EDGA Dubai Finale menjadi panggung pamungkas akbar bagi para pegolf penyandang disabilitas.

Meskipun DP World Tour Championship menyita perhatian publik golf dunia sebagai turnamen tutup musim European Tour, satu hal yang juga tak boleh kita lupakan ialah bahwa pada pekan yang sama, sebuah ajang yang ditujukan bagi para pegolf dengan disabilitas juga turut digelar. EDGA Dubai Finale diselenggarakan untuk pertama kalinya, berbarengan dengan turnamen pamungkas tersebut.

Turnamen ini menjadi sebuah ajang yang tak sekadar memberi kesempatan bagi para pegolf penyandang disabilitas untuk berkompetisi, tapi juga mendorong para penyandang disabilitas lainnya untuk memiliki semangat dan percaya diri bahwa mereka bisa berprestasi.

Adalah George Groves yang akhirnya keluar sebagai juara turnamen 36 hole tersebut. EDGA Dubai Finale, yang diikuti oleh sejumlah pegolf terbaik dunia dari Golfers with Disability itu menjadi turnamen kedua yang diselenggarakan bersamaan dengan sebuah ajang Rolex Series. Uniknya, Groves finis di tempat kedua ketika EDGA Scottish Open digelar. Kala itu, ia harus mengakui keunggulan Brendan Lawlor.

Groves, yang berasal dari Inggris, mengidap Erb’s Palsy, kondisi yang membuatnya hanya memiliki 20% tenaga di lengan kiri setelah mengalami kecelakaan medis saat lahir. Namun, kondisi ini tak menghentikan dirinya untuk bangkit dan menjadi pegolf No.1 Dunia menurut World Rankings for Golfers with Disability.

Mantan tentara asal AS, Chad Pfeifer, sempat memberi tekanan bagi Groves. Pegolf yang harus kehilangan kakinya saat bertempur di Irak sebagai bagian dari U.S. Army 3rd Airborne Batalion dan telah menjuarai US National Amputee Golf champion 2011 ini membukukan skor terendah pada putaran final itu dengan skor 79. Namun, Groves yang finis dengan skor 82, 15-over 159 berhasil meraih kemenangan lantaran unggul 3 stroke dari Pfeifer.

“… ketimbang hanya duduk di rumah, para penyandang disabilitas perlu lebih memiliki rasa percaya diri, keluar, dan menunjukkan apa yang bisa mereka lakukan.” – George Groves

“Sungguh fantastis,” ujarnya. “Saya akan pulang sebagai seseorang yang memiliki rasa bangga pada diri sendiri, dan merayakannya dengan sahabat dan keluarga saya.”

Groves mengakui partisipasnya pada Tour bagi kaum disabilitas ini benar-benar mengubah kehidupannya, tak hanya sebagai individu, tapi juga sebagai seorang pegolf.

“Saya benar-benar merasa bahagia bisa mendapat kesempatan seperti ini. Melibatkan kami, bahkan sampai bisa masuk TV adalah hal yang sangat baik. Hal ini bisa menunjukkan kepada mereka yang menyandang disabilitas untuk lebih terlibat dengan olahraga golf dan, ketimbang hanya duduk di rumah, mereka perlu lebih memiliki rasa percaya diri, keluar, dan menunjukkan apa yang bisa mereka lakukan,” tutur Groves lagi.

Groves sempat aktif bermain sepakbola ketika masih muda untuk melatih lengannya. Lalu orangtuanya mendorongnya untuk berlatih golf. Dari golf rasa percaya dirinya tumbuh dan ia pun serius menggeluti olahraga ini.

“Bisa bermain dan menang, menjadi pegolf No.1 Dunia, adalah hal yang sungguh luar biasa. Saya sangat yakin 100% bahwa saya sudah mengambil pilihan yang tepat,” tegasnya.