Pegolf China Taipei C.T. Pan berharap mengulangi kemenangan bersejarah Presidents Cup dengan mengambil inspirasi dari keberhasilan dua pemain senior China Taipei.

Sejarah sudah tercipta dengan sendirinya ketika C.T. Pan menjadi bagian dari Tim Internasional yang akan berlaga dengan Tim Amerika Serikat pada Presidents Cup bulan depan. Pemegang satu gelar PGA TOUR ini menjadi pegolf China Taipei pertama yang tampil pada ajang dua tahunan tersebut.

Ketika duel dengan Tim AS akan berlangsung bulan depan di The Royal Melbourne Golf Club, Pan bakal melangkah di lapangan bersejarah ini sebagai salah satu kekuatan yang tidak dapat diabaikan.

The Royal Melbourne Golf Club memang merupakan situs bersejarah bagi Tim Internasional. Satu-satunya kekalahan Tim AS terjadi di lapangan ini, persisnya pada tahun 1998. Tapi kemenangan itu tak menjadi satu-satunya peristiwa yang bakal menjadi inspirasi bagi Pan.

Pada tahun 1972, Hsieh Min-nan dan Lu Liang-huan mempersembahkan kemenangan bersejarah dan satu-satunya pada ajang World Cup of Golf bagi China Taipei. Pada masanya, kedua pegolf ini merupakan pemain papan atas dengan sejumlah kemenangan di Asia. Mereka berhasil mengejutkan seluruh dunia dengan keberhasilan keduanya dalam membawa pulang trofi ajang prestisius tersebut. Hsieh, yang kini berusia 79 tahun, bahkan mewujudkan impian dengan turut menjuarai gelar individual.

Pan jelas tidak melewatkan “kebetulan” ini ketika segera melakoni debutnya di Royal Melbourne. Memorabilia kemenangan mustahil yang diraih oleh Hsieh dan Lu ini sendiri tersimpan dengan rapi di clubhouse lapangan tersebut. Lu sendiri terkenal setelah menjadi runner-up di belakang Lee Trevino pada The Open Championship 1971.

Bermain dua putaran bersama Tiger Woods pada BMW Championship 2019, dan membukukan skor yang bagus, turut memberi percaya diri bagi C.T. Pan. Foto: PGA TOUR.

“Ini kebetulan yang sangat keren dan menarik,” ujar Pan, yang otomatis lolos menjadi bagian dari tim setelah berada di peringkat tujuh klasemen kualifikasi tim.

“Sungguh istimewa jika bisa mengulangi sejarah dan kembali mewujudkannya lagi, terutama lantaran saya menjadi pegolf China Taipei pertama yang bermain pada Presidents Cup. Berkesempatan menjadi bagian dari sejarah adalah suatu pencapaian yang luar biasa.”

Pan, mantan pemain amatir No.1 Dunia, telah menikmati prestasi terbesarnya sejauh ini ketika pada bulan April 2019 lalu ia meraih gelar PGA TOUR pertamanya pada RBC Heritage. Ia sendiri bersemangat untuk kembali ke Royal Melbourne, lapangan yang telah menjadi saksi keberhasilannya finis T5 pada ajang Asia-Pacific Amateur Championship 2014.

“Rasanya luar biasa. Saya menikmati tahun karier yang bagus. Sebelum tenggat kualifikasi, saya mencatatkan hasil bagus di tiga turnamen untuk memastikan tempat (dalam Tim Internasional), terutama pada turnamen terakhir (BMW Championship) di mana saya bermain dengan Tiger (Woods) untuk pertama kalinya, kesempatan yang sangat menantang. Saya berhasil mencatatkan sejumlah skor yang bagus untuk memastikan tempat dalam tim. Kalau bisa main dengan Tiger dan main bagus, Anda bisa main dengan siapa pun di lapangan mana pun. Percaya diri seperti itulah yang saya butuhkan untuk menjadi bagian dari Tim Internasional,” papar Pan.

“Logo (baru) dan benderanya adalah dua hal yang sangat berarti, yang menunjukkan bahwa kami adalah satu tim. Hal ini sangat penting karena kami berasal dari beragam latar belakang.” – C.T. Pan

“Royal Melbourne merupakan lapangan yang sangat menuntut permainan prima, menuntut banyak akurasi dari tee off dan pukulan approach, sesuatu yang mahir saya lakukan. Ada beberapa spot di mana pukulan Anda tidak boleh meleset dan saya sudah bermain cukup sering di sana untuk mengetahui sejumlah posisi pin. Yang lebih penting lagi, saya bakal merasa lebih nyaman bermain di lapangan tersebut. Saya takkan bermain seperti pemain yang baru pertama kali ke sana.”

Sepanjang tahun 2019 ini, Pan selalu aktif mengikuti pertemuan Tim Internasional yang digagas oleh Kapten Ernie Els. Pan, yang kini berusia 27 tahun, yakin teman-teman setimnya akan bangkit ketika dibutuhkandan memberi kemenangan bagi Tim Internasional saat menghadapi tim kuat AS. AS sendiri telah menjuarai tujuh penyelenggaraan terakhir.

“Dia (Els) telah melakukan banyak hal … menciptakan logo (tim) yang baru dan memberi bendera yang bisa kami perjuangkan. Semua ini sangatlah berarti dan Anda merasa tiap orang akan berjuang demi sesama rekannya. Logo dan benderanya adalah dua hal yang sangat berarti, yang menunjukkan bahwa kami adalah satu tim. Hal ini sangat penting karena kami berasal dari beragam latar belakang. Semangat tim kami sangat besar,” imbuh Pan.

Bagi Pan, format match play yang akan dimainkan membuat ranking dunia anggota Tim AS tak lagi penting. Alasannya, ranking dunia tersebut didasarkan pada hasil-hasil turnamen stroke play, sementara pada format match play kemungkinannya akan lebih besar lagi.

“Saya rasa kami memiliki para pemain yang tangguh untuk format match play,” tandas Pan dengan penuh percaya diri.