Duka Belgia ketika gagal menembus partai Final Piala Dunia pada cabang olahraga jelas menyakitkan. Terutama ketika mereka diwakili oleh para atlet terbaik yang pernah ada. Duka kegagalan itu kini berhasil ditebus oleh dua wakil terbaik mereka, meskipun penebusan tersebut dilakukan oleh cabang olahraga yang berbeda: golf.

Thomas Pieters dan Thomas Detry sukses membawa pulang trofi ISPS Handa Melbourne World Cup of Golf setelah pada putaran final (25/11) mereka membukukan skor 4-under 68, skor yang sudah lebih dari cukup untuk mencatatkan sejarah baru pada penyelenggaraan ajang bergengsi tersebut. Skor total yang mereka bukukan, 23-under 265 menempatkan mereka tiga stroke lebih baik daripada Tim Australia dan Tim Meksiko.

Memainkan putaran final dalam format foursome, untuk pertama kalinya duo Thomas ini memiliki kartu skor yang lebih berwarna ketimbang tiga putaran sebelumnya. Mereka menorehkan enam birdie, sebuah eagle, dan empat bogey untuk mencatatkan sejarah menjuarai turnamen ini untuk pertama kalinya bagi Belgia.

Perjuangan mereka memang tidak semudah yang terlihat. Meskipun memiliki keunggulan lima stroke ketika memainkan putaran final, Pieters-Detry mendapat tekanan dari tim tuan rumah yang diwakili oleh Marc Leishman dan Cameron Smith. Leishman-Smith mencatatkan skor 65 untuk kedua kalinya secara berturut-turut, di antaranya dengan menorehkan empat birdie di sembilan hole pertama mereka.

Meskipun kubu tuan rumah itu tidak melakukan kesalahan yang membuahkan bogey, toh mereka hanya sanggup menambah tiga birdie lagi di sembilan hole terakhirnya. Upaya yang sayangnya tidak cukup untuk memberi tekanan yang lebih berarti bagi duet Belgia.

Kepuasan untuk bisa mewujudkan impian menjuarai Piala Dunia, meskipun pada cabang olahraga golf diungkapkan oleh Detry.

“Kami tidak jauh (dari gelar juara) pada Piala Dunia sepakbola, jadi sangat bagus bisa membawa pulang trofi ini,” ujarnya.

Prestasi terbaik Belgia sebelumnya diraih oleh duet Arthur de Vulder dan Flory Van Donck ketika finis T4 saat mengikuti ajang ini pada 1955.

“Gelar ini sebenarnya bukan sesuatu yang mungkin Anda sertakan dalam daftar target Anda sebagai pegolf, tapi saya meraskannya pagi ini dan merasakannya saat sedang bermain, ada suatu semangat dan sedikit rasa gugup,” timpal Pieters.

Keduanya menyikapi putaran final tersebut dengan cukup unik. Meskipun memiliki keunggulan solid lima stroke, Pieters justru mengajak Detry untuk bermain seolah-olah mereka sedang tertinggal dua stroke.

“Saya berkata kepadanya (Detry), kautahu kalau kau akan membuat beberapa bogey, tapi kita juga akan mendapat banyak birdie karena cuacanya lebih bagus, green-nya juga sedikit lebih lembut. Secara strategi kami tidak banyak mengubah apa-apa,” tutur Pieters.

Kunci kolaborasi ini bisa dilihat dari sejarah keduanya ketika masih junior dan menjadi pemain amatir. Detry menjelaskan, “Kami tumbuh bersama, memainkan turnamen regional bersama, berlatih bersama, dan kemudian masuk tim U-18 bersama, dan kemudian dia (Pieters) masuk kuliah, dia ke Amerika dan saya mengikuti dia. Kami saling mengenal dan kami tidak pernah merasa jenuh satu dengan yang lain.”

Kemenangan ini praktis memperbaiki catatan prestasi Tim Belgia pada ajang ini. Prestasi terbaik sebelumnya diraih oleh duet Arthur de Vulder dan Flory Van Donck ketika mengikuti ajang ini pada 1955. Kala itu mereka finis di posisi T4.

Seperti halnya Belgia, Tim Meksiko sendiri berupaya memenangkan ISPS Handa Melbourne World Cup of Golf untuk pertama kalinya. Tapi upaya Abraham Ancer dan Roberto Diaz pada akhirnya juga tidak cukup, bahkan untuk mendesak Tim Belgia melakukan play-off. Tujuh birdie dan sebuah bogey hanya cukup membawa mereka untuk menjadi salah satu runner-up bersama Tim Australia.

Meskipun gagal mencatat sejarah, dari segi prestasi Ancer dan Diaz telah menorehkan prestasi terbaik bagi negaranya. Sebelumnya, Tim Meksiko hanya meraih peringkat 7 sebagai prestasi terbaik, yaitu ketika Al Escalante dan Juan Neri melakukannya pada 1965. Skor total 20-under 268 yang mereka bukukan menempatkan mereka di posisi kedua bersama Australia.

“Kami main cukup bagus, bisa finis di sepuluh besar. Kami tak berhasil menciptakan banyak peluang hari ini, tapi secara keseluruhan ini pekan yang bagus.” – Kim Siwoo

“Saya pikir kami melakukan kombinasi yang cukup bagis sepanjang pekan ini,” ujar Diaz. “Kami bermain dengan baik. Saya memukul driver dengan baik, dia melakukan permainan iron yang luar biasa. Kami melakukan pukulan yang bagus pada momen-momen yang tepat juga,” tutur Diaz.

Prestasi finis terbaik bagi Asia dilakukan oleh Tim Korea. Duet An Byeonghun dan Kim Siwoo, yang merupakan duet termuda dari total 28 tim yang berpartisipasi, yaitu rata-rata 25 tahun, pada putaran final itu hanya sanggup bermain 2-under 70 sehingga posisi mereka pun turun ke peringkat T6, berbagi tempat bersama Tim Italia yang diawaki oleh Andrea Pavan dan Renato Paratore.

An menyebut, preferensi bola yang berbeda yang ia mainkan dan yang Kim mainkan menjadi salah satu penyebab keduanya kesulitan memainkan permainan terbaiknya.

“Itu alasan saya kesulitan melakukan permainan short game pada pekan ini. Itu kelemahan, tapi kami bermain cukup baik, mengingat fakta tersebut,” ujar An.

“Kami main cukup bagus, bisa finis di sepuluh besar. Kami tak berhasil menciptakan banyak peluang hari ini, tapi secara keseluruhan ini pekan yang bagus,” Kim berusaha melihat hal positif dari turnamen yang menjadi turnamen terakhir baginya tahun ini.

Tim India yang diwakili oleh Anirban Lahiri dan Gaganjeet Bhullar akhirnya finis di peringkat T10, bersama Tim Perancis dan Tim Irlandia. Mereka menorehkan skor total 12-under 276.

Li Haotong dan Wu Ashun yang membela China berhasil memperbaiki peringkat mereka setelah pada hari terakhir bermain dengan skor 67. Skor total 11-under 277 menempatkan mereka di peringkat 13 sendrian.

Tim Thailand yang digawangi Kiradech Aphibarnrat dan Prom Meesawat berada satu stroke di belakang duo China tersebut. Adapun Gavin Green dan Ben Leong sukses membukukan 6-under 282 dan finis di peringkat 22. Posisi Tim Malaysia satu peringkat lebih baik daripada Tim Jepang, yang diwakili Satoshi Kodaira dan Hideto Tanihara, di mana mereka harus puas dengan peringkat 23.

Leave a comment