KK Limbhasut menempuh perjalanan dari Thailand untuk bisa mewujudkan mimpi bertanding di level PGA TOUR.

Oleh Adam Stanley, PGATOUR.com

Sepuluh tahun silam, Khem Khon Limbhasut tiba di Amerika bersama sang ayah. Mereka hanya membawa empat koper dan tak memiliki rencana lain, selain keinginan untuk bermain golf secara profesional.

Limbhasut baru berusia 14 tahun kala menginjakkan kaki di Los Angeles. Ia sendiri tak tahu bakal seperti apa kelanjutan petualangannya. Bersama sang ayah, mereka berniat menuju San Diego, tapi akhirnya malah menetap di Loma Linda, sekitar 90 menit dari sebelah timur bandara internasional Los Angeles. Teman keluarga mereka di sana membantu kepindahan keduanya.

Dalam usia yang masih begitu belia, tinggal jauh dari ibu dan kakaknya jelas sangat berat baginya. Tapi ia datang ke Amerika untuk mewujudkan mimpinya. Dan kini impian itu hampir terpenuhi.

Awalnya, Limbhasut akan memulai Korn Ferry Tour musim 2020-2021 dengan hanya memegang status kondisional. Tapi finis T12 pada El Bosque Mexico Championship by INNOVA, lalu tiga bulan kemudian T10 pada Korn Ferry Challenge di TPC Sawgrass, posisinya pun menjadi lebih bagus lagi untuk mengikuti jadwal padat sepanjang musim panas ini.

”Saya sangat senang bisa kembali dan bermain penuh,” ujar Limbhasut, menyusul jeda tiga bulan lantaran pandemi COVID-19.

Pria kelahiran Bangkok ini mulai bermain golf ketika berusia 8 tahun dan kerap bermain bersama keluarganya. Ia mengenang, sang ayah sering bermain golf, tapi olahraga ini segera menjadi kegiatan keluarga.

”Kalau ayah bermain golf sendirian, dia pasti pergi setengah hari. Daripada begitu, ia mendorong ibu dan saya untuk belajar golf sehingga kami bisa main bersama,” kenang Limbhasut. ”Begitulah asal mulanya.”

Suatu ketika ia bermain di lapangan dengan sang ayah dan berada satu grup dengan seorang pegolf junior yang kompetitif. Itulah pertama kalinya Limbhasut melihat bahwa ada orang lain yang bisa bermain sangat bagus dan terlihat keren bisa bermain golf.

”Kalau ayah bermain golf sendirian, dia pasti pergi setengah hari. Daripada begitu, ia mendorong ibu dan saya untuk belajar golf sehingga kami bisa main bersama.” — KK Limbhasut.

”Itu sebabnya saya ingin bermain dalam sebuah turnamen,” ujar Limbhasut, yang saat itu baru berusia 9 tahun. Lima tahun kemudian, ia dan sang ayah ingin bertanding golf sambil mengejar pendidikan. Sistem ini belum ada di Thailand sehingga mereka menuju Amerika.

Meskipun tumbuh di sekitar banyak pegolf profesional Thailand masa kini—Kiradech Aphibarnrat menjadi anggota PGA TOUR sedang kakak-beradik Jutanugarn bermain di level LPGA (Limbhasut Ariya, mantan No.1 Dunia)—ia tidak memiliki peluang untuk mendapatkan pendidikan yang bagus sambil berkompetisi di level yang tinggi. Pilihannya hanya salah satu dari kedua hal tersebut.

Kemudian ia menghabiskan dua musim panas mengikuti turnamen did AS sebelum akhirnya pindah ke California. Tapi di sana ia mengalami tantangan budaya. Ia memang telah belajar bahasa Inggris lantaran mengikuti sekolah internasional di Thailand. Tapi yang ia dapatkan tidaklah sama seperti ketika belajar bahasa Spanyol di AS, yang jarang dilakukan di luar kelas. Ketika di Thailand, ia menjadi salah satu dari 30 siswa. Tapi di California, ia hanyalah satu dari sekitar 700 pelajar.

Tapi ia segera menyesuaikan diri. Ia mendapat banyak teman di lapangan dan menandai sejumlah restoran Thai yang enak. ”Butuh waktu sih,” guraunya.

Kini ia merasa nyaman tinggal di California. Ketika tiba saatnya memilih universitas, ia ingin menetap di daerahnya dan mengikuti sekolah yang masuk Pac-12. Artinya, UCLA, USC, dan Cal-Berkeley menjadi prioritas utamanya. Limbhasut memutuskan untuk masuk ke Cal-Berkeley dan lekas bersahabat dengan Collin Morikawa, yang kini juara PGA TOUR.

Morikawa sendiri mengaku persahabatan dengan Limbhasut mulai terjalin ketika pegolf Thailand itu finis di peringkat kedua pada ajang Sunnehanna Amateur 2016.

”Kami menjadi sangat dekat dan mengobrol hampir tiap hari. Kami mengobrol seakan-akan dia saudara saya sendiri,” tutur Morikawa, yang membukukan 22 kali lolos cut, dengan satu gelar.

”Ketika bertanding di lapangan yang lebih pendek dan ia bisa memainkan short iron, ketika itulah ia akan mendapat skor yang lebih rendah.” — Collin Morikawa

”Menyenangkan melihat pemain yang sebaya dengan saya, yang saya kenal dengan baik dan bermain dengan baik pada Korn Ferry Tour. Semoga mereka bisa segera bergabung (ke PGA TOUR).

”Kalau melihat relasi para pemain (di lingkup PGA TOUR), mereka sangatlah dekat. Dan ya, saya memang punya banyak teman, tapi relasi saya tidak sedekat dengan KK.”

Limbhasut mengaku, bersama Morikawa yang juga mempelajari ilmu bisnis, belajar banyak satu dengan yang lain. Keduanya saling mendorong untuk menjadi pemain terbaik di kampusnya. Mereka bersaing dalam segalanya, tak hanya golf. Dan mereka juga berlatih bersama hampir tiap hari karena jadwal kuliah mereka sama.

Morikawa menggambarkan Limbhasut sebagai pemain yang ”sangat konsisten” dengan short game yang ”mematikan”. Ia bahkan mengaku menghabiskan hampir tiap waktu selama masa kuliahnya untuk belajar short game dari Limbhasut.

”Di situlah dia akan mencatatkan skor. Ketika bertanding di lapangan yang lebih pendek dan ia bisa memainkan short iron, ketika itulah ia akan mendapat skor yang lebih rendah,” tutur Morikawa. ”Tapi dia orang yang sangat baik, sangat melankolis, tapi orang yang sangat menyenangkan.”

Tapi jangan terpesona oleh kepribadian tersebut. Limbhasut sangat ingin menang dan ia ingin segera sejajar dengan sahabatnya itu. ”Kami terus saling mendorong untuk menjadi pegolf terbaik di kampus kami, dan kami melakukannya dengan sangat baik,” ujar Limbhasut. ”Ia berkarier pada PGA TOUR dan mengikuti sejumlah turnamen besar, sedang saya pada panggung Korn Ferry Tour, yang tidak terlalu jauh dari dia.”

Dan Limbhasut, meskipun pindah ke Amerika tanpa tahu apa-apa, kini tinggal selangkah lagi mencapai impian utamanya: bertanding di panggung PGA TOUR dan bergabung dengan Morikawa.

Pada akhirnya, perjalanannya dari Thailand ke PGA TOUR tampaknya memang tak terlalu jauh.