Jazz Janewattananond memainkan nada kemenangannya untuk makin mengukuhkan statusnya sebagai No.1 Asia musim ini.

Dari nyaris membatalkan penampilannya dalam dua turnamen terakhir, sampai menegaskan alasan mengapa ia layak menyandang status No.1 Asia musim ini, Jazz Janewattananond mengikuti jejak rekan senegaranya, Poom Saksansin, memenangkan ajang flagship Asian Tour, BNI Indonesian Masters Supported by Bank BRI & MedcoEnergi.

Delapan hole pertama di Royale Jakarta Golf Club memang menampilkan Gunn Charoenkul sebagai pesaing tertangguh Jazz. Pegolf Thailand yang baru saja sukses mempertahankan kartu Japan Golf Tour ini sempat memegang keunggulan satu stroke setelah bermain 2-under di tiga hole pertama. Namun, sejak bogey di hole 4, ia tak pernah lagi dapat mengimbangi permainan rekan senegaranya yang baru saja resmi menyandang Juara Habitat for Humanity Standings Asian Tour tersebut.

Jazz memang menampilkan performa yang luar biasa pada hari Minggu (15/12) ini. Meskipun harus bersabar hingga hole 6 untuk meraih birdie pertamanya, ia menegaskan dominasinya sepanjang sembilan hole berikutnya.

Jazz telah bermain 3-under ketika pertandingan terpaksa mengalami penundaan sekitar 2 jam dan 15 menit sebelum kemudian melanjutkan dengan sebuah eagle di hole 12, birdie di hole 14 dan 15, bogey di hole 16, dan mengakhiri turnamen ini dengan birdie di hole pamungkas. Birdie di hole 18 itu seakan melegitimasi musim yang luar biasa bagi pegolf yang aslinya bernama Atiwit ini.

Melihat permainannya sepanjang 18 hole terakhir, setiap penonton yang jeli akan melihat bahwa Jazz sama sekali tidak membuang-buang pukulannya. Ia menjadi bukti dari betapa efektifnya penerapan pola “melakukan pukulan demi pukulan”. Meskipun eagle di hole 12 menjadi sebuah sinyal bahwa ia pasti memenangkan turnamen ini, Jazz menunjukkan sikap yang sangat dibutuhkan bahwa turnamen belum selesai hingga melakukan putt terakhir di hole 18.

 

“Saya tahu kalau lapangan ini bisa mengacaukan permainan Anda kapan pun itu, jadi saya tidak mengurangi fokus sampai memukul ke green di hole terakhir,” ujarnya.

“Rasanya sangat bagus bisa finis satu posisi lebih baik ketimbang tahun lalu, walaupun saya sebenarnya berharap Poom (Saksansin) bisa bermain dengan baik pekan ini, sayangnya performa dia kali ini tidak begitu bagus. Tapi saya memang ingin menang.”

Ketangguhannya itupun diakui oleh rekan mainnya. “Saya tahu mengapa ia bisa menang. Dari segi pukulan, putting dan driving, saya jauh di belakang dia. Kami memang sempat bersaing ketat untuk beberapa hole, dan kemudian setelah eagle (di hole 12) itu, dia langsung melejit. Saya pikir dia menemukan sesuatu dalam permainannya kali ini,” tutur Gunn Charoenkul.

Kemenangan Jazz ini benar-benar memberinya banyak hal. Tak hanya menegaskan alasan mengapa ia menjuarai Habitat for Humanity Standings, Order of Merit dari Asian Tour dalam kerja samanya dengan yayasan nonprofit Habitat for Humanity, tapi juga memberinya gelar Asian Tour kelima, serta ketiga pada tahun ini.

Namun, yang lebih istimewa lagi ialah bahwa kemenangannya ini memastikan ia mewujudkan impiannya menembus 50 besar dunia.

Gunn Charoenkul hanya sempat mengungguli Jazz Janewattananond dalam satu hole sebelum rekan senegaranya itu melejit dan memastikan kemenangan. Foto: Yongki Hermawan.

“Sangat menyenangkan bisa menjuarai ajang flagship Asian Tour, turnamen ini merupakan turnamen terbesar yang sepenuhnya diikuti oleh para pemain Asian Tour pada tahun ini. Dan semua pemain tangguh ada di sini, semua mereka berusaha untuk menang, dan kemenangan ini menjadi penutup musim yang sangat baik buat saya, meskipun minggu depan masih ada satu turnamen lagi (Thailand Masters).

“Bagi saya, setelah SMBC Singapore Open, saya berkata pada diri sendiri, ‘Oke, sekarang saya masuk 100 besar dunia, jadi target berikutnya ialah 50 besar dunia.’ Dan saya bisa mencapainya pekan ini, jadi target saya berikutnya mungkin adalah 40 besar dunia.”

Menembus 50 besar dunia juga berarti Jazz akan melakoni debutnya pada ajang Major ketiga dalam kariernya, Masters Tournament di Augusta National Golf Club pada bulan April 2020.

Sementara itu, Danny Masrin berhasil mencapai finis terbaiknya selama mengikuti turnamen ini. Skor total 15-under 273 juga membawanya menjadi pegolf Indonesia terbaik pada ajang ini. Rekor sebelumnya dibukukan oleh Rory Hie ketika finis T9 pada edisi 2011.

Empat wakil Indonesia lainnya mencatatkan hasil beragam dengan Joshua Andrew Wirawan menorehkan hasil terbaik finis T26 dengan skor total 7-under 281, Naraajie Emerald Ramadhan Putra finis T60 dengan 3-over 291, Elki Kow finis di posisi 67 dengan skor 294, sedangkan Benita Kasiadi finis di posisi 68 dengan skor total 296.

1 Comment

Comments are closed.