Ketangguhan Tyrrell Hatton dalam memukul bola dan kepribadiannya yang berapi-api akan kembali terlihat ketika ia berusaha mempertahankan gelarnya pada Arnold Palmer Invitational pekan ini.

Oleh Jim McCabe

Dari sejumlah daftar panjang keunikan yang menjadi pusat dari karier PGA TOUR-nya yang terkenal, ada satu hal yang menarik. Daripada kemenangan yang ia raih, ia memiliki lebih banyak nama.

Benar. Pria ini terlahir dengan nama Phil McGlenno, namun kemudian berganti nama menjadi Phillip McClelland O’Grady, lalu ia kemudian dikenal hanya dengan sebutan Mac O’Grady.

Jika menurut Anda O’Grady memiliki sisi yang eksentrik, nah Anda layak mendapat bintang. Yang benar saja: dia pernah berniat mengikuti kompetisi beregu, tapi sendirian. Dia bilang kalau dia akan bermain dengan tangan kanan dan tangan kiri.

Panitia turnamen jelas tidak terkesan dan menolak permintaan tersebut. O’Grady sendiri tidak merasa keberatan mendapat keputusan tersebut dan dengan gampangnya melupakan peristiwa tersebut, mengingat keunikannya sendiri.

Namun, ada satu penilaian yang O’Grady tawarkan, dan akan sangat diterima oleh siapa pun yang telah menghabiskan banyak waktu, entah bertanding pada PGA TOUR atau menyaksikannya: ”One minute you’re bleeding. The next minute you’re hemorrhaging. The next minute you’re painting the Mona Lisa. (Pada satu saat Anda akan berdarah. Saat berikutnya, Anda akan mengalami perdarahan. Dan saat berikutnya lagi, Anda melukis Mona Lisa.)”

”Kita semua tahu seperti apa suara ketel yang sudah mendidih.” — Paul Azinger.

Jika Anda mencari-cari pemain yang bisa menggambarkan maksud O’Grady itu, izinkan kami memperkenalkan Tyrrel Hatton. Pegolf Inggris berusia 29 tahun ini bisa menampilkan permainan yang ”berdarah-darah” untuk kemudian menampilkan sebuah mahakarya hanya dalam memainkan dua hole, dengan dialog luar biasa yang mewarnainya.

”Head Case Hatton,” ia mengakui demikianlah namanya kalau ia menjadi DJ.

Lucu juga, tapi faktanya, Hatton menjadi sebuah pertunjukan di lapangan golf—dan tak hanya karena ia habis-habisan untuk bisa berada di jajaran para juara. Sebenarnya, kemenangannya pada ajang European Tour di Abu Dhabi pada bulan Januari dan pada BMW PGA Championship bulan Oktober lalu mengukuhkan posisinya di kalangan pemain elite dunia (setidaknya hingga 14 Februari lalu ia berada di No.5 Dunia), tapi tak melakukan sesuatu untuk mencegah orang lain membahas keunikan dan perilakunya di lapangan.

Dan ia menciptakan heboh pada media sosial, tak lain tak bukan, pada ajang Arnold Palmer Invitational 2020, ketika meraih cek kemenangan pertamanya pada PGA TOUR. Kala itu ia mengungkapkan serangkaian sarkasme dan komentar yang mencela dirinya sendiri.

”Pernah melihat pukulan golf yang buruk?” Hatton terdengar bergumam kepada kedinya, Mike Donaghy, setelah pukulan approach-nya melebar ke kanan ke hole 9 pada ajang tersebut. Dan ketika Donaghy tetap diam, Hatton menekannya.

”Jawab pertanyaannya,” ujar Hatton.

 

Kemenangannya Tyrrell Hatton di Bay Hill tahun lalu memberinya gelar PGA TOUR pertama bagi pegolf Inggris ini. Foto: Getty Images.

 

”Tidak,” balas Donaghy.

Hatton mengiyakan jawaban itu dan berujar keras-keras, ”(pukulan) itu luar biasa buruk.”

Namun, ketika petaka itu berlanjut dua hole kemudian dan Hatton memukul bolanya ke air, semua orang di Bay Hill seakan-akan bersiap untuk kabur dari pegolf Inggris temperamen ini ketika bersiap melakukan putt berjarak 2 meter untuk double bogey.

”Kita semua tahu seperti apa suara ketel yang sudah mendidih,” ujar Paul Azinger dalam siaran langsung NBC.

Ya, kita sama-sama tahu seperti apa, hanya saja situasinya tidak pernah meledak. Para penggemar yang berada di dekat green hole 11 itu bisa bernapas lega. Hatton memasukkan putt double bogey itu dan, meskipun kondisi lapangan pada bulan Maret tahun lalu itu sangat sulit dan ia mencatatkan skor di atas par pada hari Sabtu dan Minggu, entah mengapa, ia bisa menang.

Mungkin karena sudah saatnya untuk menyingkirkan cacian emosional itu dan lebih berfokus pada kemampuan Hatton dalam melakukan pukulan. Pria ini, pada akhirnya, sudah meraih 10 kemenangan di seluruh dunia, termasuk 6 pada European Tour dan ia bahkan mengalahkan Rory McIlroy untuk meraih kemenangan di Abu Dhabi.

”Anda akan bermain dengan orang-orang yang akan melihat dunia ini bakal kiamat, mengeluh bagaimana mereka tak kunjung melakukan pukulan yang bagus, ….” — Billy Andrade.

Sepertinya, sesolid apa pun permainan golfnya, Hatton tahu orang-orang takkan pernah berhenti menonton, hanya untuk melihat apakah ia bakalan kehilangan kendali atau melakukan tindakan aneh setelah melakukan pukulan yang buruk. Lagipula, berapa panyak pegolf profesional kelas dunia yang akan mengucapkan apa yang Hatton ucapkan beberapa tahun lalu usai melakukan pukulan: ”Oh, flight-nya sangat indah. Sayangnya, melayang 23 meter ke kiri.”

Jelas kocak dan konyol, tapi pada tahun 2016 sempat kena damprat oleh sesama pro European Tour Gary Evans, yang meminta Hatton, yang kala itu berusia 24 tahun, untuk bersikap dewasa. Mark Roe, yang memberi komentar pada Sky Sports, juga menyisihkan Hatton gara-gara perilakunya itu.

Bukan berarti perilaku unik seperti itu merupakan hal yang baru di kalangan golf profesional. Suatu ketika Woody Austin malah nyaris membuat dirinya pingsan dengan menghajar putter ke kepalanya seusai gagal memasukkan putt. Hale Irwin juga dikenal kerap mencaci dirinya sendiri secara berlebihan.

Bagi veteran PGA TOUR, seperti Billy Andrade, mencoba untuk mengabaikan aksi-aksi sampingan yang dibawa ke lapangan oleh sesama kompetitor sudah menjadi bagian dari pekerjaan seorang pegolf profesional.

”Anda akan bermain dengan orang-orang yang akan melihat dunia ini bakal kiamat, mengeluh bagaimana mereka tak kunjung melakukan pukulan yang bagus, dan saya tak pernah memahaminya,” ujar Andrade. ”Kalau saya berbuat hal yang sama, saya bakal pensiun dari Tour karena saya harus bersikap sepositif mungkin untuk bisa main bagus.”

”Namun, saya pikir beberapa orang mesti bersikap brutal kepada dirinya sendiri. Mungkin itulah yang membuat mereka hebat.”

”… terkadang Anda mesti memberi sedikit kelonggaran buat saya.” — Tyrrell Hatton.

Meskipun mengakui bahwa komentar dan bahasa tubuhnya mungkin menutupi permainannya yang belakangan ini cemerlang, Hatton mengaku ia merasa bisa mengendalikannya.

”Saya pikir tindakan tersebut memiliki sisi positif dan negatifnya masin-masing. Bisa jadi masalah kalau Anda mulai mendapat denda, dan denda bukanlah sesuatu yang bagus,” tutur Hatton. ”Namun, pada umumnya, semua itu hanyalah reaksi. Saya benar-benar bermain dengan hati, Anda tahu bagaimana perasaan saya, jadi saya tidak berusaha menyembunyikannya.

”Bisa jadi masalah kalau saya memengaruhi rekan main saya akibat perilaku saya itu. Yang jelas, saya akan merasa tidak enak karenanya. Jelas bukan maksud saya demikian. Saya hanya—jelas saya hanya melepaskan emosi.”

Lalu ia tersenyum dan mengakui kalau ia tahu bahwa Anda bisa menemukan banyak klip video di media sosial yang menunjukkan dirinya sebagai ”pegolf yang emosional” atau ”pegolf pemarah”.

”Saya kira sejauh ini saya berhasil menciptakan sejumlah momen lucu di lapangan dengan reaksi-reaksi saya. Tahulah, saya hanya menjadi diri sendiri. Saya sekadar, (menghasilkan) reaksi tanpa berpikir dan terkadang hal itu berdampak buruk, jadi terkadang Anda mesti memberi sedikit kelonggaran buat saya.”

Selama ia bermain luar biasa dan merangkaikannya dengan berbagai kemenangan, memberinya ”sedikit kelonggaran” pastilah mudah. Terutama ketika ia juga membuat kita tertawa.