Selalu menjadi tajuk utama dalam beberapa hari terakhir, pegolf muda Australia Zach Murray menuntaskan pekan yang takkan ia lupakan ini dengan menjuarai 100th New Zealand Open. Pegolf berusia 21 tahun ini bermain dengan skor 4-under 68 untuk memastikan gelar Asian Tour pertama baginya dengan skor total 21-under 266.

Murray tak pernah melepas posisi teratas sepanjang pekan ini. Bermain di dua lapangan berbeda, Millbrook Resort dan The Hills, Murray mengawali upayanya menorehkan kemenangan di panggung besar kolaborasi Asian Tour dan ISPS HANDA PGA Tour of Australasia ini dengan menorehkan skor 8-under 63. Kala itu ia berbagi tempat teratas dengan beberapa pegolf lain sampai akhirnya menonjol sendirian dengan catatan 65 dan 70 pada dua putaran berikutnya.

Catatan skornya pada hari ketiga kemarin memang membuat posisinya terbilang tidak aman. Dengan skor 198, ia hanya unggul satu stroke dari pegolf tuan rumah Josh Geary. Dan ketika memulai putaran final hari ini (3/3), ia harus bersaing ketat tak hanya dengan Geary yang bertekad menjuarai turnamen terbuka negaranya ini, tapi juga sejumlah nama lain, termasuk Jazz Janewattananond yang bermain luar biasa hari ini.

Bermain dalam posisi yang kurang aman, Murray hanya berhasil mencatatkan birdie di hole 2, sebelum akhirnya berturut-turut menorehkan par dan mencatatkan skor 35 di sembilan hole pertamanya. Persis ketika benar-benar membutuhkannya, Murray mencatatkan birdie keduanya di hole 10. Seakan mendapat momentumnya, ia berturut-turut mencatatkan eagle-birdie-birdie dari hole 13 untuk sepenuhnya lepas dari kejaran Geary maupun Ashley Hall, yang juga berasal dari Australia.

“Saya mencatatkan nama saya sedikit di dalam sejarah, dan jelas itu sesuatu yang sangat bagus, dan saya akan kembali dan mendukung turnamen ini selama saya masih berstatus profesional!” – Zach Murray

Memasuki hole terakhir, Murray masih memiliki keunggulan tiga stroke. Namun, pukulan keduanya membuat Murray harus melakukan pukulan ketiga dari belakang menara televisi. Ia terpaksa melakukan dua putt di hole 18 itu dan harus puas mendapat bogey. Meski demikian, skor tersebut sudah lebih dari cukup untuk menjadi juara.

Kemenangan ini menempatkan Murray sebagai pegolf ketiga yang berhasil menjuarai ajang Asian Tour dengan cepat. Ajang 100th New Zealand Open ini merupakan turnamen ketiga baginya setelah bermain pada SMBC Singapore Open dan ISPS HANDA World Super 6 Perth. Dua nama lain yang langsung menang setelah lulus Qualifying School ialah Kane Webber (menjuarai Macao Open 2006) dan Todd Sinnott (Leopalace21 Myanmar Open 2017). Baik Webber, maupun Sinnott melakukannya pada turnamen kedua mereka.

“Mengawali karier profesional saya seperti ini jelas berarti besar dan bisa menjuarai 100th New Zealand Open, saya pikir kata-kata saja tidak cukup untuk menggambarkannya. Saya mencatatkan nama saya sedikit di dalam sejarah, dan jelas itu sesuatu yang sangat bagus, dan saya akan kembali dan mendukung turnamen ini selama saya masih berstatus profesional!” tegas Murray.

Murray menilai keberhasilannya memasukkan banyak putt menjadi kunci sepanjang pekan ini. Dan kemenangan ini memastikan ia bakal turun bertanding pada Maybank Championship.

“Saya super senang bisa bermain ke sana dan tak sabar untuk bermain penuh di Asia. Kemenangan ini sangatlah berarti buat saya. Pegolf profesional mana pun yang baru beralih profesional pastilah hanya ingin bermain. Saat ini saya menyukai olahraga ini dan hanya ingin main bagus,” paparnya lagi.

“Ini masih awal musim. … Kalau saya finis di posisi yang bagus di sana (Maybank Championship), saya bakal punya posisi yang lebih baik untuk menjuarai Order of Merit.” – Jazz Janewattananond

Pimpinan Habitat for Humanity Standings Asian Tour Jazz Janewattananond akhirnya memang tidak berhasil menyalip Murray. Namun, keberhasilannya finis sendirian di tempat keempat dengan skor total 269 membuatnya bisa tetap berada di jajaran atas kolektor hadiah uang. Ia memuji kedinya, Jacob, yang sangat membantunya. skor 64 tanpa bogey miliknya ditandai dengan empat birdie dan dua eagle yang ia lakukan di hole 13 dan 17

“Kedi saya, Jacob, memberi tahu saya bahwa dua eagle yang saya lakukan di sembilan hole terakhir mengingatkan dia pada sembilan hole teerakhir saya ketika main di Indonesian Masters tahun lalu. Waktu itu juga saya menuntaskan turnamen itu dengan dua eagle untuk finis di tempat kedua. Saya puas dengan permainan saya ini,” katanya.

Meski kini ia masih berada di puncak Habitat for Humanity Standings, Jazz menolak untuk membahas kemungkinan menjuarainya dan menjadi pemain No.1 Asian Tour tahun ini.

“Ini masih awal musim. Saya malah tak memikirkan hal tersebut, tapi mungkin saya punya peluang. Tergantung bagaimana saya bermain pada Maybank Championship bulan ini. Kalau saya finis di posisi yang bagus di sana, saya bakal punya posisi yang lebih baik untuk menjuarai Order of Merit,” tandasnya.

Leave a comment