Dou Zecheng mengambil sikap untuk tidak terburu-buru kembali ke PGA TOUR; memilih langkah yang perlahan, tapi pasti.

Dou Zecheng cenderung melihat hidupnya sebagai sebuah bola golf yang berada di tengah fairway, bukan berada di bekas divot, seusai mengesekusi pukulan tee-nya. Seperti itulah sikapnya sebagai seorang atlet.

Bintang muda dari China ini telah menembus surganya golf dunia. Meski kemudian terlempar dari sana dalam tiga musim terakhir, ia tak terpengaruh apalagi terganggu ketika nyaris kembali ke PGA TOUR lewat jalur Korn Ferry Tour musim lalu.

Dou, yang berusia 23 bulan Januari ini, finis di peringkat 28 pada daftar poin Korn Ferry Tour Regular Season. Posisi ini terbilang menyakitkan karena ia hanya terpaut tiga posisi dari 25 besar, yang memberi kartu PGA TOUR untuk musim 2019-2020.

Yang tak kalah menyakitkan lagi, ia justru menjuarai turnamen awal musim, The Bahamas Great Exuma Classic di Sandals Emerald Bay. Dan sepanjang musim, ia berada di jajaran 25 besar.

Entah mengapa, dari kegembiraaan menjuarai gelar kedua Korn Ferry Tour, keberuntungan Dou mendadak sirna. Ia gagal lolos cut pada 15 turnamen dari 23 ajang yang ia ikuti. Ia juga kehilangan kartu PGA TOUR, yang telah ia kantungi sejak 2018, setelah menembus strata impian itu melalui Korn Ferry Tour pada tahun 2017.

”Banyak media yang menanyakan hal tersebut kepada saya,” ujar Dou.

Dou Zecheng sukses memenangkan The Bahamas Great Exuma Classic pada awal Korn Ferry Tour musim lalu, tapi kemudian mengalami masa-masa yang berat. Tapi ia menilai perjalanannya tahun 2019 lalu sebagai perjalanan yang berhasil untuk memastikan statusnya pada Korn Ferry Tour. Foto: PGA TOUR.

”Meskipun pasang-surut, saya menganggap tahun lalu sebagai tahun yang berhasil. Saya tak menganggapnya sebagai kegagalan, meskipun tak meraih kartu PGA TOUR. Kalau tidak main bagus (dan menang), saya mungkin harus kembali ke China karena tak punya status penuh di Korn Ferry Tour. Menang adalah hal yang positif.”

Dou memang bersiap untuk sementara ini bermain di Korn Ferry Tour. Ia sendiri menganggap Tour ini merupakan panggung yang bagus untuk membuatnya menjadi pegolf yang lebih komplet.

Ketika bermain di level PGA TOUR pada musim 2018, ia hanya empat kali lolos cut dari 23 turnamen yang ia ikuti. Dari situ ia tahu, permainannya tak cukup bagus untuk bersaing di level tertinggi di olahraga ini.

”Saya tak ingin terlalu cepat mendapatkan lagi kartu PGA TOUR itu. Kalau kala itu terwujud, rasanya terlalu cepat. Saya ingin meraihnya perlahan-lahan dan keputusan ini saya pikir bagus buat saya. Mungkin perlahan dan pasti akan membantu saya memenangkan perlombaan (meraih kartu PGA TOUR) ini.”

Setelah musim 2019 berakhir, ia mempelajari lagi latihan yang ia lakukan dengan Cameron McCormik, pelatih yang juga mengajar Jordan Spieth. Dou pun merasa puas karena masih berada di jalurnya berkat rutinitas dan etos kerja yang baik.

”Saat bermain di level PGA TOUR, saya tak memberi cukup waktu untuk melakukan apa yang mestinya saya kerjakan. Lalu setelah menang pada awal 2019, saya terus berlatih keras dan berfokus pada kebugaran saya. Mungkin saya akan mengikuti sekitar 20 turnamen pada tahun 2020 dan melihat bagaimana hasilnya. Saya banyak bertanding pada tahun 2019 dan pernah bermain 14 atau 15 pekan terus-terusan. Mungkin itu pula alasan mengapa performa saya menurun.”

Dou Zecheng menilai Korn Ferry Tour menjadi panggung yang sangat baik untuk membuatnya lebih siap bersaing ketika kembali ke PGA TOUR kelak. Foto: Getty Images.

Dou yakin latihannya dengan McCormick di Dallas, domisilinya, akan membantunya menjadi pegolf yang ia inginkan. ”Dia (McCormick) memperkenalkan program kebugaran, di mana saya berada di pusat kebugaran tiga kali sepekan. Badan saya terasa lebih baik dan kami melakukan beberapa perubahan dalam permainan, fokus pada swing plane dengan target menciptakan lebih banyak konsistensi dengan pukulan bola dan putting.

”Saya bisa menjumpai Cameron sekali seminggu dan tak satu hari pun di rumah (di Dallas) ketika saya tak melakukan apa-apa. Saya selalu melakukan sesuatu, berusaha untuk menjadi lebih baik.”

Ia jelas tak sabar memulai Korn Ferry Tour musim 2020 dengan catatan yang meyakinkan. Ia berniat mempertahankan gelar yang ia peroleh di Bahamas. ”Permainan saya rasanya sedang bagus. Saya finis di tempat kedua dua kali di China Tour (pada penghujung musim 2019) dan memainkan tiga putaran yang sangat baik pada WGC-HSBC Champions. Saya yakin akan meraih kartu PGA TOUR untuk tahun depan,” ujarnya.

Meskipun kini Dou menjalani impian Amerikanya, ia mengakui jauh dari China dan keluarganya memberinya tantangan yang lain.

”Golf menjadi hal terbesar dengan menetap di Dallas. Ada banyak lapangan bagus, pelatih yang bagus, pemain yang bagus di sekitar Anda, dan semua itu sangat berarti. Namun, hal terberat sebagai seorang China di sini ialah Anda akan senantiasa memikirkan keluarga. Keadaan bisa menjadi sulit jika Anda tidak bermain dengan baik.

”Untungnya, ada beberapa restoran China yang enak di Dallas. Ini cukup penting.”