C.T. Pan menjadi salah satu pemain debutan yang mewujudkan salah satu impian masa kecilnya.

C.T. Pan masih ingat masa-masa kecilnya dulu. Kala itu ia melingkar di sofa rumahnya dengan abang dan ayahnya sambil menyaksikan Masters Tournament di layar kaca. Padahal saat itu masih pagi-pagi buta.

Salah satu kenangan awal Masters yang ia miliki ialah pada tahun 2005. Tahun itu Tiger Woods menciptakan chip-in birdie yang ajaib di hole 16 par 3, yang kemudian disambut dengan hiruk-pikuk yang seakan mengguncangkan Augusta National Golf Club.

Apa yang Woods lakukan kala itu meninggalkan kesan bagi Pan yang membuatnya bermimpi suatu saat kelak akan bertanding pada turnamen impian yang dipelopori oleh sang legenda Bobby Jones dan Clifford Roberts pada tahun 1934.

Pekan ini, sekitar 15 tahun setelah ia menyaksikan keajaiban Woods tersebut, Pan akhirnya akan memulai debutnya pada Masters Tournament. Keberadaannya kali ini tak lepas dari kesuksesannya pada kancah PGA TOUR, ketika ia menjuarai RBC Heritage 2019, yang memberinya spot untuk bertanding.

”Saya sangat bersemangat untuk mewujudkan impian saya,” ujar Pan penuh semangat. Ia sendiri akan menjadi pegolf China Taipei pertama sejak Lin Wentang pertama kali bermain pada The Masters 2009.

”Kesempatan bermain tahun ini menjadi dorongan besar buat saya, dan sangat berarti bagi (mendiang) ayah dan abang saya.”

”Ketika berada di rumah, saya akan bangun untuk menonton langsung The Masters bersama ayah dan abang saya pada pukul 03:00 atau 04:00 pagi. Chip-in Tiger di hole 16 merupakan pukulan chip yang sangat indah. Sebelum pukulan itu, ia sangat fokus dan caranya membaca slope green, saya belajar banyak dari Tiger. Saya akan selalu mengingat peristiwa tersebut.

”Kini setelah bertahun-tahun latihan keras, akhirnya saya bisa berdiri di tee hole pertama pada The Masters. Selama bertahun-tahun saya hanya menonton dan mengingat tiap lokasi hole-nya. Saya punya kesempatan bermain tahun ini dan ini akan menjadi pengalaman yang sangat mengasyikkan. Kesempatan ini menjadi dorongan besar buat saya, dan sangat berarti bagi (mendiang) ayah dan abang saya.”

Ada kesedihan tersendiri dalam dirinya, mengingat sang ayah, Pan Jung-ho, telah meninggal dunia tahun 2010 silam. Beliau tidak dapat melihatnya mencapai impiannya ini. Sang ayah, seorang guru sekolah dasar, merupakan sosok yang sangat penting dalam memperkenalkan golf kepada Pan dalam usianya yang masih kecil. Ia akan mengantarkan Pan dan abangnya dalam mobil van keluarganya untuk mengikuti berbagai turnamen junior di seluruh China Taipei. Kini selain sambil membawa kenangan akan sang ayah, Pan juga punya banyak alasan untuk merayakan pekan yang berkesan ini. Pada hari Kamis (12/11) besok ia akan genap berusia 28 tahun.

”Semua pemain pasti menginginkan hasil yang bagus. Kami ingin menjadi juara, terutama pada level seperti ini karena ini The Masters,” ujar Pan. ”Tiap kesempatan, tiap hari bermain 18 hole, semua itu mendekatkan kami pada mimpi-mimpi kami. Saya akan bermain sebaik mungkin dan berusaha mengalahkan yang lain.”

”Saya tak sabar menikmati Pimento Cheese Sandwich yang terkenal itu dan keindahan Magnolia Lane!”

Untuk persiapan debutnya ini, Pan menempuh perjalanan ke Georgia dua pekan lalu dan menikmati putaran latihan di Augusta National dengan anggota klub. Ia menyerap semua yang ia bisa, menuangkan catatan di buku yardage, terutama berkaitan dengan green-nya yang terkenal sangat licin.

”Anggota di Augusta National memberi saya buku yardage. Saya harus berusaha mengingat semua jarak, seperti jarak dari tee ke bunker. Dengan begitu saya bisa bermain dengan lebih yakin,” imbuhnya lagi. ”Anggota tersebut memberi banyak nasihat. Saya pikir green akan licin dan keras saat turnamen dan cuaca akan dingin, terutama pada pagi hari. Bola takkan melayang jauh dan saya mesti punya rencana yang bagus. Saya akan membidik bagian terlebar dari fairway, dari sana barulah saya menyerang green. Saya akan berhati-hati mempelajari tiap posisi pin tiap petang sebelum putaran berlangsung.”

Terlepas dari semua persiapan yang sangat serius, ia jelas tak sabar untuk sepenuhnya mengalami nuansa Masters, yang terpaksa dipindahkan dari jadwal tradisionalnya pada bulan April ke pekan ini lantaran pandemi COVID-19. Salah satu yang bakal ia nikmati ialah Pimento Cheese Sandwich yang terkenal itu.

”Ada begitu banyak tradisi pada The Masters, dan banyak di antaranya yang belum pernah saya alami,” ujarnya. ”Saya tak sabar menikmati Pimento Cheese Sandwich yang terkenal itu dan keindahan Magnolia Lane!”