Im Sungjae memberikan pencapaian terbaik yang pernah dihasilkan oleh seorang pegolf Asia pada tahun 2020.

Oleh Chuah Choo Chiang, Senior Director International Marketing & Communications APAC PGA TOUR, berdomisili di Kuala Lumpur, Malaysia.

Im Sungjae punya backswing yang bebas dan metodik, yang kerap kali terlihat seperti sebuah gerakan lambat. Gerakan yang tampak lesu untuk mengokang penuh saat impact ini tampak sangat kontras dengan bagaimana pemuda Korea ini melambung ke jajaran atas golf dunia.

Dengan 2020 yang segera berakhir, menyusul tahun yang tak lazim dalam olahraga dengan COVID-19 yang mengancam olahraga ini, pegolf berusia 22 tahun ini justru menonjol dan memberi secercah harapan. Ada keyakinan baru bahwa masa depan golf Asia ada di tangan yang tepat, tak masalah selambat apa backswing yang ia lakukan.

Im mulai berkenalan dengan golf ketika usianya masih tiga tahun, ketika sang ibu memberinya club plastik. Namun, kini bintangnya bersinar terang usai meraih gelar PGA TOUR pertama pada bulan Maret. Ia kemudian finis sebagai pegolf Asia terbaik, berada di peringkat 11 pada klasemen akhir FedExCup 2020.

Kemunculannya telah dimulai dua tahun silam. Kala itu ia memimpin daftar peraih hadiah uang pada Korn Ferry Tour dari awal hingga finis berkat dua kemenangan dan tiga kali meraih tempat kedua. Ia pun dianugerahi status Player of the Year pada sirkuit tersebut. Dalam usia yang baru 20 tahun, ia menjadi pemain termuda yang meraih penghargaan tersebut. Pemuda ini kemudian mencatatkan tujuh kali finis di sepuluh besar untuk memenangkan penghargaan Rookie of the Year PGA TOUR. Lalu ia menutup tahun 2019 dengan performa yang menonjol pada Presidents Cup berkat sumbangan 3,5 poin bagi Tim Internasional. Salah satunya ia raih dengan menaklukkan Gary Woodland dengan skor 4&3 pada partai tunggal.

 

Posisi Hideki Matsuyama sebagai No.1 Asia mulai tersaingi oleh Im Sungjae. Foto: Getty Images.

 

Im tak hanya mendapat sorakan teramai berkat kemenangannya pada The Honda Classic, tapi juga nyaris memenangkan ajang tutup musim TOUR Championship dan menjuarai FedExCup. Menyusul dua putaran meyakinkan 68 dan 64, ia memasuki putaran akhir pekan hanya satu stroke di belakang Dustin Johnson, sang pimpinan klasemen. Sayangnya, rasa gugup menjalar dalam dirinya sehingga ia harus puas finis di peringkat 11. Hiburan baginya ialah bahwa Im berhasil menggeser Hideki Matsuyama sebagai pemain terbaik PGA TOUR dari Asia, posisi yang selalu dipegang oleh Matsuyama dalam enam musim terakhir sejak 2014.

”Fakta bahwa saya berhasil meraih kemenangan pertama dalam tahun kedua pada PGA TOUR, dan juga menang di lapangan yang sulit, amatlah berarti buat saya. Bisa menang pada tahap awal karier saya jelas memberi rasa percaya diri yang berlimpah. Prestasi ini membuat saya yakin kalau saya bisa mengejar kemenangan kedua dan ketiga. Dan kemenangan itu juga menjadi katalis untuk saya berlatih lebih keras lagi,” ujar Im melihat prestasinya tahun 2020.

Ciri khas permainannya, yang dibangun berdasarkan konsistensi mesin jam, Im pun mendapat berbagai julukan, seperti ”The Machine”, ”Iron Byron”, dan ”Ironman Im”. Mackenzie Hughes, yang harus takluk dari Im pada ajang The Honda Classic, menyebut duelnya dengan pegolf Korea pada putaran final itu sebagai duel ”manusia melawan mesin”. Pegolf Kanada itu berkata, ”Sebagai pemain, Im melakukan pukulan di bunker dan memukul ke tribun, dan dia persis seperti mesin. Sangat mengesankan.”

Pegolf lain yang cukup sering bermain dengan Im sampai mengakui ketangguhannya ialah Juara FedExCup 2017 Justin Thomas. ”Saya pikir mengesankan merupakan pernyataan yang kurang tepat. Ia dewasa melampaui usianya. Melihat pukulan-pukulan yang ia lakukan, punya begitu banyak variasi dalam permainan dan bisa memukul tinggi, sangat tinggi dengan spin, dan memukul rendah dan menerbangkannya dan menerobos angin, dari kiri ke kanan dan kanan ke kiri, jelas sangat mengesankan.”

Im sendiri telah bertekad untuk bisa bermain lebih baik, lebih kuat, dan lebih cepat seiring dengan pergantian tahun yang segera menjelang. Lalu ia akan membuat peningkatan dari sejumlah pelajaran yang ia raih dari tahun 2020, termasuk ketika mencatatkan finis mengecewakan pada rangkaian Play-off FedExCup. ”Saya memulainya dengan snagat bagus, tapi (setelah itu) tidak mendapatkan putaran yang saya inginkan. Tentulah saya merasa sedikit kecewa, tapi saya akan terus bersiap dan berlatih. Memang saya merasakan tekanan dan ketegangan. Pengalaman itu sangat berharga dan pasti membantu saya untuk bersaing pada turnamen-turnamen pada masa mendatang,” tegas Im.

 

Zhang Xinjun menjadi pegolf China Daratan pertama yang menembus FedExCup Play-off. Foto: Getty Images.

 

Penampilan prima lain dari Asia juga dihadirkan oleh Matsuyama. Tahun 2020 ini ia mencatatkan 15 kali finis di jajaran 25 besar, termasuk lima kali finis di sepuluh besar. Sementara Zhang Xinjun ikut menorehkan prestasi dengan menjadi pegolf China Daratan pertama yang menembus FedExCup Playoff, berkat tujuh kali finis di jajaran 25 besar dan tiga kali masuk sepuluh besar. Zhang kemudian finis di peringkat 78 pada klasemen akhir FedExCup.

Zhang, yang tumbuh di kampung petani di China, jelas sangat bangga dengan upayanya. ”Saya amat bersemangat bisa bersaing dengan para pegolf terbaik dan mengumpulkan banyak pengalaman. Berusaha menang merupakan target setiap pemain, dan hal yang sama juga berlaku buat saya. Satu langkah kecil akan membawa kita pada ribuan mil dan yang bisa saya lakukan ialah berfokus pada tiap turnamen dan tiap swing. Saya yakin kalau bisa mengambil langkah kecil dan terus melakukan peningkatan, saya akan makin dan makin dekat menjadi juara PGA TOUR,” ujar Zhang.

Rekan senegaranya, Li Haotong juga memberikan adrenalin tersendiri ketika secara mengejutkan ia menjadi pimpinan klasemen putaran kedua PGA Championship pada bulan Agustus, sampai akhirnya mesti puas finis di peringkat 17. Prestasi itu mengingatkan pada potensinya yang berlimpah. ”Saya hanya perlu lebih konsisten, dan secara fisik lebih kuat juga,” ujar pegolf berusia 25 tahun, yang juga telah finis di tempat ketiga pada The Open Championship 2017. ”Saya pikir kalau bisa memainkan permainan terbaik, saya bisa mengalahkan mereka. Saya hanya ingin berusaha berada di level seperti itu.”

Kembali kepada Im, backswing-nya mungkin terkesan jauh lebih ortodoks lagi sebelumnya. Namun, kini ia mulai memperlambatnya untuk mencari konsistensi pukulan. ”Pada tahun pertama saya bermain pada Japan Tour, saya sadar kalau konsistensi pukulan saya belum ada. Saya bereksperimen dengan tempo backswing dan akhirnya malah bisa berfungsi. Jadi, sejak saat itu, saya mengubah tempo backswing menjadi yang sekarang ini,” jelas Im.

Yang jelas backswing itu akan bernilai jutaan dollar, yang pada akhirnya akan menjamin keberhasilan dirinya dan jajaran pemain Asia pada panggung yang besar tetap terbuka lebar.