin permainan yang jauh lebih baik lagi pada putaran ketiga.

“Saya terus melakukan pukulan hook. Semoga saya bias memperbaikinya agar besok menjadi lebih mudah. Saya akan berusaha memainkan iron saya dengan lebih baik besok.”

Casey sendiri berhasil menempel Poom setelah bermain 4-under 67, setelah sebelumnya menuntaskan putaran pertamanya dengan skor 68. Seperti halnya Poom, ia juga harus bermain sebanyak 25 hole pada hari kedua.

“Saya senang bisa menyelesaikan putaran pertama!” ujar Casey. “Papan klasemen terlihat sungguh luar biasa, dengan beberapa nama favorit di atas sana. Poom, musuh bebuytan saya, saya kalah darinya pada EurAsia Cup dan ia kembali memainkan putaran yang mengagumkan. Sepertinya saya tak bisa mengalahkan dia, tapi semangat saya sedang bagus.”

“… ini pertama kalinya saya bermain di lapangan ini, saya main under dan tidak terlalu jauh dari pimpinan klasemen, jadi saya cukup senang.” – Davis Love III

Jika Poom dan Casey saling tempel menjelang putaran akhir pekan, ada satu nama lain yang juga layak menerima sorotan. Sosok legendaris asal Amerika, Davis Love III, yang telah berusia 54 tahun menunjukkan bahwa ia masih sanggup bersaing menghadapi para pemain yang lebih muda. Ia menunjukkan kebugarannya untuk bermain 25 hole dalam sehari dan berada dua stroke di belakang Poom dan Casey dengan skor total 137.

“Saya ternyata masih cukup bagus. Jelas saya tidak ingin bermain 36 hole, tapi harus bermain 25 hole dan itu sudah cukup (melelahkan). Sekarang saya bisa istirahat dan semoga besok bisa bermain 18 hole pada sore hari,” ujarnya. Ia juga mengaku kecewa lantaran membuang beberapa pukulan. “Tapi ini pertama kalinya saya bermain di lapangan ini, saya main under dan tidak terlalu jauh dari pimpinan klasemen, jadi saya cukup senang.”

Davis Love III untuk sementara berada di peringkat T5 bersama Shaun Norris (Afrika Selatan), Sihwan Kim (AS), Chang Yikeun (Korea), Chikkarangappa S. (India), Chapchai Nirat (Thailand), dan Jang Dongkyu (Korea). Adapun di tempat T3 ada dua pegolf Jepang, Taihei Sato dan Shotaro Wada.

Seperti hari pertama, hari kedua kemarin (18/1) juga harus terpaksa dihentikan selama hampir dua jam pada pagi hari lantaran gangguan cuaca. Turnamen ini akhirnya dihentikan pada pukul 19:05 waktu Singapura lantaran sudah gelap, dan putaran kedua telah dimulai pagi ini dengan 76 pemain harus menuntaskan putaran keduanya. Adapun putaran ketiga dijadwalkan untuk dimainkan sebelum pukul 12:00.

Sementara itu, satu-satunya wakil Indonesia, Danny Masrin belum menuntaskan turnamen lantaran menjadi salah satu dari 76 peserta yang harus kembali melanjutkan putaran keduanya hari ini. Dengan batas cut off pada 1-under, Danny harus berjuang habis-habisan agar bisa menembus putaran akhir pekan.

Leave a comment