Im Sungjae menerobos jajaran atas PGA TOUR dengan gelar pertamanya pada The Honda Classic.

Oleh Sean Martin, PGATOUR.com

Im Sungjae tak selalu memiliki backswing yang metodik sehingga beberapa orang menjulukinya sebagai Sang Iron Byron berjalan.

Ia cenderung mengayunkan club dengan tempo yang ia sesuaikan. Empat tahun silam, ia mengalami kesulitan untuk memukul bola. Lalu sebagai langkah mengatasinya, ia mulai memperlambat swing-nya. Dan ia lekas menerapkannya ke lapangan setelah merasa puas dengan hasil latihannya.

“Latihan tersebut benar-benar membantu. Rasanya saya bisa memukul ola ke mana pun saya mau,” ujarnya. Sekarang saya merasa backswing saya menjadi makin dan makin lambat lagi.”

Dan sinarnya pun kian benderang. Im, yang kini berusia 21 tahun, melambung ke jajaran atas sejak datang ke Amerika Serikat dua tahun lalu.

Dan pada hari Minggu (1/3) kemarin, ia menjadi pegolf Korea Selatan ketujuh yang meraih kemenangan PGA TOUR, sekaligus yang pertama sejak Kang Sung melakukannya pada AT&T Byron Nelson 2019. Dia juga menjadi pegolf Korea Selatan kedua yang menjuarai The Honda Classic setelah Y.E. Yang melakukannya pada tahun 2001. Adapun K.J. Choi sendiri masih memimpin koleksi kemenangan dengan delapan gelar, sedangkan Kim Siwoo, Bae Sangmoon, dan Y.E. Yang telah memiliki dua kemenangan. Kang dan Noh Seung-yul berada di daftar berikutnya dengan satu kemenangan.

 

Sepanjang musim 2018, nama Im selalu berada di daftar atas klasemen peraih hadiah uang pada Korn Ferry Tour sehingga ia dianugerahi penghargaan Player of the Year. Dalam usianya yang saat itu baru 20 tahun, ia menjadi pegolf termuda yang meraih penghargaan tersebut. Tahun lalu iai meraih status Rookie of the Year PGA TOUR. Lalu sekarang ia sudah menjadi juara PGA TOUR.

Sembari berjalan di fairway terakhir, Mackenzie Hughes sadar bahwa meskipun ia bisa mengimbangi tiap pukulan Im, duel pada hari Minggu itu takkan mungkin dianggap seimbang. Sampai-sampai ia menyebut duel itu sebagai duel “manusia melawan mesin”.

“Sayalah manusianya, memukul ke bunker dan memukul bola ke panggung di hole 18. Dan dia bermain seperti mesin saja,” ujar Hughes, “benar-benar mengesankan.”

Im menuntaskan pekan tersebut dengan bermain 6-under 274 pada sebuah pekan yang dibanding-bandingkan dengan sebuah kejuaraan Major. Champion course PGA National sendiri memang merupakan lapangan yang bakal memberikan banyak penalti ketika para pegolf profesional ini bermain tiap tahun. Angin yang berembus sepanjang pekan menciptakan green yang keras dan skor yang besar. Rata-rata skor pada pekan itu nyaris 2-over par. Hanya ada 16 pemain yang bisa finis dengan bermain under.

Im meraih kemenangannya setelah langsung panas sejak awal putaran final. Ia membukukan empat birdie di lima hole pertamanya. Lalu ia menghadapi rangkaian hole penutup yang menakutkan di PGA National. Dua hole par 3 yang disebut Bear Trap, hole 15 dan 17, merupakan dua dari tiga hole tersulit pada hari Minggu itu. Hanya ada 13 birdie tercipta pada putaran final dan Im merupakan satu dari hanya dua pemain yang berhasil membukukan birdie di kedua hole tersebut.

Kemenangan ini membuatnya menjadi pegolf berusia 22 kelima yang memenangkan ajang PGA TOUR sejak Juli 2019 lalu. Sebelumnya, Matthew Wolff, Collin Morikawa, Joaquin Niemann, dan pemenang Puerto Rico Open pekan sebelumnya, Viktor Hovland melakukan prestasi ini.

 

Kini Im berada di peringkat 2 klasemen FedExCup, hanya 135 poin di belakang Justin Thomas. Kemenangan kali ini telah memberinya finis di tiga besar yang ketiga pada musim ini. Sebelumnya, ia kalah play-off dari Sebastian Munoz pada ajang Sanderson Farms Championship dan finis di tempat ketiga pada ZOZO CHAMPIONSHIP. Im juga tampil mengesankan pada Presidents Cup bulan Desember 2019 lalu dengan rekor 3-1-1 (3 kemenangan, 1 seri, dan 1 kalah). Tak heran jika pengalaman-pengalaman tersebut membantunya mengatasi tekanan dari berbagai pemain di jajaran atas klasemen pada hari Minggu itu.

Ketika memasuki sembilan hole terakhir, ada empat nama yang berada di puncak klasemen. Tommy Fleetwood, yang memimpin setelah 54 hole, berpeluang menang sampai di hole terakhir. Hughes sendiri memasukkan putt dari jarak 50 kaki yang memberinya peluang di hole 18. Brendan Steele juga sempat menjadi salah satu pemimpin di sembilan hole terakhir, sebelum akhirnya finis di tempat keempat.

Im berhasil mengalahkan mereka dengan sejumah pukulan penentu di hole-hole terakhir. Yang pertama terjadi di hole 15, ketika ia memukul dengan 5-iron dan mengantarkan bola hingga berjarak 8 kaki. Sebelumnya, ia selalu ragu di hole ini. Namun, embusan angin dari kanan ke kiri memberinya plot yang sempurna untuk pukulan fade-nya.

“Rasanya saya memiliki bekal yang dibutuhkan untuk menyerang pin seperti yang saya lakukan,” ujar Im. “Saya memilih club yang tepat dan merasa nyaman dengan anginnya. Saya bermain agresif dan begitu melihat pukulan itu, saya puas rencana itu berjalan dengan baik.”

Ia meninju ke udara ketika melihat bola mendarat di antara pin dan air yang mengawal sisi kanan green. Ia memukul green dari bunker fairway di hole berikutnya dan membuiat par. Kemudian ia memukul bola dengan 7-iron hingga berjarak 8 kaki di hole 17. Lalu pukulan ketiganya di hole penutup par 5 ke bunker green, dan nyaris memasukkan bola dari bunker itu untuk kemudian mendapat par.

“Saya senang bisa berada di PGA TOUR dan hanya bermain golf. Saya tak melihatnya sebagai sebuah pekerjaan. Ini sebuah peluang untuk bermain dan melakukan apa yang saya suka.”

“Saya benar-benar ingin meraih kemenangan itu, bahkan setelah memenangkan Rookie of the Year dan memiliki beberapa peluang untuk menang,” ujar Im. “Saya memiliki beberapa peluang yang akhirnya sirna, tapi sangat bersyukur bisa menang dalam usia yang masih muda, dan senang dan puas rasanya bisa mewujudkannya secepat ini.”

Turnamen ini sendiri merupakan turnamen PGA TOUR ke-48 bagi Im sejak awal musim lalu. Jumlah ini dua turnamen lebih banyak ketimbang yang lain. Dia juga tidak punya rumah di Amerika Serikat, tapi menyadari dirinya nomaden bermain pada PGA TOUR.

“Saya senang bisa berada di PGA TOUR dan hanya bermain golf,” ujar Im. “Saya tak melihatnya sebagai sebuah pekerjaan. Ini sebuah peluang untuk bermain dan melakukan apa yang saya suka.”

Bagaimana dengan perayaan pasca-kemenangan ini? Bahkan ketika ia menuju Arnold Palmer Invitational presented by Mastercard, Im bahkan tidak tahu apakah hendak bermalam atau langsung menuju Orlando.

“Terlepas dari di mana saya berada, di hotel atau di mana pun itu, rasanya kali ini menjadi salah satu malam yang paling membahagiakan dalam hidup saya,” tutupnya.